Kamis, November 20, 2014

“Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”

Oleh : Annisa Intan Pratiwi



www.goodreads.com

“Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”
            Sepakatlah, siapapun anda, pasti ingin membaca terusan kalimat di atas dengan khidmat dan hati kondusif. Terlebih bagi para lajang yang belum menemukan belahan jiwa. Ya, cinta sejati acap kali menjadi buah bibir  kawula muda, namun hingga kini tak ada pedoman baku untuk mendapatkan itu semua.
            Jangan khawatir, A.S Laksana dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Murjangkung telah menawarkan solusi. “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati” adalah satu di antara 20 cerpen yang menggelitik naluri pembaca. Berkisah tentang Seto dan adik dungunya yang terus mempermasalahkan cinta. Menurut Seto, adiknya selalu berkubang dalam lingkaran yang sama, yaitu hubungan dilematis lantaran beda keyakinan. Karena itu Seto merasa berhak menjulukinya Kerbau, terutama jika si adik mulai merepet tentang pindah agama.
            Keributan demi keributan terjadi. Seto kasihan sekaligus sedih dengan kebebalan otak adiknya. Namun, sejatinya kesedihan itu muncul karena si adik tidak bisa membedakan kebenaran dan keyakinan. Bahwa cinta terlalu sempit jika disepadankan dengan keimanan yang memiliki tolak ukur absurd. Seto tidak mengerti, mengapa si adik harus membenci kekasihnya karena mereka tidak berada dalam koridor ketuhanan yang sama. Padahal, fakta bahwa kekasih si adik sudah beristri harusnya menjadi alasan paling masuk akal. Alhasil si Kerbau (panggilan Seto untuk adiknya), hidup laksana perawan suci hingga akhir cerita.
Melalaui “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”, pengarang seolah mengajak pembaca untuk menguji keyakinan beragama dengan hal sesederhana cinta. Bagaimana pun kita tidak bisa membenci seseorang karena latar belakang kepercayaannya. Itu tidak adil. Apalagi sampai memaksa pindah agama, atau sebaliknya, kita yang mengepaskan diri dengan keyakinan KTP mereka. lagi pula bukankah Tuhan Maha Tahu isi hati, bahkan juga urusan administrasi kelurahan? Maka pembaca seakan dibawa pada rasa skeptis, kemudian bertanya-tanya, benarkah keyakinan saya ini?
Seringkali kita demikian ragu, bagaimana seseorang bisa menjadi cinta sejati kita bila agama saja bahkan tak sama. Tapi A.S Laksana memiliki pemikiran berbeda. Dia memiliki trik gila untuk memastikan apakah seseorang memang ditakdirkan untuk kita atau tidak. Tentunya dengan syarat, anda bukan kerbau bebal yang berkubang terus-menerus dalam kultus keyakinan. Melalui teknik ini, minimal anda terhindar dari derita penolakan. Coba, bermartabat mana orang yang ditolak karena agama, dengan mereka yang ditolak tersebab hal-hal lain. Seperti, kurang tampan misalnya[1].
Selain pandai mengaduk emosi pembaca dengan premis-premis sufistik, pengarang juga piawai membuat guyonan getir. A.S Laksana hampir selalu mengulang anggapan dungu terhadap dia yang mengkotak-kotakan cinta dalam selot agama. Anggapan tersebut dikemas dalam bahasa yang satire dan nyaris nyinyir. Misalnya sebagai berikut:
Jauh sebelum si Kerbau mengajukan pertanyaan pagi itu, Seto bahkan sudah membuat makalah untuk sebuah diskusi tentang hidup waras dan alasan-alasan pendukungnya. Ringkasan presentasinya begini: Sekarang bayangkan seseorang menanyaimu, “Kenapa kau menyayangi orang itu?” dan kau menjawab, “Karena aku membencinya.” Oh, kau pasti dianggap tidak genap karena jawaban itu. Sebaliknya, kenapa kau membenci orang itu? Kau jawab, “Karena aku menyayanginya”. Ini juga jawaban yang membuatmu perlu dibawa ke Puskesmas. (Laksana, 2013:71)
Berdasar kutipan itu saja, kita dapat melihat betapa pengarang membekali tokoh Seto dengan sinisme yang tinggi terhadap cinta. Terlebih kalimat-kalimat tersebut berada dalam konteks, ‘membenci atau mencintai seseorang karena alasan beragama’. Ini sesuatu yang muskil. Karena bagi Seto, membenci orang yang dicintai adalah keruwetan. Maka jadilah cerpen ini semacam karya sinis dan menyindir mereka yang ingin objektif tapi tak mau keluar dari zona keyakinan.
Hal lain yang menggelitik dari keseluruhan cerpen ini adalah bagian teratas. Judul. Pengarang sepertinya memiliki bakat untuk menarik pembaca dalam sekali pandang. Tidak dipungkiri, “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati” mempunyai kans besar untuk dibaca hanya dengan melihat judulnya. Seperti produk andalan yang berada di etalase teratas lengkap dengan promosi menggiurkan. Hanya saja, memang mengecewakan bagi anda yang berharap menemukan tips-tips menggaet cinta sejati. Begitu pula untuk anda yang alergi metafora dan kalimat-kalimat filosofis. Tidak disarankan membaca “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”, karena strukturnya dibangun oleh elemen-elemen yang sangat sastra.
A.S Laksana tampaknya berniat agar pembaca menelanjangi keyakinannya sendiri. Percayalah, cerpen ini penuh misi yang bisa membuat ragu pada definisi cinta sejati. Jangan-jangan mereka yang anda sebut sebagai pasangan, akan segera mendepak dari ikatan jika anda lancang berpindah keyakinan. Tapi memang itu harga yang harus dibayar untuk sebuah pencarian.
Jadi, masih berminat menemukan cinta sejati?




[1] Salah satu kutipan dalam “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”
     

Baca Selengkapnya......

Rabu, November 12, 2014

Sukarno dan Jejak Pemikirannya



Oleh: Iqbal Firmansyah

Sukarno pernah mengakui bahwa ia seorang marxis, namun dalam pidato-pidatonya, Sukarno tidak pernah menyebut bahwa ia adalah PKI.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh Peter Kasenda, pembicara dalam acara bedah dan diskusi buku Sukarno, Marxisme & Leninisme yang diselenggarakan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Undip (Universitas Dipongoro) bersama Komunitas Bambu, Rabu (29/10/2014), di kampus FIB Undip Pleburan, Semarang.

Peter Kasenda, yang juga merupakan penulis buku Sukarno, Marxisme & Leninisme: Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia itu mengungkapkan, Sukarno dalam pikiran-pikirannya memiliki persamaan dengan PKI. Keduanya sama-sama menentang kolonialisme, kapitalisme, imperialisme, dan neo-kolonialisme.

“Pikiran apa yang sama dengan PKI? Sukarno menentang yang namanya kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, yang kita kenal kemudian dengan nama nekolim.” Ungkap Peter.

Oleh karena itu, lanjut peter, keduanya bekerja sama dalam hal merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda dan juga menolak berdirinya Federasi Malaysia.

Namun demikian, antara Sukarno dan PKI juga memiliki perbedaan, Sukarno memperjuangkan persatuan nasional, sementara PKI perlawanan kelas.

“Sukarno itu pada dasarnya orang yang gandrung terhadap menyatukan ide-ide yang ada dan menyatukan elit-elit yang ada. Sedangkan PKI itu berjuang demi perlawanan, perjuangan kelas.” Ungkap Peter.

Lalu di mana pemikiran Sukarno yang dikaitkan dengan pemikiran Marx? Pikiran Sukarno dikaitkan dengan pemikiran Marx, menurut Peter, adalah ketika Sukarno membicarakan tentang marhaenisme.

“Pikiran-pikiran Sukarno yang dikaitkan dengan marxisme, ketika Sukarno bicara tentang marhaenisme.” Ungkapnya.

Marhaen digambarkan oleh Sukarno sebagai cerminan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tanah luas, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Cangkul dan kerbau berfungsi sebagai alat produksi untuk menggarap sawah atau kebun. Meski sederhana, mereka hidup bahagia.

Sementara proletar adalah sebutan bagi pekerja yang tidak memiliki modal. Mereka bekerja pada pemilik modal, dengan semata-mata mengandalkan tenaga yang mereka miliki.

Marhaen dan proletar sama-sama kelas pekerja, kaum kecil, atau wong cilik. Sukarno menerjemahkan kaum proletar di Barat, menjadi orang marhaen di Indonesia. Sukarno juga tidak menyebut masyarakat Indonesia sebagai kaum proletar karena mereka masih memiliki alat produksi dan tidak bekerja untuk orang lain.

“Kalau proletar itu orang yang bekerja untuk orang lain, ia tidak mandiri, beda dengan marhaen. Kalau marhaen muncul dari masyarakat agraris, tapi kalau proletar muncul dari masyarakat industri.” Ungkap Peter.

Peter juga menjelaskan perbedaan antara marxisme dan leninisme. Leninisme adalah tafsiran dari pada marxisme oleh Lenin, kemudian disebut marxisme-leninisme.

“Marxisme itu pikiran-pikiran dari Marx yang ditafsirkan oleh Lenin, itu menjadi marxisme-leninisme, tapi kemudian ketika Lenin hilang diganti oleh Stalin, itu ada yang namanya stalinisme, jadi pikiran pikiran yang dikembangkan oleh Stalin.” Ungkapnya.

Selain itu, Peter menambahkan, marxisme tidak pernah dibakukan, sehingga terdapat perbedaan dalam menafsirkan marxisme.

“Marxsisme itu tidak pernah dibakukan, makanya orang kalau ngomong marxisme, itu tafsirnya beda-beda karena tidak pernah dibakukan. Beda dengan leninisme.” Ungkap Peter.

Pembicara kedua adalah Indriyanto, pengajar pada Jurusan Sejarah FIB Undip. Ia mengungkapkan bahwa marxisme menjadi metode perjuangan bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme. Sukarno, ungkap Indri, menyebut bahwa marxis adalah metode berpikir tentang sosial ekonomi, yang isinya adalah perjuangan.

“Marx itu adalah metode. Bung Karno mengatakan marxis itu adalah metode berpikir tentang sosial-ekonomi, dan isinya dari metode itu adalah berjuang.” Ungkapnya.

Menurut Indri, metode berpikir Marx ditambah pemikiran Lenin menghasilkan komunis Rusia, yang selanjutnya diperbaiki oleh Stalin.

“Marx itu metode berpikirnya, ditambah pemikiran lenin menghasilkan komunis. Komunisnya ya komunis Rusia, tapi diperbaiki oleh Stalin.” Ungkap Indri.

Pemikiran Marx juga digunakan oleh Mao Zedong, maka menghasilkan Maoisme. Pemikiran Marx digunakan oleh Sukarno, menghasilkan marhaenisme.

“Marx, sama pemikirannya marx, digunakan oleh Mao Zedong, maka jadi maoisme. Marx digunakan oleh Sukarno jadilah marhaenisme.” Ungkap Indri.

Oleh karena itu, lanjut Indri, bagi negara-negara yang terkena dampak kapitalisme dan kolonialisme, marxis menjadi efektif untuk dijadikan sebagai metode perjuangan karena ia menentang kapitalisme dan kolonialisme di mana kolonialisme adalah anak dari kapitalisme.

“Marxis itu sangat efektif untuk dijadikan metode perjuangannya, karena yang ditentang kapitalisme, yang ditentang kolonialisme. Sementara kolonialisme itu adalah anaknya kapitalisme, lha embahnya (kakeknya) itu imperialisme.” Terangnya.

Menurut Indri, sesungghuhnya inti dari pembahasan seputar pemikiran Sukarno, tidak lain adalah soal persatuan dan keadilan.

”Tetapi intinya saudara-saudara bahwa itu metode perjuangan, yang paling penting di dalam pembahasan-pembahasan di sekitar pemikiran Sukarno itu adalah persatuan dan keadilan.” Tegasnya.

Acara bedah dan diskusi buku Sukarno, Marxisme & Leninisme dimoderatori oleh Joseph Army Sadhyoko, mahasiswa angkatan 2010 yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1-nya pada Jurusan Sejarah FIB Undip. Sesi diskusi juga berlangsung seru dengan adanya beberapa peserta yang memberikan tanggapan maupun pertanyaan. Acara yang digelar dari pukul 19.30 itu berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Usai acara, sejumlah peserta tampak bergantian berfoto bersama Peter Kasenda. ***

Baca Selengkapnya......

Minggu, November 09, 2014

Political Awareness and Participation of Indonesian

By : Diah Wahyu Asih












Some developed countries are having great quantities of participation and belief that they have an important position and role in politics. According to Silvia Bolgherini, political participation is a series of activities related to political life, aimed at influencing public decisions in a more or less direct way—legal, conventional, pacific, or contentious. Therefore in developed countries which have a good awareness of political participation, people are willing to be the part of democracy. The participation is not only occurs in politic but in any fields, for example when United States people held a party, most of their guest will bring several food and beverage without being asked. Because of that, the more the guest can be the more the food in the party.

The circumstances of developed countries are really different from the developing countries, including Indonesia. They don't really care about who will lead them because they are just ordinary people. This belief is also happened in Indonesia that can be seen from their abstains in some elections and their lack of participation. Even though there are some people who participate in politics, most of them are moved by certain political parties.
However, the recent circumstances of president election are different from the previous one. There were a lot of people who came from any class participated in the president election and campaign. They're also willing to be volunteers in gaining the other people participation and working together in order to make their president selected. It is not coincidence that Joko Widodo had gained more number of selectors because he was chosen by people in pleasure, instead of people who was asked by political parties.
The poeple's participations are also can be seen from the President Jokowi's enthronement that people accompanied Jokowi from HI roundabout to Istana Merdeka. They also made an event for celebrating the democracy party of the new President which is all free to enter and free food. This event was moved independently which funds are compounds of the volunteers and some singers who performed on that event. This participation system allows them to get more money but less burdened because the expense is guaranteed by many people, not just a single person.
The participation system which recently occurs in Indonesia may caused by the candidates who are considered as a new comers and taught as a change maker. However, this system is one of the political advancement that can bring Indonesia a better political culture. That is why; we need to support this progress by being involved in any political event no matter how small our effort is. ***

Baca Selengkapnya......

Political Awareness and Participation of Indonesian

By : Diah Wahyu Asih












Some developed countries are having great quantities of participation and belief that they have an important position and role in politics. According to Silvia Bolgherini, political participation is a series of activities related to political life, aimed at influencing public decisions in a more or less direct way—legal, conventional, pacific, or contentious. Therefore in developed countries which have a good awareness of political participation, people are willing to be the part of democracy. The participation is not only occurs in politic but in any fields, for example when United States people held a party, most of their guest will bring several food and beverage without being asked. Because of that, the more the guest can be the more the food in the party.

The circumstances of developed countries are really different from the developing countries, including Indonesia. They don't really care about who will lead them because they are just ordinary people. This belief is also happened in Indonesia that can be seen from their abstains in some elections and their lack of participation. Even though there are some people who participate in politics, most of them are moved by certain political parties.
However, the recent circumstances of president election are different from the previous one. There were a lot of people who came from any class participated in the president election and campaign. They're also willing to be volunteers in gaining the other people participation and working together in order to make their president selected. It is not coincidence that Joko Widodo had gained more number of selectors because he was chosen by people in pleasure, instead of people who was asked by political parties.
The poeple's participations are also can be seen from the President Jokowi's enthronement that people accompanied Jokowi from HI roundabout to Istana Merdeka. They also made an event for celebrating the democracy party of the new President which is all free to enter and free food. This event was moved independently which funds are compounds of the volunteers and some singers who performed on that event. This participation system allows them to get more money but less burdened because the expense is guaranteed by many people, not just a single person.
The participation system which recently occurs in Indonesia may caused by the candidates who are considered as a new comers and taught as a change maker. However, this system is one of the political advancement that can bring Indonesia a better political culture. That is why; we need to support this progress by being involved in any political event no matter how small our effort is. ***

Baca Selengkapnya......

Political Awareness and Participation of Indonesian

By : Diah Wahyu Asih












Some developed countries are having great quantities of participation and belief that they have an important position and role in politics. According to Silvia Bolgherini, political participation is a series of activities related to political life, aimed at influencing public decisions in a more or less direct way—legal, conventional, pacific, or contentious. Therefore in developed countries which have a good awareness of political participation, people are willing to be the part of democracy. The participation is not only occurs in politic but in any fields, for example when United States people held a party, most of their guest will bring several food and beverage without being asked. Because of that, the more the guest can be the more the food in the party.

The circumstances of developed countries are really different from the developing countries, including Indonesia. They don't really care about who will lead them because they are just ordinary people. This belief is also happened in Indonesia that can be seen from their abstains in some elections and their lack of participation. Even though there are some people who participate in politics, most of them are moved by certain political parties.
However, the recent circumstances of president election are different from the previous one. There were a lot of people who came from any class participated in the president election and campaign. They're also willing to be volunteers in gaining the other people participation and working together in order to make their president selected. It is not coincidence that Joko Widodo had gained more number of selectors because he was chosen by people in pleasure, instead of people who was asked by political parties.
The poeple's participations are also can be seen from the President Jokowi's enthronement that people accompanied Jokowi from HI roundabout to Istana Merdeka. They also made an event for celebrating the democracy party of the new President which is all free to enter and free food. This event was moved independently which funds are compounds of the volunteers and some singers who performed on that event. This participation system allows them to get more money but less burdened because the expense is guaranteed by many people, not just a single person.
The participation system which recently occurs in Indonesia may caused by the candidates who are considered as a new comers and taught as a change maker. However, this system is one of the political advancement that can bring Indonesia a better political culture. That is why; we need to support this progress by being involved in any political event no matter how small our effort is. ***

Baca Selengkapnya......

Kamis, November 06, 2014

Wisuda Fakultas; Bak Dua Sisi Mata Uang

Oleh: Deviana K.
Reporter: Risma, Intan A.





Mahasiswa mana yang tidak ingin merasakan wisuda? Upacara yang menandai rampungnya mahasiswa menyelesaikan masa studi ini, bagaikan puncak perjuangan berakhirnya masa kuliah. Namun, beberapa mahasiswa menganggap upacara wisuda hanya sebagai formalitas. Terlebih upacara wisuda wajib yang diselenggarakan pada tingkat universitas kurang berkesan bagi sebagian mahasiswa. “Ya, kalau wisuda universitas kan mahasiswanya banyak, ya? Jadi kita kayak nggak kelihatan,” ungkap Fiersta Wasiska Juniar, calon wisudawan dari jurusan Sastra Inggris.
Selain wisuda universitas, ada pula wisuda yang diselenggarakan di tingkat fakultas dengan jumlah peserta yang lebih sedikit. FIB, yang pada tahun-tahun sebelumnya menyelenggarakan wisuda fakultas, periode ini tak lagi menyelenggarakan upacara tersebut. Menurut penuturan Dewi Yuliati, Pembantu Dekan I FIB, hal ini dikarenakan pertimbangan pihak kampus terhadap beban yang ditanggung orang tua mahasiswa. Selain itu, jeda wisuda fakultas yang berselang satu hari, akan merepotkan orang tua mahasiswa yang berdomisili di luar kota. “Wisuda fakultas memang tidak wajib karena kami mempertimbangkan beban orang tua yang akan semakin banyak. Tapi sebenarnya hal ini kami kembalikan lagi kepada calon wisudawan, apakah menghendaki wisuda fakultas atau tidak.”, ungkap wanita berambut pendek tersebut.  Dewi menuturkan bahwa pihak kampus memang telah mewacanakan pertimbangan kembali penyelenggaraan wisuda fakultas pada saat rapat pimpinan.
Namun, wanita yang juga dosen Ilmu Sejarah ini juga mengatakan bahwa semuanya  kembali tergantung pada mahasiswa . Beliau mengaku pihak kampus telah melakukan pertemuan dengan calon wisudawan untuk melakukan kesepakatan apakah akan diadakan wisuda fakultas atau tidak. Sebagian besar menyatakan tidak, meskipun sebagian kecil ada yang tetap menghendaki. “Ya setuju saja kalau wisuda fakultas ditiadakan tapi sebenarnya sayang karena kan kita ngumpulnya dengan anak-anak satu fakultas, jadi lebih khidmat.” terang Nurhalimah, mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2010.
Seperti pepatah Jawa 'desa mawa cara, negara mawa tata', lain halnya dengan penyelenggaraan wisuda fakultas di Fakultas Sains dan Matematika (FSM) yang sepenuhnya dikelola mahasiswa. “Iya, sebenarnya kan wisuda fakultas hanya bersifat seremonial saja, di sini yang menyelenggarakan BEM departemen Ekobis (Ekonomi dan Bisnis). Bukan berarti dibisniskan, tapi memang yang akan mengurusi  plakat, toga, nanti dari Ekobis,” tutur Riski Khoirul Imam, Ketua BEM FSM.
Mahasiswa jurusan Kimia ini menambahkan bahwa wisuda fakultas di FSM telah ditangani penuh oleh mahasiswa sejak dua tahun yang lalu. Mereka menyelenggarakan wisuda fakultas empat kali setahun mengikuti wisuda universitas. Waktu penyelenggaraannya pun pada hari yang sama dengan wisuda universitas sehingga tidak perlu persiapan dobel dari wisudawan.  Biaya yang didapat sepenuhnya dari calon wisudawan. Intinya, mereka memposisikan diri sebagai event organizer. “Jadi kita tanya calon wisudawan mereka butuh apa, misalnya gedung, hiburan, ya, kita yang nyariin. Kita presentasi misal gedung A harganya sekian gedung B sekian. Untuk konsumsi seperti ini, langsung disepakati,” sambungnya. Biaya yang dikeluarkan calon wisudawan tergantung pada konsep wisuda, namun biasanya berkisar antara 400-500 ribu.
Masih menurut pengakuan Riski, biaya adalah kendala terbesar dalam menyelenggarakan wisuda. Karena calon wisudawan telah terbebani dengan biaya wisuda universitas yang terbilang cukup tinggi, maka biaya menjadi ganjalan bagi pelaksanaan wisuda fakultas. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa suasana wisuda tingkat fakultas biasanya lebih cair. “Wisuda fakultas ini tidak wajib sih. Tapi banyak yang mau ikut juga, soalnya kan kalau wisuda universitas cuma gitu-gitu aja. Nanti kalau di wisuda fakultas ada foto bareng dekan dan biasanya lebih cair (suasananya),” tutur Riski.
Memang, wisuda fakultas dapat diumpamakan bak dua sisi mata uang. Pada satu sisi, para mahasiswa sudah terbebani biaya untuk wisuda universitas yang tinggi dan urusan persiapan yang lebih rumit. Namun, di sisi lain wisuda fakultas diyakini lebih berkesan daripada wisuda universitas meski hanya bersifat opsional. Sekarang semuanya tergantung pada mahasiswa, apakah wisuda merupakan acara formalitas atau memang akan menjadi momen kelulusan yang sakral sehingga acara tersebut  harus diadakan. ***

Baca Selengkapnya......

Rabu, November 05, 2014

Pemilihan Dekan, Hajatan Empat Tahunan

Oleh: Iqbal Firmansyah




Lagu Indonesia Raya berkumandang di ruang sidang gedung A, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip. Di ruang tersebut, Rabu, (15/10) Senat fakultas  menggelar rapat untuk memilih dekan  FIB Undip periode 2015-2019. Rapat Senat FIB terdiri dari dua sesi, rapat senat terbuka dan rapat senat tertutup. Rapat senat terbuka dihadiri oleh anggota senat fakultas, beberapa tenaga kepegawaian, dan tiga orang perwakilan mahasiswa. Sementara rapat senat tertutup hanya dihadiri oleh anggota Senat FIB.
Rapat senat terbuka dibuka oleh Agus Maladi Irianto, selaku Ketua Senat FIB. Kelima bakal calon dekan, Prof. Dr. Sutejo K. Widodo, M.Si; Dr. Muh Abdullah, MA; Dr. Redyanto Noor, M.Hum; Dr. Ratna Asmarani, M.Ed.,M.Hum; dan Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, M.Hum; secara bergantian menyampaikan visi-misi dan rencana strategis mereka. Prof. Irianto, selaku moderator, memandu jalannya acara.
Penyampaian visi-misi oleh para bakal calon dekan merupakan kali ketiga. Sebelumnya, kelima bakal calon dekan telah menyampaikan visi-misi dalam acara sosialisasi yang diadakan Panitia Pemilihan Dekan (PPD). Sosialisasi pertama di hadapan para mahasiswa (11/9) dan sosialisasi kedua di hadapan dosen serta tenaga kependidikan (19/9). Rapat kali ini juga berbeda dari rapat senat terbuka periode sebelumnya. Rapat kali ini dihadiri oleh tiga perwakilan mahasiswa. Untuk dapat hadir, mereka sebelumnya telah berkoordinasi terlebih dahulu dan mendapat izin dari pihak PPD.
Setiap bakal calon dekan diberi waktu dua puluh menit untuk menyampaikan visi-misinya. Rapat senat terbuka berlangsung dari pukul 09.30 hingga pukul 12.30 WIB. Salah seorang perwakilan mahasiswa, Dinar Fitra M., sesaat sebelum rapat senat terbuka usai, diberi kesempatan oleh PPD untuk menyampaikan beberapa hal di hadapan peserta rapat. Dinar meminta kepada para bakal calon dekan untuk menandatangani Komitmen Sikap Dekan. Komitmen Sikap Dekan adalah surat yang berisi aspirasi  yang ditujukan kepada dekan terpilih agar melaksanakan sebagai mana yang tertera pada poin-poin dalam surat tersebut. Komitmen Sikap Dekan terdiri dari lima poin aspirasi mahasiswa. Pada bagian bawah terdapat kolom tanda tangan seluruh bakal calon dekan FIB, lengkap dengan materai 6.000.
Komitmen Sikap Dekan disambut baik oleh seluruh bakal calon dekan. Terbukti mereka bersedia membubuhkan tanda tangan di atas materai tanpa terkecuali. “Komitmen Sikap Dekan ini diharapkan dapat menjadi alarm, bagi siapa pun dekan yang nantinya terpilih,” ungkap Dinar, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Undip.
Rapat senat terbuka berakhir dan dilanjutkan rapat senat tertutup yang dimulai pukul 13.00 WIB. Rapat senat tertutup dihadiri dua puluh dari dua puluh satu anggota Senat FIB.
Hasil Penjaringan aspirasi terhadap warga FIB yang dilakukan PPD dipaparkan kepada anggota senat.  Penjaringan aspirasi dilakukan sebelum rapat senat FIB terhadap mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan. Tujuannya adalah untuk mengetahui siapakah Dekan FIB periode 2015-2019 yang menjadi pilihan warga FIB. Penjaringan tersebut dikelompokkan menjadi dua, pertama penjaringan aspirasi terhadap dosen dan tenaga kependidikan, kedua penjaringan aspirasi terhadap mahasiswa.
Selain itu, dipaparkan pula penjaringan aspirasi yang dilakukan oleh BEM FIB. Penjaringan tersebut untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap pemilihan calon dekan FIB Undip. Pemaparan tersebut tidak mempengaruhi perolehan suara. Akan tetapi hanya dijadikan bahan pertimbangan oleh anggota senat dalam memilih dekan. Keputusan mutlak tetap berada di tangan senat.
Rapat kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tata tertib pelaksanaan pemilihan dekan. “Sebagai ketua panitia memaparkan hasil penjaringan aspirasi terus kemudian saya lanjutkan dengan pembacaan tata tertib pemilihan dekan,” ujar Yety Rochwulaningsih, Ketua Panitia Pemilihan Dekan FIB Undip.
Setelah pembacaan tata tertib, kemudian dilanjutkan dengan pemungutan suara. Setiap anggota senat memiliki hak satu suara. Termasuk bakal calon dekan juga dapat ikut memilih, namun dengan mempergunakan haknya sebagai anggota Senat FIB. Proses pemilihan dilakukan dua tahap. Tahap pertama, menjaring bakal calon dekan dari lima menjadi tiga. Setelah terpilih tiga, kemudian dari tiga itu dipilih lagi menjadi satu. Namun jika pada tahap pertama saja sudah terdapat calon dekan yang memperoleh suara 50% + 1, maka pemilihan cukup dilakukan satu tahap.
“Kalau dari pertama saja sudah ada 50%+1, sudah sekali cukup. 50%+1 ya sudah, itu saja terus diusulkan, kita kan menjaring tiga, tiga calon itu yang diusulkan ke pusat, tapi kalau belum ada yang 50%+1, berarti kita lakukan tahap kedua,” terang Yety.
Penghitungan suara usai. Rapat tertutup Senat FIB untuk Pemilihan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip, periode 2015-2019 berakhir pukul 14.30 WIB. Perolehan suara masing-masing bakal calon dekan sebagai berikut: Prof. Dr. Sutejo K. Widodo, M.Si. 1 suara, Dr. Muh Abdullah, M.Hum. 0 suara, Dr. Redyanto Noor, M.Hum. 11 suara, Dr. Ratna Asmarani, M.Ed.,M.Hum. 1 suara, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, M.Hum. 6 suara, Serta 1 abstain. Pemilihan cukup dilakukan satu tahap. Dengan demikian Dr. Redyanto Noor, M.Hum dinyatakan sebagai Dekan Terpilih Fakultas Ilmu Budaya, periode 2015-2019.
 ***

Baca Selengkapnya......

Rabu, Oktober 29, 2014

Redyanto: "Cintailah Apa yang Anda Ingin Lakukan"

Setelah melewati proses panjang untuk memilih pimpinan baru Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dipongoro (Undip), akhirnya terpilih Drs. Redyanto Noor, M. Hum sebagai dekan baru FIB menggantikan Dr. Agus Maladi Irianto M.A. Laki-laki kelahiran Ponorogo, 7 Maret 1959 ini merupakan alumni S1 Fakultas Sastra Undip tahun 1984. Selesai lulus dari Undip beliau kembali ke Ponorogo dan menjadi pengajar sekaligus menjadi dosen di IKIP PGRI Ponorogo. Baru di tahun 1986 beliau kembali ke Semarang dan menjadi dosen di Fakultas Sastra Undip jurusan Sastra Indonesia setelah mendapat surat pemanggilan dari pihak kampus.
Dengan gaya santainya, lelaki yang suka mengisi waktu luangnya dengan olahraga Tenis ini menceritakan perjalanannya menjadi seorang dosen yang tetap memiliki semangat belajar. Beliau yang saat itu menjabat sebagai asisten dosen harus meninggalkan Semarang untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S2 Ilmu Susastra UI pada tahun 1990-1993. Setelah selesai dan mendapatkan gelar M. Hum, beliau kembali ke Undip dan melanjutkan tugasnya sebagai pengajar. Kemudian beliau mendapatkan jabatan sebagai sekertaris jurusan. “karena ketua jurusan pada waktu itu terpilih menjadi pembantu dekan satu, kemudian ketua jurusan setelah itu juga terpilih menjadi dekan, akhirnya saya merangkap menjadi ketua jurusan. Baru pada tahun ketiga pemilihan ketua jurusan saya terpilih.” Jelasnya.
Setelah lima tahun tidak menekuni pendidikan, akhirnya pada tahun 2007 beliau kembali melanjutkan studinya S3 di UGM mengambil konsentrasi Ilmu Susastra dan lulus tahun 2014 dengan predikat cumlaude yaitu 4,00. Beliau juga banyak menghasilkan karya-karya ilmiah yang salah satunya yaitu Dunia Pemikiran adalah Dunia Minoritas : Kritik Sastra Budi Darma yang terbit 6 Oktober 2004. Tahun 2000 beliau mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Setya 20 dari Presiden RI dan kembali mendapat penghargaan yang sama di tahun 2011.
“ Mahasiswa zaman sekarang itu mlempem semua, kalau zaman dulu itu mahasiswa militer kok tiap hari bengak-bengok di air mancur termasuk saya.’’ Tutur pak Redy saat ditanya mengenai pergolakan yang dialami mahasiswa saat ini. Saat pertama kali menjadi mahasiswa Undip beliau ikut tinggal bersama kakaknya yang seorang militer dan tinggal di daerah Ksatrian. Dosen yang biasa dipanggil pak Redy ini mengaku sangat mencintai dunia mengajar, karena menurut beliau dengan mengajar beliau dapat menambah ilmu dengan selalu membaca buku bahan ajaran untuk mahasiswa.
Meskipun sekolahnya sempat terhenti karena beliau menjadi dosen di Undip namun semangatnya untuk tetap bisa belajar sangat tinggi. Terbukti saat usianya sudah tergolong tidak muda lagi beliau masih melanjutkan studinya sampai ke jenjang S3. “ Saya itu aneh, saya menjadi semangat belajar ketika saya melihat mahasiswa saya” tutur suami dari salah seorang alumni Undip jurusan Sastra Inggris. Ayah dari 2 orang anak ini gemar memancing dan nonton sepak bola. Beliau menjelaskan sambil tersenyum “ Kalau saya sudah punya agenda untuk memancing tidak peduli kalau mau ada mahasiswa yang datang ke rumah untuk bimbingan, sebelumnya saya udah menghubungi mereka kalau saya tidak bisa diganggu karena saya mau memancing.”
Berbicara tentang pengalaman pertama menjadi dosen, beliau mengaku ketika mengajar pertama kali beliau diawasi langsung oleh dosen senior. “ Saya waktu itu diawasi langsung oleh salah seorang dosen senior dan saya disuruh terlebih dahulu menyusun bahan ajar yang nantinya akan saya sampaikan ke mahasiswa saya.” Ungkapnya. Selain itu beliau juga menyampaikan menjadi seorang pengajar atau dosen itu harus serius dan cinta dengan apa yang akan dikerjakan, selain itu cintailah mahasiswa termasuk semua civitas akademika lainnya.
Laki-laki yang juga pecinta kucing ini mengungakapkan kalau tiap minggu pasti ada hari dimana beliau ikut ronda dengan warga di komplek perumahannya. Tidak hanya itu selain sering ikut ronda dengan warga disekitar komplek perumahannya beliau ternyata juga ikut kegiatan di sekitar kompleknya seperti bersih-bersih komplek dan mencangkul. “Saya senang kalau bisa ikut kumpul dengan warga disekitar komplek sini, soalnya saya takut mereka memiliki penilaian yang beda kepada saya, kayak misalnya disini kan saya posisinya seorang dosen sedangkan warga disekitar sini kan kebanyakan pekerjaanya seperti sopir, tukang bakso dll, saya itu paling takut kalau sampai dibenci sama orang.” Tuturnya.
 Pesan terakhir dari dekan terpilih FIB tersebut kepada para mahasiswa FIB “ Cintailah apa yang anda ingin lakukan. Jika anda ingin kuliah, maka cintailah buku. Dengan mencintai itu semua maka anda juga akan mencintai kampus anda.”

Baca Selengkapnya......

Rabu, Oktober 01, 2014

"Dipo Bersih Asri" yang Tidak Bersih

Oleh : M. Habib
Reporter : Citra Pertiwi R., Nurul M.W. Zain







Tembalang—Semarang (07/09/2014) para mahasiswa baru (maba) angkatan 2014 mengikuti acara terakhir dari rangkaian penerimaan mahasiswa baru yang bertajuk “Dipo Bersih Asri.”  Ribuan Maba menempati area huruf yang berada ditengah lapangan yang disusun dari kertas berwarana merah dan putih. Sekitar tiga ribu maba berhasil membentuk tulisan “AKU CINTA UNDIP” yang dikoordinir oleh beberapa panitia dan didokumentasikan oleh robot helicopter melalui udara tepat di atas tulisan tersebut. Sisi lapangan sebelah barat juga terdapat panggung dan tenda untuk para penampil, Rektor dan jajaran perwakilan Fakultas, beserta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Acara yang diprakarsai oleh BEM KM ini mendapat apresiasi dari Rektor Undip Prof. Sudharto P. Hadi, PhD. Dalam sambutannya, Sudharto membuka acara ini dengan berterima kasih banyak kepada para penggagas acara, karena telah mengadakan kegiatan untuk menyambut para Diponegoro Muda. Acara selanjutnya adalah penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PSM Undip yang menampilkan lagu Indonesia Raya, Hymne Undip, dan Mars Undip, yang membuat semangat menggelora di dalam stadion. Disusul kemudian perkenalan dan penampilan dari UKM Merpati Putih dan Marga Layu dari Silat, kemudian ada juga dari UKM KEMPO, INKAI, dan Karate Indo, serta ada penampilan dari kolaborasi Teater Dipo dan UKM Kesenian Jawa yang dipersembahkan untuk maba.

Setelah penampilan dari beberapa UKM, ada acara perkenalan BEM KM, BEM tiap fakultas, dan Himpunan Mahasiswa. Ketua Panitia Dipo Bersih Asri, Fandi Rahman menyebutkan bahwa masih ada fakultas yang tidak hadir pada kegiatan ini. Berdasarkan informasi dari Presiden BEM KM, Taufik Aulia Rahmat, BEM FISIP tidak dapat hadir karena memiliki agenda sendiri.  “Memang masih ada satu dari BEM FISIP kebetulan masih ada agenda yang bertabrakan sehingga belum bisa hadir.”  Acara Dipo Bersih Asri ini termasuk dalam rangkaian Orientasi Diponegoro Muda, namun acara ini tidak tercantum resmi dalam kalender akademik, sehingga terjadi kesimpangsiuran informasi atas kewajiban hadir dalam acara ini. Fandi mengharapkan untuk kedepannya acara seperti ini dapat diikutsertakan dalam kalender akademik. “Alangkah baiknya jika acara Dipo Asri Bersih ini masuk kalender akademik, jadi tidak lagi simpang siur informasinya. Makanya kemarin kita hanya melakukan informasi lewat media. Perlu koordinasi antara universitas dengan fakultas.” ujarnya.

Dari sesi pengenalan UKM terlihat suasana stadion yang tadinya tertib sudah menjadi tidak teratur. Terlihat beberapa mahasiswa yang ingin pulang dan bergerombol sendiri. Sampah kertas berwarna sudah mulai berserakan dimana-mana. Suasana berdebu dan gersang juga terlihat ditengah stadion karena banyak maba yang bergerombol dan jalan-jalan sendiri mencari tempat berteduh di pojok-pojok stadion. Dalam acara ini juga terlihat banyak sekali yang berfoto selfie, selain menjadi trend saat ini BEM KM rupanya memanfaatkan maraknya foto selfie untuk dilombakan pada acara ini.
Suasana berubah, Sambutan meriah dari para hadirin yang berada di dalam Stadion ditunjukkan ketika Ganjar Pranowo naik ke panggung untuk menyampaikan orasi terkait pendidikan karakter. Gubernur muda ini membuat para maba berbondong-bondong untuk mendekat ke panggung agar bisa melihat dengan jelas sosok Pemimpin Jawa Tengah. Dalam cuaca yang gersang dan berdebu, Ganjar tak segan turun dari panggung untuk menyapa para Diponegoro Muda. “Keren banget Pak Ganjar Pranowo, udah gitu mau berpanas-panasan bareng sama kita (red:kami)” Tanggap Tita selaku Maba jurusan Fisika yang mengikuti acara tersebut.

Acara ditutup dengan penampilan Perkusi Arsitektur Undip dan persembahan dari PSM yang mengiringi pelepasan seribu balon oleh Rektor dan Maba 2014. Sesi penutupan ini berlangsung meriah, dan yang tak kalah meriah adalah sampah kertas yang berserakan di acara dengan tajuk “Diponegoro Bersih Asri”. Deo, Maba jurusan Teknik Geologi mengomentari tentang sampah yang berserakan pada akhir acara, “Harusnya kalau sudah selesai gini dikumpulin dibersih-bersihin dahulu, biar bersih lagi.”***

Baca Selengkapnya......

Mahasiswa Ideal (Juara II Sayembara Menulis Hayamwuruk)

Oleh : Bangkit Iswadi* 





Di era globalisasi sekarang ini, seringkali kita jumpai lulusan sarjana yang susuah mendapatkan kesempatan untuk berkerja, dan menjadi mahasiswa bukan jaminan untuk sukses. Semakin banyak orang kuliah maka semakin banyak orang yang akan menganggur. Kualitas mahasiwa zaman sekarang banyak mengalami penurunan “harga” dibanding dengan mahasiswa zaman dulu. Hal itu bisa disebabkan karena adanya pergeseran nilai-nilai etika yang mempengaruhi budaya kita.
Sebagai seorang mahasiswa yang menjalankan kehidupan perkuliahan, tentu harus memilik cara sendiri untuk bisa survive di lingkungan yang penuh persaingan ini. Cara termudah pastilah dengan rajin masuk kelas dan mendapatkan nilai yang baik. Akan tetapi jika mengacu pada judul di atas, tentu cara ini masih belum cukup untuk menghantarkan kita menjadi mahasiswa ideal. Karena dalam “dunia kampus” kita juga harus bisa mengkombinasikan berbagai aspek yang terdapat di dalamnya.
Akademis memang menjadi prioritas utama. Sesuai dengan peran akademiknya, yakni mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kegiatan kuliahnya, di mana harus selalu fokus dalam menuntut ilmu dan pengembangan wawasan, menghasilkan berbagai inovaasi dan prestasi, serta berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan akademik, yang diharapkan dapat memberikan citra baik bagi masyarakat luas.

Hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata, yakni, aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan atau organisasi-organisasi di kampus. Aktif dalam organisasi berguna untuk mengembangkan minat dan bakat, dan juga menambah wawasan kita terhadap lingkungan kampus. Selain itu juga melatih soft skill, yang akan berdampak terhadap “dunia kerja” kita nantinya. Seperti kemampuan berinteraksi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, berpikir logis-sistematis, kemampuan menyampaikan gagasan di muka umum, kemampuan melaksanakan fungsi manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, kemampuan dalam kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan permasalahan. Di mana dengan kemampuan yang terbentuk ini, maka seorang akademisi ketika memasuki dunia kerja akan lebih tanggap, terampil, cekatan, dan mampu beradaptasi dengan baik. Lain halnya dengan meraka yang semasa kuliah tidak aktif berorganisasi, maka ketika memasuki dunia kerja dia baru mulai mempelajari keterampilan-keterampilan di atas. 

Hal ini membutuhkan waktu, dan kadang membuat atasan kurang respek, karena semestinya ketika memasuki dunia kerja seseorang benar-benar telah siap bekerja, bukannya baru belajar dari awal.
Spiritual adalah hal yang tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan kita. Ini merupakan suatu keharusan yang berjalan seiring seirama dalam kehidupan perkuliahan. Karena spiritual adalah dasar dan pedoman kita dalam menjalankan kehidupan. Mengabaikan spiritual akan berdampak terhadap pembentukan moral kita. Begitu banyak kita saksikan orang-orang pintar dan pejabat tetapi bermoral bejat. Berbagai kasus memalukan dilakukan orang-orang tersebut. Sebut saja salah satunya seperti anggota DPR yang menonton film tidak senonoh saat rapat dilaksanakan atau yang lebih fatal lagi saat terjadi penyelewengan dana untuk kitab suci yang dilakukan oleh menteri kita. Mereka bukan bodoh, mereka justru bisa duduk dengan jabatan mereka karena kepintaran mereka. Tetapi moral mereka yang rusak, telah menjerumuskan mereka dan hal-hal ini harus dihindari oleh segenap civitas akademika. Sebagai mahasiswa yang berpendidikan tinggi, kita mengemban peran moral, yakni di mana mahasiswa harus menjaga perilaku dan tindak-tanduknya sebagai mahasiswa yang berakhlak dan menajdi tauladan bagi setiap orang di sekitarnya. Hendaknya kita juga selalu aktif dalam dakwah dan menghimbau sesame untuk berbuat kebaikan. Karena dengan kemampuan spiritual yang baik, akan terbentuk lingkungan yang berbudi pekerti, sehingga akan terwujud tata kehidupan yang lebih beradab.

Sesuatu yang bisa dikesampingkan tetapi tidak mungkin ditinggalkan, mungkin itulah yang tepat untuk menggambarkan kata “pergaulan”. Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan satu sama lain, tentu kita harus tetap menjaga “tali pergaulan” kita. Dan sebagai seorang remaja kita pasti membutuhkan teman dekat atau sekadar teman hang out. Tetapi dengan menyandang status sebagai seorang mahasiswa, kita tenu harus bisa memilih pergaulan mana yang harus kita ikuti. Tidak hanya sekadar berteman, tetapi kita juga menjadikan pergaulan sebagai ajang memperluas wawasan dan bertukar pikiran satu sama lain. Karena dengan itu kita dapat membangun komunitas mahasiswa yang hebat, yang tidak hanya berteman erat, tetapi juga mampu menciptakan atmosfer yang kuat di tengah bobroknya perilaku sosial remaja di masa ini.

Nah, mahasiswa ideal adalah mampu memposisikan dirinya dengan tepat di segala aspek di atas. Di sini dangat dibutuhkan kemampuan time management sehingga mahasiswa mampu membagi waktu dengan baik antara kuliah, berorganisasi, menyalurkan bakat atau hobi, belajar, bekerja atau pun bermain. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus memiliki komitmen yang kuat, karena dengan komitmen yang kuat seorang mahasiswa akan mampu untuk fokus, dan senantiasa tekun dalam menjalankan kehidupan perkuliahannnya. Mahasiswa ideal juga adalah orang yang bisa membangun motivasi di dalam dirinya, karena motivasi adalah pembangkit semangatnya yang akan menjadi “roh” dalam pencapaian tujuannya. Dan semua itu pastinya harus didasari dengan spiritual yang baik, taat beribadah, juga memiliki budi pekerti yang baik, karena budi pekerti adalah mata uang yang laku di mana saja, dan bisa untuk membeli apa saja. Dengan budi pekerti yang baik, simpati mudah didapatkan. Dengan budi pekerti yang baik, ketidaksukaan orang dapat dihapuskan. Dengan budi pekerti yang baik, hati dosen atau atasan dapat dibuat terkesan. Dengan budi pekerti yang baik, bantuan dan pertolongan orang lain juga tentu lebih mudah didapatkan.

Kit adalah mahasiswa. Sungguh menakjubkan karena tidak semua orang mendapatkan sebutan ini. Akan tetapi tidak banyak mahasiswa yang menyadarinya. Mereka justru hanya terlalu fokus pada kelas dan tugas saja. Padahal seharusnya kita bisa lebih aktif dalam setiap aktivitas kampus. Karena dengan lebih aktif, kita bisa lebih mengembangkan potensi dan meningkatkan kepedulian terhadap kampus. Lagipula, mengingat biaya perkuliahan yang tidak murah, alangkah baiknya kita sebagai mahasiswa bisa memberika dedikasi yang terbaik untuk orang tua kita. Melakukan semua yang terbaik dan tetap taat kepada agama. Karena bangsa ini ssudah cukup penuh dengan orang-orang yang cerdas ilmu tapi miskin moral. Kita adalah penggerak, dan kita adalah agent of change. Marilah terus berbenah, interospeksi diri, ubah pola pikir, dan jadilah mahasiswa ideal demi terwujudnya generasi pembangunan yang lebih baik.



*Penulis merupakan mahasiswa Sejarah Indonesia 2014

Baca Selengkapnya......