Selasa, Juli 08, 2014

FIB Memilih Dekan

Oleh : Nurul M.W. Zain
Reporter : Reza Mustafa, Deviana K.,





















Bila waktu adalah rangkaian titik, inilah saat yang menjadi titik-titik akhir masa kepemimpinan Birokrasi setiap fakultas di Universitas Diponegoro (Undip), sebelum akhirnya dilakukan pergantian. Hal ini merujuk pada Surat Keputusan (SK) Rektor No. I Tahun 2010 tentang tata cara pemilihan pimpinan Undip dan Pimpinan fakultas di Undip, yakni pada Pasal 15 yang berbunyi “Pengusulan pengangkatan Dekan didasarkan pada hasil pemilihan dan pemberian pertimbangan Senat Fakultas.” didukung Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi “Pemilihan dan pemberian pertimbangan serta penetapan nama calon Dekan dilakukan melalui rapat Senat Fakultas yang khusus untuk maksud tersebut selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum masa tugas Dekan berakhir.”

“Dalam kepanitiaan Pildek ada ketua, sekretaris, dan lima Orang anggota, Saya sebagai ketua, dan Bu Yaning sebagai Sekrataris”, Papar Yety Rochwulaningsih saat ditemui tengah bersama Sukarni Suryaningsih di ruang Pusat Studi Asia (PSA) Gedung B FIB. Lebih lanjut wanita berambut pendek ini menjelaskan bahwa lima orang yang menjadi anggota adalah Prof. Iriyanto Widisuseno, M. Hum., Drs. Muhammad Muzakka, M. Hum., Dra. Rukiyah, M. Hum., Dr. Alamsyah, S.S., M. Hum., dan dari Kepala Tata Usaha ada Tri Wardoyo.”
Saat kami konfirmasi mengenai persiapan Pildek beliau menjawab persiapannya baru sampai pada tahap pemilihan anggota, rencananya bulan Juli minggu pertama akan diselenggarakan rapat panitia guna menentukan hal-hal yang terkait Pildek. Yety juga menuturkan persyaratan menjadi calon dekan yang paling utama adalah sudah mempunyai pengalaman struktural sebagai Ketua atau Sekretaris Jurusan/Prodi, kemudian jabatan fungsional minimal Lektor Kepala, pada saat mendaftar menjadi Balon (Bakal Calon) Dekan, usianya belum mencapai 60 tahun, masalah pendidikan pihak Universitas belum mensahkan, tetapi dalam statuta perguruan tinggi sudah ada rencana pendidikan minimal Strata 3. Ketika ditanya harapan ke depannya, Yety dan Yaning berharap dekan yang kelak terpilih dapat membawa fakultas ke jenjang yang lebih baik, dan punya rasa keberpihakan terhadap yang dipimpin.
Iriyanto Widisuseno,  Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Bahasa Jepang menyampaikan penjelasannya mengenai mekanisme pemilihan Dekan FIB saat Tim magang Hayamwuruk (Hawe) temui di kantornya. Iriyanto menuturkan mekanisme Pemilihan Dekan (Pildek) mengacu pada tradisi Universitas dan fakultas, yakni yang pertama dilakukan adalah penyusunan Tim panitia pemilihan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjaringan siapa yang mau mencalonkan. Iriyanto juga menambahkan kriteria Dekan harus mencakup dua aspek, yaitu aspek akademis dan aspek non akademis. Aspek akademis sendiri dilihat dari standar minimal jenjang pendidikan, sedangkan aspek non akademis ditinjau dari integritas moral.

Rukiyah, Salah satu anggota panitia memaparkan, Pildek dilaksanakan setiap bulan Agustus, anggotanya berjumlah minimal lima orang, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan selebihnya menjadi anggota. Ketua dan Sekretarisnya harus berasal dari Senat Fakultas, sedangkan anggotanya diambil dari Senat Fakultas, Dosen, dan tenaga pendidikan. Rukiyah menambahkan setelah Balon dekan mencalonkan diri dan dipilih oleh Senat Fakultas, lalu yang terpilih mensosialisasikan visi dan misinya.

Mekanisme Pildek yang diselenggarakan FIB tak jauh berbeda dengan Fakultas lain. “Karena memakai Undang-Undang (UU) yang sama, maka setiap fakultas sistemnya sama.” Demikian menurut Ngadiwiyana selaku Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Sains dan Matematika (FSM). Beliau mengungkapkan Dekan merupakan Idol yang pasti bisa mengembangkan fakultas, selain itu juga harus sejalan dengan Visi dan Misi Undip, sehingga sinkron dengan Universitas. Ngadiwiyana berharap untuk Dekan yang terpilih kelak bisa menjadi Top Leader di masing-masing fakultas, dan tidak sekadar menjadi pimpinan, tetapi benar-benar bisa mengoptimalkan sumber daya dan mengembangkan semua yang bisa dikembangkan. Dosen, Karyawan dan Mahasiswanya diberi ruang untuk berkembang. Beliau juga berpendapat, bahwa Mahasiswa tidak perlu turut serta dalam Pildek maksudnya disini yang penting bukan fisiknya yang langsung memilih, tetapi bagaimana  aspirasi Mahasiswa bisa masuk ke sana, karena dalam aturan Mahasiswa tidak bisa.

Suharyo, selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia berpendapat, mengenai mekanisme Pildek di FIB sudah merujuk terhadap aturan yang sudah ada. Tetapi, ketika beliau ditanya mengenai peranan mahasiswa dalam Pildek, Lelaki berkumis ini menuturkan, secara normatif mahasiswa belum bisa memilih secara langsung, karena dalam aturan yang sudah ada tadi, dekan hanya dipilih oleh anggota senat fakultas. Walaupun begitu, pihaknya cenderung senang jika melibatkan Civitas akademika, karena tingkat legitimasinya akan semakin kuat dibanding jika hanya dari anggota senat fakultas.

Belum semua mahasiswa FIB mengetahui perihal Pildek yang akan dilaksanakan akhir tahun ini, Andre findy misalnya, Mahasiswa S1 Sastra Indonesia 2013. “Kurang paham, saya kurang mengetahui tentang permasalahan ini, tapi saya berharap dekan yang akan terpilih nanti lebih bisa transparan terhadap lingkungan kampus, dan dapat merangkul mahasiswa, itu saja sudah cukup.”, ungkap Andre. Dirinya juga berharap mahasiswa bisa terlibat dalam mekanisme Pildek kelak.

Jika menilik ulang makna yang terkandung dalam SK Rektor di atas, mahasiswa memang tidak dapat terlibat secara langsung dalam Pildek. Namun mahasiswa diharapkan untuk tidak berpangku tangan menunggu keputusan saja. Mahasiswa harus terus menyuarakan aspirasinya agar sampai ke telinga pemegang birokrasi kampus. Bukanlah suatu kemustahilan jika aspirasi mahasiswa dapat berpengaruh dan mempunyai andil yang besar dalam Pildek kali ini.***

Baca Selengkapnya......

Kamis, Juni 26, 2014

Sabung Ayam; Tradisi atau Judi?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Elly R., Kaesthi






Kota Lama, Semarang (27/4),Suasana terik tak membuat kami gentar untuk menyusuri Kota Lama yang terkenal dengan banyak sejarah. Gedung-gedung putih yang tak terurus dan merupakan peninggalan Belanda itu menyisakan banyak cerita dan budaya. Salah satunya di sudut jalan dekat Gereja Blenduk tampak ramai dengan lalu lalang orang yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki.
Awalnya kami ragu-ragu untuk mendatangi kerumunan itu. Namun setelah bertemu dengan Muhyan (50) seorang petugas parkir, keragu-raguan kami menghilang.Ternyata keramaian di sana dikarenakan orang-orang yang tengah melestarikan budaya Ciung Wanara (sabung ayam).
Budaya Ciung Wanara ini bermula dari sebuah legenda di Kerajaan Galuh. Walaupun kebudayaan ini bukan berasal dari Semarang namun tradisi ini masih berlangsung hingga kini.  Muhyan (50) memaparkan bahwa adu ayam ini selain untuk melestarikan budaya juga merupakan hobi yang bisa menyegarkan pikiran setelah penat bekerja seminggu penuh. Maka tak heran jika setiap hari Minggu adalah hari yang paling ramai dikunjungi pemain dan juga penonton serta penjual, dimulai dari pagi hari hingga jam lima sore. Biasanya waktu paling ramai adalah ketika jam sebelas siang. Penonton tidak  hanya dari Kota Semarang saja tapi juga banyak dari kota lain di Jawa Tengah.
Untuk kriteria ayam yang sering diadu, Kristianto (34), seorang penjual ayam mengatakan bahwa ayam jago adalah ayam yang paling digemari oleh pemain. Harga ayam berkisar antara Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000. Harga ayam akan lebih tinggi jika ayam tersebut selalu menang. Kristianto menjelaskan bahwa ia bisa menjual 20-25 ekor ayam dalam sehari. Ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap sabung ayam relatif tinggi.
Haryono (61) penonton, mengatakan bahwa  dia ikut menonton sabung ayam ini dikarenakan hobi. Banyak orang mengira bahwa Ciung Wanara ini seperti judi dan dipandang sebelah mata. Menurutnya ayam ditandingkan di sini hanya untuk percobaan saja dan untuk menyalurkan hobi, bukan untuk judi.
Ketika kami mencari informasi lebih lanjut, banyak narasumber yang enggan memberikan informasi. Bahkan saat kami mewawancarai Kristianto, Lelaki be berkata “Ini nggak diekspos kan?” berbeda dengan pemaparan yang diuraikan Muhyan (50), “Sekarang ini banyak kebudayaan kita yang dianggap seperti gimana, padahal budaya itu harus dilestarikan, kayak di Jawa Barat adu domba. Itu mereka dilindungi, jadi itu tergantung lingkungan. Karena disini tidak mengganggu maka tidak pernah ada polisi yang datang”.
Dari dua pemaparan  mengenai sabung ayam ini maka kami kembalikan lagi pada pembaca. Apakah sabung ayam ini benar-benar sebuah tradisi turun-temurun atau menjadi sebuah ajang perjudian?***





Baca Selengkapnya......

KOSTI; Bernostalgia dengan Onthel


Oleh : Deviana K.
Reporter : Shofiana, Rohmad








Semarang, Minggu (27/4),Waktu menunjukkan pukul 09.45 pagi ketika kami, peserta magang madya Hayamwuruk sampai di Kota Lama. Kemudian kami mengunjungi taman yang terletak di sebelah gereja Blenduk. Suasana di sana terlihat sangat ramai dengan adanya Pasar Klithikan yang menjual barang-barang antik di samping timur.
Sesampainya di taman, perhatian kami langsung tertuju pada kumpulan orang yang mengenakan pakaian zaman dulu seperti pada masa penjajahan. Ada yang memakai seragam kompeni, tentara Jepang, bahkan pakaian ala pribumi seperti kebaya. Saat kami menghampiri dan menemui salah satu dari mereka, ternyata mereka adalah Komunitas Sepeda Onthel Semarang.
Kami berkesempatan menemui ketua komunitas, Fauzi, yang saat itu mengenakan kostum tentara Sekutu. Komunitas yang kami temui ini berada di bawah naungan KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). “Kalau yang di Jakarta itu KOSTI Pusat, kalau yang ada di Jawa Tengah atau Jawa Timur itu KOSTI Provinsi. Kalau KOSTI yang di Semarang itu KOSTI Perwil Semarang yang menaungi tujuh sampai delapan komunitas sepeda onthel di Semarang,” ungkapnya.
Komunitas ini dibentuk dengan tujuan melestarikan eksistensi sepeda onthel sekaligus mengenang masa-masa perjuangan yang diwujudkan dalam bentuk komunitas onthel. Kegiatan ini diharap mampu  menghidupkan kembali kecintaan terhadap sepeda onthel khususnya di daerah Semarang.
KOSTI Semarang didirikan tahun 2010, tepatnya pada saat Festival Kota Lama I. Walau tergolong baru, pada tahun keemapatnya komunitas tersebut telah memiliki 300-400 anggota. Anggotanya terdiri dari pelbagai kalangan baik muda maupun tua. “Kami tidak berasal dari kalangan tertentu, tidak membedakan tua atau muda apalagi kasta-kastaan. Lihat saja di sana ada yang masih muda dan bahkan tua sekalipun,” kata Fauzi sembari menunjuk ke arah anggota-anggotanya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KOSTI Semarang meliputi kegiatan touring seminggu sekali yang dimulai dari kawasan Simpang Lima. Selain itu, ada juga event yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali dengan touring ke berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Purwodadi, Grobogan, dsb. Komunitas ini juga sering berpartisipasi dalam berbagai acara di kota Semarang,  seperti dalam Festival Kota Lama yang diselenggarakan oleh Oen Foundation. KOSTI juga sempat diundang pada salah satu acara  AIESEC  UNDIP.
Dalam melakukan kegiatan, mereka selalu memakai pakaian zaman perjuangan dulu. Menurut penuturan Fauzi, hal itu merupakan  sebuah kebanggaan terhadap warisan budaya, Meskipun terbilang mahal, mereka tetap mengenakan pakaian tersebut. “Kostum yang kayak gini aja delapan ratus ribu lho.” tutur beliau sambil menunjuk kostum yang dikenakan.
Siapapun boleh bergabung dengan komunitas ini  tetapi dengan syarat harus memiliki sepeda onthel terlebih dahulu. Jika sudah memiliki sepeda maka dapat bergabug dalam event-event KOSTI yang diadakan rutin seminggu sekali, di tempat-tempat yang telah disepakati. Bagi yang ingin bergabung dapat mendatangi kantor sekretariat KOSTI di daerah Suyudono, Semarang.
Selain Fauzi, terdapat wisatawan lain yang berkunjung ke Kota Lama. Supardi, wisatawan asal Tlogosari berkomentar mengenai keberadaan KOSTI Semarang. Ia mendukung adanya komunitas ini karena bisa melestarikan warisan masa lampau. “Ya, bisa nostalgia dan mengenang kembali zaman-zaman perjuangan.” Ia juga mengaku memiliki sepeda tapi bukan onthel. “Saya punya sepeda, tapi bukan onthel melainkan sepeda biasa,” ungkapnya sambil tertawa.
Lain lagi dengan Novi, wisatawan asal Pedurungan. Ia tidak begitu tahu tentang KOSTI tapi ia mendukung pula keberadaan komunitas ini. “Mereka disini, ya, ngumpul-ngumpul sesama penyuka barang antik. Saya mendukung komunitas ini karena saya sendiri juga suka barang-barang klasik,” tuturnya. ***

Baca Selengkapnya......

Minggu, Juni 22, 2014

Gandeng Pol-Tracking Institut, Sospol BEM KM Selenggarakan “Bedah Visi-Misi Capres-Cawapres 2014”

Oleh : Hendra Friana









Rabu pagi (18/6) halaman parkir gedung Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum (LPPU) Undip terlihat ramai oleh kendaraan. Beberapa mahasiswa terlihat mengantri di pintu masuk aula utama gedung LPPU Undip, untuk mengikuti acara bedah visi-misi dan rekam jejak Capres dan Cawapres 2014. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Sosial-Politik (Sospol) BEM KM Undip, bekerja sama dengan Political-Tracking Institute.  Meskipun sempat tertunda selama dua hari karena kendala teknis, acara tersebut tidak kehilangan antusiasme dari kalangan mahasiswa Universitas Diponegoro. Terlihat dari hampir penuhnya bangku-bangku yang disediakan oleh panitia.

Acara yang mengangkat tema “Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan Yang Bersih, dan Kepastian Hukum” ini dimoderatori oleh Hanta Yuda A.R selaku Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute dan menghadirkan perwakilan tim pemenangan dari masing-masing Capres-Cawapres 2014. Dari kubu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yaitu Tanto Wiyahya sedangkan dari kubu Joko Widodo dan Jusuf kalla yaitu Ferry Mursidan Baldan. Selain itu, hadir pula ketiga panelis, yang akan menguji pendalaman visi-misi masing-masing kubu, yaitu: Drs. Warsito, Pembantu Rektor III; Prof. Suteki, Guru Besar Fakultas Hukum Undip; dan Taufik Aulia Rahmat, Presiden BEM KM Undip.

Dalam sambutannya Hanta Yuda mengatakan, Berdasarkan survei yang dilakukan Pol-Tracking Institute, informasi yang paling penting dibutuhkan masyarakat yang pertama adalah visi, misi dan program kerja kedua pasangan Capres dan Cawapres secara detail dengan persentase 36%, disusul dengan rekam jejak kedua pasangan Capres dan Cawapres sebesar 35%, dan yang lainnya seperti latar belakang keluarga dan partai pengusung dibawah 20%. Oleh karena itu, Poltracking Institute bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia mengadakan acara bedah visi-misi dan rekam jejak Capres dan Cawapres 2014. Ia juga berpendapat jika debat capres dan cawapres diselenggarakan di perguruan-perguruan tinggi Indonesia dan diuji oleh pakar-pakar, guru besar dan mahasiswa yang ada maka jalannya debat mungkin dinamikanya akan jauh lebih menarik ketimbang yang ada sekarang ini.
Acara ini dibagi menjadi lima sesi. Pertama, penyampaian visi dan misi oleh kedua perwakilan timses; kedua, pendalaman materi dari moderator kepada kedua perwakilan timses; ketiga, pertanyaan panelis terhadapa kedua perwakilan timses; keempat, sesi tanya jawab antar perwakilan timses; dan kelima tanya jawab antar peserta acara dengan perwakilan timses.

Hanta Yuda selaku moderator melontarkan pertanyaan untuk mengupas lebih dalam visi dan misi dari masing-masing kubu untuk memilihi mana yang lebih utama antara demokrasi dengan kesejahteraan.
Ferry dari kubu Jokowi dengan tegas mengatakan kesejahteraan yang lebih utama. “Kesejahteraan! sejahtera menimbulkan sikap yang demokratis, toleran, peduli dan suka menolong orang lain” ujarnya.
“Definisi dari sejahtera adalah rakyat ketika kebutuhan sandang, pangan dan papan terpenuhi plus ada tabungan sehingga mereka bisa berpergian, berkreasi dan berekreasi. Indonesia melalui prabowo hatta ingin menggunakan demokrasi untuk mencapai kesejahteraan, dan yang kami inginkan adalah rakyat sejahtera dan hatinya bahagia tidak ada tekanan, tidak ada hak-hak yang diambil”, timpal Tantowi Yahya.
Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh ketiga panelis terkait pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih dan kepastian hukum pada sesi kedua. Di sela pemaparannya tentang Politik transaksional dan kedaulatan ekonomi kontrak kerja dan bagi hasil, Tantowi menjelaskan tentang masalah renegosiasi terhadap kontrak bagi hasil dengan perusahan-perusahaan pertambangan yang telah disepakati namun kurang menguntungkan bagi masyarakat. Ia mengatakan bahwa kontrak atau agreement bukanlah Al-Quran yang tidak dapat diubah. Karena kontrak merupakan kesepakatan antara dua pihak, kalau pihak yang melakukan kontrak dengan kita berpikir bahwa setuju untuk melakukan renegosiasi demi menjaga hubungan baik, maka tidak ada yang salah dengan itu. Itulah yang akan dilakukan prabowo-hatta dalam rangka memperkuat kedaulatan ekonomi jika terpilih pada 9 juli mendatang.

Sedangkan dari kubu Jokowi-JK, Ferry memaparkan bahwa revolusi mental adalah kebutuhan kita pada saat ini, karena hanya dengan revolusi mental kita bisa mengatasi problema kita yang makin lama makin akut yaitu korupsi. Dan hal tersebut telah dimulai oleh Jokowi saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta yaitu dengan sistem “lelang jabatan”. Menurutnya, hal ini merupakan langkah awal yang telah dilakukan oleh pak Jokowi dalam mencegah politik transaksional.

Taufik Aulia Rahmat ketua BEM KM Undip yang juga menjadi salah satu panelis memanfaatkan kesempatan pada sesi ini untuk menantang perwakilan dari kedua kandidat berjanji jika nanti salah satu kandidat telah terpilih menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia untuk mau berdiskusi dengan mahasiswa dalam masa pemerintahan. Tantangan tersebut kemudian dijjawab tegas oleh kedua kubu. “Siap” kata Tantowi dan “no problem, kami memang membutukan itu” ujar Ferry. Tentunya hal ini disambut dengan gegap-gempita oleh tepuk tangan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut.

Di sesi Tanya Jawab antara peserta dengan perwakilan timses, pertanyaan terkait isu investasi asing yang memasuki pemilu di Indonesia digulirkan oleh salah satu mahasiswi Ilmu Pemerintahan Undip. Ferry menjelaskan bahwa mungkin saja itu terjadi. Tapi menurutnya dengan Nasionalisme pada kubu masing-masing Capres dan Cawapres  hal-hal seperti itu dapat ditangkal. Sedangkan Tantowi mengutip ungkapan bungkarno “yang tidak dicintai oleh Negara asing karena dia akan menyelamatkanmu, jangan pilih presiden yang disukai asing karena justru dia yang akan memperdayaimu”. Menurutnya adanya upaya-upaya yang dilakukan pihak asing melalui lembaga-lembaga survey dan LSM-LSM asing terntentu untuk menurunkan dan menghalangi elektabilitas Prabowo karena mereka takut jika Indonesia dipimpin oleh Pemimpin yang kuat, tegas, berwawasan luas merekas sulit untuk berkreasi dalam mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia.

“Apakah anda sekalian tidak berpikir, Amerika dan Kanada yang mempunyai investasi besar Freeport dan New moon gugup jika yang menjadi presiden nanti Prabowo Subianto. Kita bukan sedang sekedar memilih kepala daerah yang cangkupan wilayahnya hanya 600km² tapi kita mencari presiden RI dengan penduduk 240 juta jiwa yang luas wilayahnya dan sumber daya alamnya luar biasa melimpah. oleh karena itu kita membutuhkan pemimpin negara yang kuat, interkreatif, berwawasan luas dan mengerti persolalan baik dalam maupun luar negeri”, Imbuhnya.

Di akhir acara para panelis mengingatkan perwakilan dari masing-masing timses untuk tetap memegang teguh komitmen yang telah mereka buat ketika salah satu capres dan cawapres yang mereka usung terpilih pada tanggal 9 Juli mendatang. Taufik Aulia Rahmat juga kembali mengingatkan kedua kubu untuk tidak mengekang gerakan mahasiswa dan janji mereka untuk mau duduk berdiskusi dengan mahasiswa jika salah satunya nanti telah terpilih menjadi presiden RI. “Siapapun yang akan terpilih nanti pada 9 juli mendatang, jangan pernah mengekang gerakan mahasiswa, karena semakin dikekang, semakin kuatlah kita. dan jangan lupa janji bapak-bapak ini untuk mau head to head berdiskusi dengan mahasiswa jika nanti terpilih disaksikan oleh ribuan pasang masa yang hadir di sini. Jangan sampai kepemimpinan bapak-bapak sekalian akan kami gulingkan kembali seperti yang terjadi tahun 1998”, ujarnya.

Yuda, salah satu peserta yang merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang mengaku tidak menyesal datang pada pagi itu dari Gunung Pati ke Tembalang. “Acaranya sangat bagus untuk mahasiswa, karena kan sekarang ini media-media suka tidak objekitf dalam menyiarkan berita, jadi acara seperti ini sangat penting untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kedua kandidat capres dan cawapres daplam memahami persoalan Negara. Dan benar kata mas Yuda tadi, kalau saja debat capres cawapres diadakan di kampus-kampus pasti akan lebih seru” imbuhnya.***

Baca Selengkapnya......

Senin, Juni 16, 2014

Penerus Bangsa: Korban Kekerasan Seksual, Pantaskah?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Listi Athifatul U.











Gedung  Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum (LPPU) yang biasanya tampak lengang itu terlihat  berbeda pada Kamis (12/06/2014) sekitar pukul 12.00 WIB. Banyak motor mahasiswa berjajar rapi di tempat parkir. Apabila diperhatikan lebih seksama di salah satu pohon yang tumbuh di dekat  tempat parkir terdapat tanda panah yang menunjukkan jalan agar para mahasiswa mengambil jalan lurus. Setelah berjalan kira-kira tiga ratus meter terdapat tanda panah yang kedua. Berbeda dengan penunjuk arah yang pertama, yang kedua ini mengarahkan para mahasiswa untuk berbelok ke arah kiri dan di ujung tangga  terdapat kertas bertuliskan diskusi panel di lantai tiga. Di lantai tiga sayap kiri gedung LPPU tengah berlangsung acara diskusi panel. Acara ini diawali dengan persembahan tari jawa yang kemudian dilanjutkan dengan tari saman dari daerah Nanggroe Aceh Darusalam. Kedua tari ini dibawakan para mahasiswa Sastra Indonesia, mengingat diskusi ini adalah salah satu kegiatan yang diadakan HMJ Sastra Indonesia atau KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia). Untuk tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah “Pemanfaatan Sastra Anak sebagai Media Untuk Penanggulangan Kekerasan Seksualitas Terhadap Anak.”

Dian Wahyu selaku ketua panitia menjelaskan bahwa acara ini  diselenggarakan bertepatan dengan peringatan hari Anak Nasional tanggal 1 Juni lalu. Ninik salah satu pembicara dari Seruni (Badan perlindungan Anak dan Wanita) menyampaikan bahwa definisi anak menurut hukum positif di Indonesia itu berbeda-beda. Jika bicara mengenai perkawinan, maka mengacu pada undang-undang no 1  tahun 74. Di mana perempuan dapat menikah pada umur enam belas tahun, dan laki-laki berumur sembilan belas tahun. Ketika mengacu pada UU pemilu, maka warga negara yang bisa menggunakan haknya untuk memilih adalah pada umur tujuh belas tahun. Namun jika membahas tentang hak anak maka akan mengacu pada undang-undang  perlindungan anak no 23 tahun 2002 yang dimaksud anak adalah anak-anak di bawah umur delapan belas tahun.

Dian wahyu juga menambahkan bahwa kekerasan seksual yang akhir-akhir ini marak terjadi tidak hanya menimpa anak-anak yang berada di kota Semarang.  Persoalan ini hampir menjadi kriminalitas nasional karena nyaris terjadi  di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja masalah JIS (Jakarta Internasial School), dan juga Emon yang memperkosa 100 anak-anak sebagai korbannya, kata Dian Wahyu menambahkan.

Untuk di daerah Semarang sendiri hal itu dibenarkan oleh Ninik bahwa dalam bulan Januari sampai bulan Juni terdapat 18 pengaduan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Empat di antaranya dilakukan oleh ayah tiri, satu anak dilakukan oleh ayah kandung, satu anak oleh tukang ojek, dan yang lainnya oleh kerabat dekat si anak.

Dini Ratrie Desi Ningrum salah satu dosen dari fakultas Psikologi yang juga menjadi pembicara menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena banyak anak-anak tidak memiliki pengetahuan tentang  anggota tubuh mereka sendiri. Selain itu pihak orang tua masih menganggap bahwa pengetahuan seksual, dalam kasus ini anggota tubuh anak mereka merupakan  hal yang tabu untuk dibicarakan. “Karena masih tabu, kenapa kita nggak manfaatin sastra saja untuk memberikan pengertian tersebut di benak anak-anak?” Kata Dian Wahyu lagi menyampaikan alasan kenapa diskusi panel ini diadakan.

U'Um Qomariyah pembicara yang ketiga dan merupakan dosen Sastra Indonesia Universitas Semarang juga menjelaskan bahwa, dengan sastra kita tidak perlu membayar mahal untuk mengetahui sesuatu. Contoh konkritnya adalah, untuk tahu bagaimana rasanya menjadi koban kekerasan seksual pada anak-anak, kita tidak perlu menjadi korbannya. Hanya dengan mengkonsumsi sastra, maka kita akan tahu. Sastra yang dimaksud di sini bukan hanya buku-buku yang harus dibaca melainkan juga video yang bisa dilihat. Maka hal ini bisa menjadi cara yang efektif untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang bagaimana menjaga diri. “Sastra itu kan menarik dan bermanfaat. Arti bermanfaat itu sangat luas, salah satunya ketika kita kaitkan dengan anak untuk mengatasi krisis moral dan untuk meningkatkan karakter anak, maka sastra bisa menjadi alternatif yang saya kira mempan” tambah U'um menambahkan.

Siti Metylasmita mahasiswa jurusan Pendidikan dan Sastra Indonesia, Universitas Semarang yang menghadiri acara diskusi panel ini mengatakan  “Tema yang diangkat ini fresh. Baru.  Apa ya? Saya juga perlu tahulah kan dulu saya juga pernah belajar sastra anak. Di diskusi ini saya pengen tahu selain kan kalau dulu sastra anak itu pasti lebih menjurus ke sastranya. Sastra yang diajarkan kepada anak-anak. Sastra yang boleh diajarkan kepada anak-anak itu yang bagaimana. Kalau di sini kan lebih luas lagi bahannya. Tentang pertumbuhan anaknya, psikologi anaknya. Apalagi kemarin kan ada kasus yang ada di JIS.  Jadinya kan keren banget temanya kalau kayak gini.”***

Baca Selengkapnya......

Minggu, Mei 11, 2014

SAYEMBARA TTS HAWE APRIL 2014

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Mei 10, 2014

"Read, Know, Share" ; Langkah Kecil Semangat Kecil Bangkitkan Semangat Indonesia Membaca




Oleh : Farida S.D.
Reporter : Novia R., Fakhrun Nisa, Citra P.R.




Suasana Kegiatan Sosialisasi "Read, Know, Share" di Lapangan Widya Puraya



Jumat (25/04/2014), sekitar  pukul 07.25 WIB, jalanan di sekitar gerbang utama Undip terlihat ramai seperti biasa. Lalu lalang kendaraan bermotor tak henti melalui pintu gerbang, namun agak tersendat di perempatan Peternakan-Sipil. Tampak dua orang satpam tengah sibuk mengalihkan para pengendara agar melewati belokan Sipil atau Peternakan dan menutup bulevar utama Undip dengan menggunakan portal bertuliskan Car Free Day. Ya, Car Free Day (CFD) Undip tengah berlangsung pada pagi itu. Acara ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh universitas setiap Jumat pagi, dan selalu diikuti warga Undip. Para peserta CFD kemudian menuju lapangan Widya Puraya, untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya.

CFD kali ini menjadi seremoni Undip untuk memperingari Hari Bumi Internasional 22 April lalu. Namun tak hanya memperingati itu, tampak pula keriuhan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Perpustakaan (Ilpus) dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang juga turut serta merayakan acara andalan mereka, yakni “Read, Know, Share” (RKS) dalam rangka Hari Buku Sedunia di lokasi dan acara yang sama.
Event RKS hari itu terdiri dari berbagai tahapan. Alur acara diawali dengan jalan bersama yang diikuti oleh mahasiswa Ilpus dan beberapa perwakilan dari jurusan lain di FIB. Rute jalan bersama ini mengikuti rute CFD yang dimulai dari Bundaran depan Gerbang Undip disertai dengan orasi mahasiswa. Kemudian rute berakhir di lapangan Widya Puraya untuk acara senam bersama.

Seusai senam, Pembantu Rektor III, Drs. Warsito, SU., selaku perwakilan Rektor yang berhalangan hadir kala itu, memberikan sambutan dan membuka acara.  Ia mempersilakan perwakilan HMJ Ilpus, Erwan Setia Budi, untuk mensosialisasikan  program RKS yang merupakan salah satu dari program kerja HMJ ini. Lelaki yang kerap disapa Erwan ini memaparkan bahwa RKS  merupakan program untuk mengkampanyekan minat baca di masyarakat, dan akan dirangkai kembali pada tanggal 18 Mei mendatang dalam Car Free Day Semarang di kawasan Simpang Lima.

Peringatan Hari Buku sendiri sebenarnya jatuh pada hari Rabu, 23 April lalu. Dan kabarnya, acara RKS ini pun seharusnya diselenggarakan pada hari itu. Ketika ditanya perpindahan hari tersebut, Agus, ketua HMJ Ilpus periode 2014-2015, mengakui bahwa hal itu demi keefektifan acara. “Disaranin ikut Car Free Day hari jumat aja waktu bareng-bareng sama universitas. Jadi massanya lebih banyak dan juga antusiasme mahasiswanya lebih banyak. Kalo hari rabu itu kan sedikit. Nggak terlalu banyak kayak gini.”

Senada dengan Agus, Septiani Puji Rahayu, ketua panitia RKS sendiri mengungkapkan bahwa pemunduran acara RKS untuk peringatan Hari Buku Sedunia ini merupakan rekomendasi dari pihak universitas. “Sebenernya konsep awal kita kan gak kayak gini gitu lho. Konsep awal kita tuh e…kemarin tanggal 23, cuma karena dari pihak rektorat tidak mengizin, bukan tidak mengizinkan, lebih merekomendasikan kalo diadakan hari jumat, jadi kita itu mengatur ulang lagi…apa…jadwal yang seharusnya kita laksanain kayak gitu, jadi mundur. Terus, e..acaranya juga kita ubah , bukan yang kayak waktu tanggal 23.”

Kendati acara dipindahkan dari hari Rabu ke Jumat, mahasiswi Ilpus angkatan 2013 ini menyatakan bahwa acara RKS terbilang sukses dan lancar. Meski di sisi lain  ia juga menyayangkan, karena target menggandeng mahasiswa FIB dari setiap jurusan kurang begitu maksimal. Ia mengakui bahwa acara yang ia gawangi bersama rekan-rekannya ini memang terkesan mendadak dan masih kurang dalam publikasi. Belum lagi beberapa pihak yang menolak bekerjasama dengan mereka dan pendanaannya yang mandiri. Oleh karenanya, penggabungan acara yang diusulkan oleh pihak rektorat tersebut ternyata cukup membuahkan hasil dengan diikuti banyaknya massa dan sekaligus menambah informasi bagi  mahasiswa diluar FIB mengenai program mereka.

Menambahkan Erwan, Agus menyatakan acara ini memang dibagi menjadi dua sesi yang berkelanjutan. Sesi pertama, yakni pada Jumat itu merupakan sesi kampanye untuk memperingati Hari Buku Internasional di lingkup universitas. Sedangkan pada sesi terakhir, yang akan diselenggarakan pada tanggal 18 Mei mendatang, akan ada  pembagian buku gratis hasil donasi mahasiswa dari setiap fakultas di Undip sejak 9 April 2014.

Rencananya, buku-buku yang terkumpul tersebut akan dipilah terlebih dahulu, sebagian akan dibagikan kepada peserta CFD di Simpang Lima, dan sebagian lain akan didistribusikan ke beberapa perpustakaan komunitas di Semarang, seperti perpustakaan Sahabat Pulau, Rumah Pintar (Rumpin), dan beberapa Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh mahasiswa Ilpus.

Target mereka di CFD adalah para peserta yang sebagian besar adalah masyarakat ekonomi menengah atas. “Mungkin, terkesan sombong gitu ya bagi-bagi buku kepada kalangan menengah ke atas, kan biasanya ke CFD itu menengah keatas. Tapi itu tuh sebagai wujud sindiran kalo mereka itu selama itu sangat tidak peduli dengan baca buku, sangat tidak peduli dengan dunia pendidikan kayak gitu lho. Dan harapannya kita dengan adanya aksi kita bagi-bagi buku itu jadi tren baru gitu kan?” ujar Septi ketika ditanya mengenai tujuan RKS ini. Ia merasa miris dengan kondisi minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Menurut sumber survei yang mereka peroleh, Indonesia berada di peringkat 39 dari 41 negara yang memiliki kebiasaan membaca buku dalam satu tahun. Jika dibandingkan dengan Malaysia jumlah buku yang dibaca orang Indonesia adalah 1:4 buku per tahun. Sebagian besar karena masyarakat cenderung meremehkan pentingnya membaca buku, terutama kalangan remaja yang lebih asyik berkutat dengan  gadget-nya dari pada memegang buku. Berkaca dari acara “Kick Andy”, ia berharap dapat menciptakan tren baru disamping pemberian doorprize yang lazim dilakukan media lain.

Maka dengan adanya program RKS ini, mereka berharap minat baca di kalangan mahasiswa, masyarakat umum, baik muda tua bisa meningkat, sehingga masyarakat Indonesia dapat berkembang pemikirannya. “Dari Kick Andy, setiap orang yang nonton di Kick Andy itu kan dapet, ini kan dapet buku. Nah kita itu pengennya juga gitu. Nanti besok-besok orang, bagi-bagi itu bukan bagi-bagi uang, bukan bagi-bagi makan, bukan bagi-bagi apa, tapi besok-besok bisa bagi buku gitu lho. Kan itu sumber pengetahuan ya mbak. Jadi itu ya pengetahuan itu, bisa lebih banyak yang tahu kayak gitu lho. Informasi-informasi baru, informasi-informasi terkini orang-orang itu bisa lebih banyak yang tahu gitu. Kan kayak acara kita itu Read, Know, Share ; Baca, Tahu, Sebarkan. Setelah kita membaca, kita mau tahu itu terus kita share sama orang lain gitu lho. Kayak gitu…”***

Baca Selengkapnya......

Mencari Staf Ahli

Oleh : Annisa Intan P.
Reporter : Indah Zumrotun, Mitra Sari






Suatu siang di mading depan ruang A.3.9, seseorang berdiri untuk mencari informasi. Memang, mading adalah wadah sederhana bagi suatu Lembaga Kemahasiswaan (LKM) untuk menyampaikan hal-hal penting terkait organisasi yang melibatkan mahasiswa. Meski dalam perjalanannya apa yang terpampang di mading tidak terbatas pada pengumaman akademik atau organisasi saja, tetapi juga pemberitahuan seputar event, beasiswa serta hal-hal persuasif lainnya.

Pada hari yang berbeda, seseorang menemukan pamflet warna hijau bergambar laki-laki dan perempuan tengah menenteng berkas. Bukan warna mencolok atau ilustrasi pamflet yang membuat dia terkejut, akan tetapi esensinyalah, terlebih tajuk besar berjudul “Open Recruitment Senat Mahasiswa FIB Undip.” Beberapa hari kemudian pamflet tersebut bertebaran di media sosial terutama grup-grup yang mengusung nama FIB sebagai naungannya.

Di luar yang berminat, mungkin sebagian orang bertanya-tanya, Senat Mahasiswa yang notabene dewan perwakilan mahasiswa dengan fungsi legislasinya perlukah mengadakan Open Recruitment (Oprec)? Mengingat bahwa sebagai dewan perwakilan, Senat Mahasiswa (Sema) memiliki mekanisme perekrutan anggota tersendiri yang berbeda dari LKM lain. Apalagi tahun ini anggota Sema dipilih melalui Pemilihan Raya (Pemira) dengan menggunakan sistem coblos layaknya pemilihan terstruktur. Toh anggota Sema nantinya disebut senator, bukan staf atau magang. Lalu apa sebutan bagi anggota-anggota baru hasil perekrutan ini?

Ditemui di sekretariat Sema, Firas Sabila Nurdini selaku ketua Senat mengungkapkan Oprec kali ini merupakan inisiatif dari kepengurusan tahun 2013/2014. Bertolak dari minimnya pengetahuan senator terhadap proker (program kerja) Sema itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan fungsionaris Sema dari tahun ke tahun selalu mengalami perombakan struktur tanpa adanya regenerasi dari pengurus lama ke pengurus baru. Terlebih ketika Pemira digelar, tidak semua LKM mendelegasikan anggotanya untuk menjadi senator, sehingga periode ini jumlah keseluruhan Sema hanya sembilan orang saja. Menurut Firas ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemaksimalan kinerja seorang organisatoris. Bagaimanapun, seseorang perlu belajar dari seniornya agar lebih memahami program-program kerja yang akan dilaksanakan. Sehingga tidak terjadi kerancuan fungsi dan mekanisme kerja yang sebelumnya telah tercantum dalam Panduan Pokok Organisasi (PPO).

Mengenai sebutan untuk anggota baru yang direkrut, mahasiswa asal jurusan Sastra Jepang itu mengungkapkan bahwa status mereka adalah staf ahli yang keanggotaanya akan selesai setelah senator inti lengser. Jadi anggota baru tersebut bukanlah senator yang memiliki hak dan wewenang terkait mekanisme perekrutan semula, tetapi hanya staf yang menyokong kerja senator inti. “Disebutnya staf ahli, cuman mereka nggak masuk pengurus inti, di luar inti. Pelatihan sebenarnya, pelatihan buat mereka tahun depan. Pas waktu mereka diwawancara kita juga ngomong, tujuan kita buat ini buat biar tahun depan harapannya kalian bisa ikut lagi , kalau misalnya ada beberapalah walaupun nggak semua kayak gitu. Paling dua atau tiga orang.” Tutur Firas.

Seperti yang telah diungkapkan sejak awal, tujuan diadakannya Oprec selain untuk membantu Sema dalam melaksanakan program kerja, juga untuk regenerasi kepengurusan. Tidak menutup kemungkinan staf ahli yang direkrut tahun ini akan menjadi senator inti pada kepengurusan selanjutnya. Dengan demikian, staf ahli yang sekarang berstatus mahasiswa tahun kedua masih bisa mewakilkan LKM masing-masing telah mendapat pengalaman dan pelatihan secara langsung. Karena berdasarkan fakta, kendati senator (selain ketua) boleh tetap aktif pada kepengurusan selanjutnya, jarang sekali ada yang berinisiatif tetap tinggal di Sema sebagai upaya pengaderan. Maka dengan Oprec yang menargetkan mahasiswa angkatan 2012 sebagai peserta, diharapkan dapat memperbaiki kinerja Sema secara keseluruhan. Sehingga kegagalan-kegagalan pada kepengurusan lalu tidak repetitif.

Di sisi lain, Riki Setia Budi, selaku ketua Sema periode sebelumnya mengaku telah mengetahui perihal Oprec tersebut. Melalui wawancara tertulis, ia mengatakan bahwa pada kepengurusan lalu sempat terpikir untuk merekrut anggota baru. Namun karena beberapa pertimbangan dan kendala yang ada maka belum bisa direalisasikan langsung. Secara umum, pandangannya terhadap Oprec tersebut bersifat pragmatis. Dalam arti dia setuju apabila perekrutan ditujukan sebagai sarana pelatihan, tetapi di lain pihak ia peduli terhadap status anggota baru. Bagaimanapun mereka tidak dapat disebut senator terkait perundangan-perundangan yang ditetapkan Kongres Mahasiswa tahun lalu. Mau tidak mau itu menjadi hal yang riskan dikritisi ketika kongres mahasiswa berikutnya digelar.

“Mungkin kalau statusnya sebagai anggota baru, saya rasa tidak setuju karena kemudian itu menyalahi perundang-undangan yang telah ditetapkan ketika Kongres Mahasiswa tahun lalu. Namun kalau mereka merekrut dengan status rekrutan sebagai, katakanlah, trainee Sema, saya sangat setuju, karena selain bisa memperkenalkan program-program kerja Sema yang tidak banyak diketahui mahasiswa, Oprec ini juga bisa berfungsi untuk mempersiapkan bibit-bibit anggota Sema untuk tahun-tahun kedepan, sehingga isu-isu lama di kepengurusan Sema seperti kurangnya transfer informasi dan lain-lain, bisa teratasi dengan adanya program kerja baru ini. Hanya ya itu tadi, harus diperhatikan mengenai perundang-undangan yang sudah ditetapkan, sehingga nantinya tidak menimbulkan masalah bagi Sema di Kongres.” Papar Lelaki yang kerap disapa  Riki ini.

Berusaha mendapatkan kejelasan dari pihak birokrat, tim Hayamwuruk mewawancarai Pembantu Dekan  III, Mujid Farihul Amin. Menurutnya, sah-sah saja Sema merekrut anggota baru selama dalam koridor staf ahli. Jadi bukan masalah besar jika PPO tidak mengatur poin kaderisasi di tubuh Sema. Dia lebih menitikberatkan pada kinerja LKM yang bersangkutan.
Pada intinya, Sema merupakan dewan perwakilan yang berasal dari mahasiswa, oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa. Jadi persoalan mengenai apakah Sema melanggar peraturan perekrutan atau tidak, kembali pada diri pembaca masing-masing. Akankah defensif menyoroti rumahnya saja sementara isinya terbengkalai, atau turut mengamini harapan dari terobosan baru mereka. sekali lagi, semua benar-benar terserah anda.***

Baca Selengkapnya......

Beda Peran Mahasiswa dalam Pesta Demokrasi


Oleh : Fakhrun Nisa
Reporter : Ayu Mumpuni




Selayaknya warga negara lain, mahasiswa juga dihimbau untuk ikut berpartisipasi dalam terselenggaranya Pemilu Legislatif (Pileg) 2014. Mahasiswa yang notabene merupakan orang-orang yang diyakini berintelektual tentu diharapkan mampu mengambil andil lebih dalam pemilu dibanding warga negara lain. Mahasiswa dinilai netral terhadap permainan politik yang ada dalam negeri ini. Selain itu, mahasiswa juga dianggap tahu dan dekat dengan birokrasi negara juga dengan kehidupan rakyat jelata.

Mahasiswa adalah Agent of Change, istilah ini rupanya mulai memudar dewasa ini. Padahal dengan bangganya dulu mahasiswa menyandang status sebagai agen perubahan yang mampu menggulingkan rezim orde baru pada tahun 1998. Hedonisme seolah telah merenggut idealisme mahasiswa yang seharusnya kritis, idealis, independent, dan netral terhadap pemilu. Padahal mahasiswa mempunyai catatan sejarah manis sebagai agen perubahan yang pro kaum marginal. Berkaca pada hal itu, terlihat dengan jelas bahwa mahasiswa seharusnya mampu menjadi agen perubahan yang memperjuangkan nasib bangsa agar bisa menjadi lebih baik lagi. Namun kini, peran-peran penting itu mulai tak nampak lagi disandang oleh mahasiswa.

dok.opini
Suasana acara "Rock The Vote" di kampus FISIP Undip
Kembali pada masalah pemilu dan peran mahasiswa sekarang ini, yang kemudian menimbulkan pandangan baru bahwa mahasiswa bisa ikut membangun bangsa dengan berpartisipasi aktif dalam mensukseskan pemilu yang digelar pada tahun ini. Berbagai cara pun dilakukan mahasiswa untuk bisa disebut aktif dalam pemilu, seperti pengadaan diskusi tentang pemilu dan ikut mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat umum. Atas inisiatif tersebut, maka Central of Election Political Party (CEPP) menggelar kegiatan “Rock The Vote” pada 25 Maret 2014 di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) Undip Tembalang. CEPP merupakan sebuah lembaga yang telah berjejaring dengan 42 perguruan tinggi di Indonesia, dan Universitas Diponegoro menjadi unilink CEPP yang ke-32. CEPP ini dipelopori oleh Universitas Indonesia dan berpusat di sana. Dra. Fitriyah, M.A., selaku direktur CEPP Undip menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pastisipasi dengan mengajak anak-anak muda menggunakan hak pilih, karena mereka mempunyai ciri pemilih cerdas yang diperlukan oleh bangsa ini. “Jadi tidak hanya tentang pemilu tapi kita juga memulainya berdiskusi tentang demokrasi, pentingnya demokrasi, kemudian tentang politik sebagai keputusan bersama, jadi jangan sampai ada persepsi negatif tentang politik, karena politik dalam kehidupan kita sehari-hari itu mengambil keputusan”, tuturnya lebih lanjut. Acara yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP ini menjadikan siswa-siswa SMA pemilih pemula sebagai target kegiatan. Dengan adanya acara ini, panitia berharap pemilih pemula yang semula apriori dan apatis terhadap pemilu bisa ikut aktif dalam mensukseskan pemilu 2014.

Selain menyelenggarakan acara yang berbau pemilu, peran mahasiswa pada Pileg 2014 juga terlihat pada saat hari H. Beberapa mahasiswa Undip tampak berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan ikut berperan membantu petugas TPS. Dikonfirmasi tentang hal ini, Muhammad Ikbaluddin, mahasiswa Ilmu Pemerintahan Undip sekaligus panitia “Rock The Vote” memberikan keterangan bahwa peran mahasiswa di TPS sebagai pengawas yang memantau kedisiplinan dan memastikan tidak adanya pelanggaran pemilu. Lebih lanjut dia menjelaskan, “Nah untuk di Fisip sendiri kemarin juga ada, khususnya di Ilmu Pemerintahan ya juga banyak yang mendaftarkan diri langsung ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), terus ditempatkan di TPS-TPS sebelumnya sudah diberikan bimbingan teknis dengan Bawaslu sendiri.”

Di FIB sendiri, pemilu tetap mendapat perhatian mahasiswa meskipun mahasiswa FIB tidak mendapat mata kuliah yang berbau politik seperti di FISIP. Seperti yang dilakukan oleh BEM FIB Undip yang berusaha mengadvokasi teman-teman mahasiswa rantau yang berkeinginan untuk mencoblos di Semarang. Namun kenyataanya, advokasi yang diusahakan oleh BEM FIB dan BEM KM Undip tidak menemui jalan terang. Diakui oleh Ridwan, staf ahli Kementrian Sosial dan Politik BEM FIB Undip, bahwa terjadi miss komunikasi antara BEM dan KPU, mahasiswa rantauan yang ingin mencoblos di Semarang tidak bisa diwakilkan dalam proses pengurusan pindah TPS, masing-masing harus datang ke posko pindah TPS Undip yang berada di kantor polisi Undip dan Kelurahan yang ada di sekitar Undip. “Jadi setiap mahasiswa harus datang langsung sendiri, intinya kami itu udah berusaha mengadvokasi tapi kenyataannya itu harus sendiri-sendiri”, jelasnya.

Beberapa mahasiswa di luar BEM FIB pun rupanya ada yang ikut aktif dalam penyelenggaraan Pileg 2014. Saiful Munir, mahasiswa Sastra Indonesia 2013 adalah salah satunya. Mahasiswa yang kerap disapa Saiful ini mengaku, bahwa keterlibatannya dalam pemilu memang sudah lama berjalan, ketika dia masih duduk di bangku SMA, tepatnya sejak dia berhasil menjabat sebagai ketua pertama Forum Komunikasi Demokrasi OSIS (FKDO) Kota Semarang untuk tingkat SMA/SMK/MA se-Semarang. Pada tahun 2014 ini, dia menjadi salah satu dari 25 orang Relawan Demokrasi (Relasi) di Semarang yang bertugas untuk menggelar acara “KPU Go To School” ke 180 SMA/SMK/MA yang ada di Semarang.

Berbicara tentang pemilu, mahasiswa semester dua ini berpendapat bahwa  mahasiswa harus meningkatkan kesadaran demokrasinya. Tidak menjadi mahasiswa yang cuek terhadap pemilu namun senang melakukan tindak anarki yang merugikan. Seperti demo yang berujung anarki yang sering dilakukan oleh mahasiswa dewasa ini. “Menimbulkan demo-demo yang anarki, demo yang tidak sesuai dengan aturan demo. Kesadaran diri yang penting bahwa kalau ingin menuju Indonesia yang baik, pemimpin yang bersih maka harus dimulai dari pemilu yang benar. Intinya kayak gitu”, lanjutnya. Fitriyah juga menambahkan, “Mahasiswa itu, mereka punya pengetahuan, pemahaman, cuma persoalannya mereka kan ngga percaya. Artinya mereka kan menganggap partai kita itu tidak benar, karena anti partai”.

Namun, di tengah ingar-bingar Pileg 2014 tetap saja ada mahasiswa yang apatis dan tidak ikut berpartisipasi dalam pemilu. Mahasiswa yang apatis ini menilai bahwa pemilu yang diselenggarakan belum efektif dan mereka sudah apriori terhadap hasil pemilu. Seperti yang diutarakan oleh Annas Chairunnisa, mahasiswa Sastra Indonesia asal Blitar yang memilih untuk tidak ikut mencoblos. Alasan regulasi dan prosedur yang rumit dalam pengurusan pindah TPS membuat mahasiswa rantau sengaja untuk merelakan hak pilihnya hilang.

Beberapa mahasiswa yang tim Hayamwuruk temui mengaku bahwa prosedur yang harus mereka lalui agar bisa mencoblos di Semarang begitu rumit dan membingungkan. Pengurusan pindah TPS itu tidak bisa diwakilkan, harus diurus oleh masing-masing perseorangan. Padahal awalnya, BEM FIB telah memberikan pengumuman bahwa pengurusan pindah TPS bisa dilakukan secara kolektif. Mahasiswa yang pada awalnya berminat dan berniat ikut mencoblos di Semarang, menjadi malas sehingga mengurangi jumlah pemilih dalam Pileg 2014.

Hal ini juga diceritakan oleh Taufik Aulia Rahmat, Presiden BEM KM Undip melalui akun twitternya. Ketika mahasiswa berhasil mendapatkan form A5 dan C6 sebagai syarat untuk bisa mencoblos, mahasiswa luar daerah pun masih dihadang oleh kesulitan, yakni jarak TPS yang kurang terjangkau dari Tembalang. Mahasiswa-mahasiswa ini harus berputar-putar mencari lokasi TPS mereka sesuai yang tertera di form C6. Alhasil beberapa mahasiswa sampai di TPS lebih dari pukul 13.00, yang berarti TPS telah ditutup. Bagi mahasiswa yang tidak mau rumit mengurus kepindahan seperti di atas, maka mereka lebih memilih untuk merelakan hak pilihnya hilang.***

Baca Selengkapnya......

Pembangunan, Apa Kabar?

Oleh : Hendra Friana
Reporter: Farras Alda H., Novia R., Farida S.D.





Bangunan Semi-permanen di belakang gedung A.
Pembangunan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) memang kurang terdengar di telinga para mahasiswanya. Pasalnya dibandingkan fakultas ilmu sosial lainnya, FIB terkesan paling lambat dalam pembangunan sarana dan prasarana kampus. Bahkan beberapa mahasiswa merasa underestimate jika membicarakan pembangunan kampus budaya ini. Namun akhir-akhir ini ada yang berbeda di bagian belakang gedung A FIB Undip. Terlihat beberapa tukang bangunan sibuk mondar-mandir di belakang musala lantai satu (bekas kantin) dan di belakang ruang Depo Arsip. Tempat yang dulunya merupakan kantin, kini telah berubah menjadi bangunan semi-permanen. Bangunan yang terletak di belakang musala tersebut memiliki dua ruangan yang salah satunya tersambung langsung dengan musala.  Sedangkan ruang yang lain agak kecil dan terdapat pintu di salah satu sisinya yang mengarah ke halaman belakang gedung A.
Praktis, aktivitas pemugaran tersebut mengundang tanya beberapa mahasiswa yang lalu-lalang di sekitarnya. Tak hanya tanya, beberapa pendapat  juga terlontar dari sebagian mahasiswa terkait pemugaran tersebut. Ada yang menerka renovasi tersebut merupakan perluasan musala, ada juga yang mengkritisi renovasi tersebut dan bahkan sampai mengaitkannya dengan pembangunan kantin di FIB. “kantin belum jadi kok malah bangun yang lain!” ujar seorang mahasiswi.
Beberapa bulan sebelumnya memang tengah dilakukan pembangunan kantin baru untuk mahasiswa di belakang gedung B FIB Undip.  Hal tersebut dikarenakan kantin yang sebelumnya berlokasi di belakang gedung A dianggap “ilegal”. Peraturan pusat melarang adanya kantin yang menjadi satu dengan bangunan kampus karena fungsi sejati gedung kampus adalah untuk kegiatan perkuliahan. Namun, pembangunan kantin tiba-tiba terhenti pada Desember 2013 silam. Harapan mahasiswa akan terwujudnya pembangunan  kantin pun seakan pupus. Sehingga mereka harus menerima ketiadaan kantin dan merasa cukup dengan “jajanan hiburan” yang dijual beberapa mahasiswa yang jenisnya kurang variatif.
Selain pemugaran bangunan di belakang gedung A, tahun ini pihak fakultas juga berencana membangun gedung baru di sebelah gedung A guna menunjang sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Hal ini disampaikan I Maria Hendrarti, selaku Pembantu Dekan II, saat Rapat Koordinasi Bidang III (17/4/14), di ruang sidang dekanat. Rakoor tersebut dihadiri oleh beberapa mahasiswa perwakilan UKM dan HMJ di FIB. Pertanyaan terkait pembangunan FIB pun dilontarkan oleh beberapa mahasiswa. Salah satunya mengenai kondisi pembangunan kantin FIB yang stagnan. Berdasarkan keterangan Agus, ketua HMJ Ilmu Perpustakaan yang hadir dalam acara tersebut, perempuan yang kerap disapa Bu Hen ini menolak memberi penjelasan mengapa pembangunan kantin dihentikan. “Ada something yang tidak boleh diketahui untuk khalayak umum, jadi saya tahunya itu.”, ujarnya.
Masalah pembangunan memang menjadi hal yang cukup sensitif di FIB. Ketika tim Hayamwuruk mencoba mencari tahu tujuan dan fungsi pemugaran bangunan di bagian belakang gedung A saja, beberapa pihak menolak untuk diwawancarai, dengan alasan takut salah jawab.
Bu Hen mengkonfirmasi beberapa hal kepada tim Hayamwuruk. Dalam wawancara tertulis Ia menyebutkan pembangunan kantin FIB terpaksa dihentikan karena tidak memiliki izin untuk mendirikan bangunan  dan ketidakjelasan konsep sejak awal pencetusannya. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pembangunan akan kembali dilanjutkan setelah mendapat izin dari pusat dan konsep atau gambaran perencanaan kantin selesai dibuat.
Selain perihal kantin, perempuan yang juga dosen Sastra Inggris ini juga membenarkan perihal wacana pembangunan gedung baru yang telah direncanakan pihak fakultas. Pembangunan akan dilaksanakan tahun ini, namun belum jelas tanggal berapa pembangunan ini akan dimulai. Pembangunan yang direncanakan adalah gedung dua lantai. Namun karena keterbatasan dana, nantinya baru akan dibangun satu lantai pada tahun ini. Lebih lanjut dalam Sambung Rasa (24/04/2014), ia menjelaskan pada tahapan awal pembangunannya gedung tersebut akan memiliki tujuh ruangan dengan kapasitas hingga 60-80 orang.
Ketika tim Hayamwuruk bertanya Mengenai ketentuan rektor yang memfokuskan penghijauan kampus dan melarang pembangunan sampai 2016, Bu Hen menerangkan bahwa kebutuhan ruangan untuk belajar-mengajar di FIB sangat mendesak karena jumlah ruangan dan kapasitas mahasiswa FIB tidak memadai. Sehingga mau tidak mau pembangunan harus tetap dilakukan.
Sedangkan mengenai pemugaran bangunan di bagian belakang gedung A, ia menjelaskan ruangan tersebut nantinya akan difungsikan sebagai gudang Alat Tulis Kantor (ATK) dan ruang penyimpanan arsip fakultas.
Pembangunan gedung baru diharapkan bisa mengurangi kepadatan di FIB. Seperti yang diutarakan oleh Ary Setyadi, dosen jurusan Sastra Indonesia.  “Pembangunan diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan ruangan mahasiswa. Mengingat kapasitas ruangan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa. Bahkan dalam perkulihan kerap kali beberapa mahasiswa harus duduk di lantai karena tidak kebagian kursi”. Senada dengan Ary Setyadi, Agus mengungkapkan harapannya mengenai pembangunan di FIB, “Pembangunan mungkin lebih dimajukan kembali karena FIB dalam lingkup univeritas sendiri merupakan fakultas yang paling bawah. Jadi semoga saja sesuai dengan kondisi mahasiswa yang ada”.***

Baca Selengkapnya......