Rabu, Oktober 01, 2014

"Dipo Bersih Asri" yang Tidak Bersih

Oleh : M. Habib
Reporter : Citra Pertiwi R., Nurul M.W. Zain







Tembalang—Semarang (07/09/2014) para mahasiswa baru (maba) angkatan 2014 mengikuti acara terakhir dari rangkaian penerimaan mahasiswa baru yang bertajuk “Dipo Bersih Asri.”  Ribuan Maba menempati area huruf yang berada ditengah lapangan yang disusun dari kertas berwarana merah dan putih. Sekitar tiga ribu maba berhasil membentuk tulisan “AKU CINTA UNDIP” yang dikoordinir oleh beberapa panitia dan didokumentasikan oleh robot helicopter melalui udara tepat di atas tulisan tersebut. Sisi lapangan sebelah barat juga terdapat panggung dan tenda untuk para penampil, Rektor dan jajaran perwakilan Fakultas, beserta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Acara yang diprakarsai oleh BEM KM ini mendapat apresiasi dari Rektor Undip Prof. Sudharto P. Hadi, PhD. Dalam sambutannya, Sudharto membuka acara ini dengan berterima kasih banyak kepada para penggagas acara, karena telah mengadakan kegiatan untuk menyambut para Diponegoro Muda. Acara selanjutnya adalah penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PSM Undip yang menampilkan lagu Indonesia Raya, Hymne Undip, dan Mars Undip, yang membuat semangat menggelora di dalam stadion. Disusul kemudian perkenalan dan penampilan dari UKM Merpati Putih dan Marga Layu dari Silat, kemudian ada juga dari UKM KEMPO, INKAI, dan Karate Indo, serta ada penampilan dari kolaborasi Teater Dipo dan UKM Kesenian Jawa yang dipersembahkan untuk maba.

Setelah penampilan dari beberapa UKM, ada acara perkenalan BEM KM, BEM tiap fakultas, dan Himpunan Mahasiswa. Ketua Panitia Dipo Bersih Asri, Fandi Rahman menyebutkan bahwa masih ada fakultas yang tidak hadir pada kegiatan ini. Berdasarkan informasi dari Presiden BEM KM, Taufik Aulia Rahmat, BEM FISIP tidak dapat hadir karena memiliki agenda sendiri.  “Memang masih ada satu dari BEM FISIP kebetulan masih ada agenda yang bertabrakan sehingga belum bisa hadir.”  Acara Dipo Bersih Asri ini termasuk dalam rangkaian Orientasi Diponegoro Muda, namun acara ini tidak tercantum resmi dalam kalender akademik, sehingga terjadi kesimpangsiuran informasi atas kewajiban hadir dalam acara ini. Fandi mengharapkan untuk kedepannya acara seperti ini dapat diikutsertakan dalam kalender akademik. “Alangkah baiknya jika acara Dipo Asri Bersih ini masuk kalender akademik, jadi tidak lagi simpang siur informasinya. Makanya kemarin kita hanya melakukan informasi lewat media. Perlu koordinasi antara universitas dengan fakultas.” ujarnya.

Dari sesi pengenalan UKM terlihat suasana stadion yang tadinya tertib sudah menjadi tidak teratur. Terlihat beberapa mahasiswa yang ingin pulang dan bergerombol sendiri. Sampah kertas berwarna sudah mulai berserakan dimana-mana. Suasana berdebu dan gersang juga terlihat ditengah stadion karena banyak maba yang bergerombol dan jalan-jalan sendiri mencari tempat berteduh di pojok-pojok stadion. Dalam acara ini juga terlihat banyak sekali yang berfoto selfie, selain menjadi trend saat ini BEM KM rupanya memanfaatkan maraknya foto selfie untuk dilombakan pada acara ini.
Suasana berubah, Sambutan meriah dari para hadirin yang berada di dalam Stadion ditunjukkan ketika Ganjar Pranowo naik ke panggung untuk menyampaikan orasi terkait pendidikan karakter. Gubernur muda ini membuat para maba berbondong-bondong untuk mendekat ke panggung agar bisa melihat dengan jelas sosok Pemimpin Jawa Tengah. Dalam cuaca yang gersang dan berdebu, Ganjar tak segan turun dari panggung untuk menyapa para Diponegoro Muda. “Keren banget Pak Ganjar Pranowo, udah gitu mau berpanas-panasan bareng sama kita (red:kami)” Tanggap Tita selaku Maba jurusan Fisika yang mengikuti acara tersebut.

Acara ditutup dengan penampilan Perkusi Arsitektur Undip dan persembahan dari PSM yang mengiringi pelepasan seribu balon oleh Rektor dan Maba 2014. Sesi penutupan ini berlangsung meriah, dan yang tak kalah meriah adalah sampah kertas yang berserakan di acara dengan tajuk “Diponegoro Bersih Asri”. Deo, Maba jurusan Teknik Geologi mengomentari tentang sampah yang berserakan pada akhir acara, “Harusnya kalau sudah selesai gini dikumpulin dibersih-bersihin dahulu, biar bersih lagi.”***

Baca Selengkapnya......

Mahasiswa Ideal (Juara II Sayembara Menulis Hayamwuruk)

Oleh : Bangkit Iswadi* 





Di era globalisasi sekarang ini, seringkali kita jumpai lulusan sarjana yang susuah mendapatkan kesempatan untuk berkerja, dan menjadi mahasiswa bukan jaminan untuk sukses. Semakin banyak orang kuliah maka semakin banyak orang yang akan menganggur. Kualitas mahasiwa zaman sekarang banyak mengalami penurunan “harga” dibanding dengan mahasiswa zaman dulu. Hal itu bisa disebabkan karena adanya pergeseran nilai-nilai etika yang mempengaruhi budaya kita.
Sebagai seorang mahasiswa yang menjalankan kehidupan perkuliahan, tentu harus memilik cara sendiri untuk bisa survive di lingkungan yang penuh persaingan ini. Cara termudah pastilah dengan rajin masuk kelas dan mendapatkan nilai yang baik. Akan tetapi jika mengacu pada judul di atas, tentu cara ini masih belum cukup untuk menghantarkan kita menjadi mahasiswa ideal. Karena dalam “dunia kampus” kita juga harus bisa mengkombinasikan berbagai aspek yang terdapat di dalamnya.
Akademis memang menjadi prioritas utama. Sesuai dengan peran akademiknya, yakni mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kegiatan kuliahnya, di mana harus selalu fokus dalam menuntut ilmu dan pengembangan wawasan, menghasilkan berbagai inovaasi dan prestasi, serta berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan akademik, yang diharapkan dapat memberikan citra baik bagi masyarakat luas.

Hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata, yakni, aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan atau organisasi-organisasi di kampus. Aktif dalam organisasi berguna untuk mengembangkan minat dan bakat, dan juga menambah wawasan kita terhadap lingkungan kampus. Selain itu juga melatih soft skill, yang akan berdampak terhadap “dunia kerja” kita nantinya. Seperti kemampuan berinteraksi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, berpikir logis-sistematis, kemampuan menyampaikan gagasan di muka umum, kemampuan melaksanakan fungsi manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, kemampuan dalam kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan permasalahan. Di mana dengan kemampuan yang terbentuk ini, maka seorang akademisi ketika memasuki dunia kerja akan lebih tanggap, terampil, cekatan, dan mampu beradaptasi dengan baik. Lain halnya dengan meraka yang semasa kuliah tidak aktif berorganisasi, maka ketika memasuki dunia kerja dia baru mulai mempelajari keterampilan-keterampilan di atas. 

Hal ini membutuhkan waktu, dan kadang membuat atasan kurang respek, karena semestinya ketika memasuki dunia kerja seseorang benar-benar telah siap bekerja, bukannya baru belajar dari awal.
Spiritual adalah hal yang tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan kita. Ini merupakan suatu keharusan yang berjalan seiring seirama dalam kehidupan perkuliahan. Karena spiritual adalah dasar dan pedoman kita dalam menjalankan kehidupan. Mengabaikan spiritual akan berdampak terhadap pembentukan moral kita. Begitu banyak kita saksikan orang-orang pintar dan pejabat tetapi bermoral bejat. Berbagai kasus memalukan dilakukan orang-orang tersebut. Sebut saja salah satunya seperti anggota DPR yang menonton film tidak senonoh saat rapat dilaksanakan atau yang lebih fatal lagi saat terjadi penyelewengan dana untuk kitab suci yang dilakukan oleh menteri kita. Mereka bukan bodoh, mereka justru bisa duduk dengan jabatan mereka karena kepintaran mereka. Tetapi moral mereka yang rusak, telah menjerumuskan mereka dan hal-hal ini harus dihindari oleh segenap civitas akademika. Sebagai mahasiswa yang berpendidikan tinggi, kita mengemban peran moral, yakni di mana mahasiswa harus menjaga perilaku dan tindak-tanduknya sebagai mahasiswa yang berakhlak dan menajdi tauladan bagi setiap orang di sekitarnya. Hendaknya kita juga selalu aktif dalam dakwah dan menghimbau sesame untuk berbuat kebaikan. Karena dengan kemampuan spiritual yang baik, akan terbentuk lingkungan yang berbudi pekerti, sehingga akan terwujud tata kehidupan yang lebih beradab.

Sesuatu yang bisa dikesampingkan tetapi tidak mungkin ditinggalkan, mungkin itulah yang tepat untuk menggambarkan kata “pergaulan”. Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan satu sama lain, tentu kita harus tetap menjaga “tali pergaulan” kita. Dan sebagai seorang remaja kita pasti membutuhkan teman dekat atau sekadar teman hang out. Tetapi dengan menyandang status sebagai seorang mahasiswa, kita tenu harus bisa memilih pergaulan mana yang harus kita ikuti. Tidak hanya sekadar berteman, tetapi kita juga menjadikan pergaulan sebagai ajang memperluas wawasan dan bertukar pikiran satu sama lain. Karena dengan itu kita dapat membangun komunitas mahasiswa yang hebat, yang tidak hanya berteman erat, tetapi juga mampu menciptakan atmosfer yang kuat di tengah bobroknya perilaku sosial remaja di masa ini.

Nah, mahasiswa ideal adalah mampu memposisikan dirinya dengan tepat di segala aspek di atas. Di sini dangat dibutuhkan kemampuan time management sehingga mahasiswa mampu membagi waktu dengan baik antara kuliah, berorganisasi, menyalurkan bakat atau hobi, belajar, bekerja atau pun bermain. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus memiliki komitmen yang kuat, karena dengan komitmen yang kuat seorang mahasiswa akan mampu untuk fokus, dan senantiasa tekun dalam menjalankan kehidupan perkuliahannnya. Mahasiswa ideal juga adalah orang yang bisa membangun motivasi di dalam dirinya, karena motivasi adalah pembangkit semangatnya yang akan menjadi “roh” dalam pencapaian tujuannya. Dan semua itu pastinya harus didasari dengan spiritual yang baik, taat beribadah, juga memiliki budi pekerti yang baik, karena budi pekerti adalah mata uang yang laku di mana saja, dan bisa untuk membeli apa saja. Dengan budi pekerti yang baik, simpati mudah didapatkan. Dengan budi pekerti yang baik, ketidaksukaan orang dapat dihapuskan. Dengan budi pekerti yang baik, hati dosen atau atasan dapat dibuat terkesan. Dengan budi pekerti yang baik, bantuan dan pertolongan orang lain juga tentu lebih mudah didapatkan.

Kit adalah mahasiswa. Sungguh menakjubkan karena tidak semua orang mendapatkan sebutan ini. Akan tetapi tidak banyak mahasiswa yang menyadarinya. Mereka justru hanya terlalu fokus pada kelas dan tugas saja. Padahal seharusnya kita bisa lebih aktif dalam setiap aktivitas kampus. Karena dengan lebih aktif, kita bisa lebih mengembangkan potensi dan meningkatkan kepedulian terhadap kampus. Lagipula, mengingat biaya perkuliahan yang tidak murah, alangkah baiknya kita sebagai mahasiswa bisa memberika dedikasi yang terbaik untuk orang tua kita. Melakukan semua yang terbaik dan tetap taat kepada agama. Karena bangsa ini ssudah cukup penuh dengan orang-orang yang cerdas ilmu tapi miskin moral. Kita adalah penggerak, dan kita adalah agent of change. Marilah terus berbenah, interospeksi diri, ubah pola pikir, dan jadilah mahasiswa ideal demi terwujudnya generasi pembangunan yang lebih baik.



*Penulis merupakan mahasiswa Sejarah Indonesia 2014

Baca Selengkapnya......

Selasa, September 30, 2014

Mahasiswa Ideal (JUARA I SYEMBARA MENULIS HAYAMWURUK 2014)

Oleh : Nur Hakimah*






Mahasiswa Ideal! Ya, gabungan dua kata dari 'mahasiswa' dan 'ideal' di mana dari kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda namun berkolerasi dengan baik. Untuk definisi 'Mahasiswa' sendiri masih memiliki pernyataan yang berbeda-beda dari berbagai sumber prospek pemikiran setiap orang. Mulai dari pendefinisian bahwa 'Mahasiswa' adalah orang siswa yang berada di level paling tinggi. Ada pula yang mengatakan bahwa 'Mahasiswa' adalah mereka, kaum intelek yang memiliki jiwa nasionalis dan semangat membara sebagai aset pejuang negara. Ya, segelintir pendapat itu hanyalah memandang 'Mahasiswa' dari satu sudut pandang yang berbeda saja, bukan pendefinisian secara menyeluruh atau universal. Namun secara singkat, 'Mahasiswa' dapat didefinisikan sebagai orang yang berorientasi ke masa depan, rasional, memiliki tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri dan segala sesuatu yang bersangkutan, serta berkepribadian. Maksudnya adalah seorang mahasiswa memang benar memiliki status yang paling tinggi di deretan tingkat satuan pendidikan. Namun tak hanya itu saja, mahasiswa adalah mereka yang memiliki orientasi, prospek ataupun tujuan ke depan, kepada cita-cita yang luhur, berpikir secara rasional dan realistis, memiliki tanggung jawab atas semua yang menjadi tanggungan untuknya baik secara materiil maupun non materiil, serta mereka yang memiliki ciri, watak, kekhasan sebagai kepribadian yang baik.

Sedangkan untuk ideal itu sendiri adalah sangat sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Secara garis besarnya, mahasiswa ideal dapat diartikan sebagai seseorang mereka yang berkepribadian dan memiliki orientasi ke masa depan. Seseorang dapat dikatakan sebagai 'mahasiswa ideal' harus memiliki unsur-unsur pokok yang menjadi landasan, mengapa mereka bisa dikatakan sebagai 'mahasiswa ideal'. Memang tak banyak dari sekian ribu mahasiswa di Indonesia belum dapat dikatakan sebagai 'mahasiswa ideal'. Mengapa demikian? Salah satu faktor utamanya adalah, mereka, mahasiswa Indonesia belum menyadari betul apa peranan mereka, apa yang menjadi tanggung jawab mereka ketika mereka menyandang status sosial sebagai 'mahasiswa'. Kebanyakan dari mereka hanya menyadari bahwa mereka adalah putra/putri bangsa yang agung dengan pangkat 'maha-nya' yang melekat pada kata 'siswa'. Mereka yang hanya sekadar melaksanakan kewajiban mereka untuk datang ke kampus dan sekadar menyatakan bahwa, “Saya hadir dan datang untuk sebuah pengisian presensi” dan selebihnya mungkin tiada, maksudnya adalah tiada untuk menyibukkan diri dengan konsentrasi yang tinggi untuk mendengarkan dosen mata kuliah, menjelaskan materi yang menjadi tanggung jawab untuk disampaikan kepada mahasiswanya. Bagi mereka yang memiliki daya fokus yang tinggi, mungkin akan sedikit menyandarkan hati mereka untuk bisa memahami apa yang  dosen sampaikan. Namun, bagi mereka, mahasiswa yang hanya menyandarkan hati mereka pada status 'kehadiran' mungkin hanya akan diam dan sekadar untuk menggangguk-anggukan kepala bila mereka paham dan menggeleng-gelengkan kepala mereka, ketika tidak paham.

Salah satu kendala yang sering menjadikan mahasiswa Indonesia tidak menyadari betapa pentingnya peranan mereka sebagai 'maha-nya siswa' di negeri ini adalah konsistensi. Bila kita, sebagai mahasiswa Indonesia yang ideal, memiliki konsistensi yang tinggi, tentunya kita akan melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita sebagai 'maha-nya siswa' di kampus dan di masyarakat serta di negeri tercinta ini, Indonesia. Kita tidak hanya sebatas memenuhi ruangan perkuliahan dan membuat coretan di atas kertas presensi untuk sekadar pengisian kehadiran, namun kita juga perlu mengabdikan diri kita untuk masyarakat, sebagai aplikasi dari ilmu yang kita dapatkan selama kita belajar di bangku perkuliahan. Tidak hanya diam, duduk manis, dan menanti panggilan pekerjaan. Yang lebih utama untuk saat ini adalah bagaimana diri kita, mahasiswa Indonesia dapat mengaplikasikan ilmunya dengan baik  kepada masyarakat sekitar. Masyarakat yang perlu tahu dan mengerti dengan segala aspek kehidupan di sekitarnya. Menerapkan ilmu yang didapatkan untuk dedikasi yang tinggi kepada masyarakat yang sangat mengharapkan kehadiran 'seorang mahasiswa' yang mampu memberikan perubahan yang baik dan inovasi, di masyarakat tentunya, sebelum kita akan membenahi negeri kita ini.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan sebagai 'pemanasan awal' sebelum kita mempersiapkan diri secara penuh untuk pengabdian kepada masyarakat adalah dengan berorganisasi. Kita dapat bersosialisasi, berkomunikasi, berbaur dengan berbagai macam, bentuk, sifat dan pribadi yang berbeda-beda dari setiap mahasiswa dalam satu organisasi. Tentunya ilmu pertama yang sangat-sangat perlu kita dapatkan dan kita tanamkan dalam diri mahasiwa adalah leadership (kepemimpinan). Mengapa demikian? Ya, tentunya sebagai manusia yang sempurna dengan akal yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai pembeda antara makhluk ciptaan-Nya yang lain. Kita ini adalah pemimpin, sifat dasar manusia yang telah tertanam pada diri kita semenjak kita dilahirkan di bumi ini. Sifat dasar manusia yang masih perlu diasah kembali agar terbentuk menjadi pemimpin yang terbaik, untuk diri sendiri dan orang lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa di zaman ini, tak sedikit dari kita  yang belum menyadari bahwa kita adalah 'pemimpin', pemimpin untuk diri kita sendiri. Tentunya, naluriah pemimpin adalah mengajarkan kita, bagaimana kita dapat bersosialisasi, bertanggungjawab, disiplin untuk diri sendiri, yang nantinya, dari keterbentukan pemimpin ini akan berdampak baik atau buruk di masyarakat.

Perihal kedua adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri sendiri yang paling utama. Terhadap apa yang menjadi tugas kita sebagai mahasiswa, yaitu menyelesaikan segala tugas, makalah, skripsi hingga lulus tepat waktu, untuk D3 tak lebih dari 6 semester, dan untuk S1 tak lebih dari 8 semester. Jika kita juga mengikuti beberapa organisasi yang menjadi minat dan bakat kita, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab! Tekuni dan jalani semua aktifitasnya dengan sebaik mungkin. Tanpa perlu keluar dari koridor yang ada.

Yang terakhir adalah orientasi ke masa depan. Mahasiswa ideal akan terus optimis dan bergairah untuk prospek masa depan. Mulai sejak dini, membuat planning terdekat hingga beberapa tahun ke depan untuk membangkitkan gairah hidup yang penuh tantangan ini. Jika kita telah mempersiapkan segala sesuatunya saat ini, kita akan terus bersemangat dan optimis untuk masa depan kita. Tak perlu menunggu nanti, besok, lusa, ataupun beberapa hari kemudian untuk mengerjakan segala sesuatunya, bila saat ini juga kita mampu untuk menyelesaikannya.“Kebiasaanmu adalah pembentuk pribadimu. Jika engkau malas, pribadimu akan lemah. Jika engkau rajin, pribadimu akan kuat” (Mario Teguh).

Ya, jelas tergambarkan sedikit keterangan bahwasanya semua kembali pada diri kita. Apakah kita akan maju dan menjadi mahasiswa ideal, ataukah sebaliknya, kita akan mundur dan terpuruk hingga menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja? Sebesar apapun cita-cita kita, bila tiada usaha, ya tiada hasil. Pengorbanan sedikit untuk sesuatu hal yang besar tidaklah berat untuk dijalankan, meski awalnya terasa berat dan menjadi beban untuk permulaannya. Seperti halnya mahasiswa ideal yang sangat diidam-idamkan oleh setiap calon mahasiswa dan mahasiswa senior yang telah menyandang status mahasiswa bertahun-tahun. Jiwa kepemimpinan, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan orientasi ke masa depan merupakan modal utama untuk kita bisa menjadi mahasiswa ideal bagi diri sendiri maupun masyarakat luas. Ya, tak hanya intelektualitas yang diagung-agungkan, tetapi tindakan nyata kita yang dapat membangun dan membuat perubahan positif di lingkungan sekitarlah yang paling penting. Tetap optimis, berjiwa besar, dan teruslah bermimpi serta berusaha! Tiada kata malas dan menyerah untuk masa depan yang realistis dan inovatif!
Hidup Mahasiswa Indonesia yang Berbudaya!
Salam Budaya!***


*Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia 2014

Baca Selengkapnya......

Rabu, September 24, 2014

Pimnas 27; Antara Sukses dan Tidaknya Undip

Oleh : Fakhrun Nisa 
Reporter : M. Reza Mustafa



Menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara sekaliber Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) merupakan suatu kebanggan bagi civitas akademika Universitas Diponegoro. Acara bergengsi tingkat nasional yang juga difasilitasi oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) ini telah digelar di Undip pada tanggal 25-29 Agustus 2014. Acara serupa pernah diselenggarakan di Undip pada enam belas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1998. Pimnas bukanlah acara sederhana, melainkan acara besar dan memakan banyak biaya. Dana yang disediakan oleh Dikti sebesar 8M tidak bisa mencukupi kebutuhan pelayanan Pimnas secara keseluruhan, sehingga pihak panitia harus menjalin kerja sama dengan pihak luar kampus. Beberapa sponsor yang tampak membantu jalannya Pimnas antara lain BNI, Bank Mandiri, Telkom, dan lain sebagainya. Bila ditotal secara keseluruhan, pengeluaran Pimnas mencapai angka 12 Milyar. Kekurangan biaya didapat dari dana Undip yang memang sudah disiapkan sejak awal pencalonan, yakni sebesar 800 juta, dan sisanya merupakan bantuan dari pihak sponsorship berupa equal value. Menurut Bambang Sulistiyanto, sebagai ketua pelaksana Pimnas ke-27 di Undip, hal ini dilakukan demi memudahkan pembuatan laporan pertanggungjawaban keuangan.
Banyak akselerasi yang dilakukan oleh Undip dalam menyiapkan Pimnas 27. Seperti mempercepat proses pembangunan gedung G, H, I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, yang dipakai sebagai tempat pameran poster peserta Pimnas dan lomba poster non seleksi. Selain itu, Rusunawa yang digunakan sebagai tempat tinggal peserta juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti kasur, bantal, dan lainnya. Dari segi persiapan secara fisik tidak ada kendala yang berarti karena sistem yang diterapkan adalah akselerasi. Sementara itu, persiapan non fisik dilakukan dengan pemetaan sumber daya dan pemetaan Rancangan Anggaran Belanja (RAB).
Kehormatan yang didapatkan Undip sebagai tuan rumah Pimnas 27 memang membanggakan seluruh civitas akademika Undip. Namun sayang, kebanggaan tersebut tidak dibarengi dengan prestasi yang diraih kontingen Pimnas di ajang tersebut. Undip mendapatkan peringkat ke-8, turun dua tingkat dari Pimnas sebelumnya yang diselenggarakan di Universitas Mataram (Unram). Fokus Undip sebagai tuan rumah tak dipungkiri mengurangi perhatian kepada kontingen Undip di Pimnas 27. Bambang Sulistiyanto, ketua pelaksana Pimnas yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Peternakan dan Pertanian ini mengungkapkan bahwa Undip gagal dalam penyiapan tim, karena tidak ada satu pun yang berhasil memenangkan presentasi. Namun demikian ada keberhasilan yang Undip capai dalam hal penyiapan materi, yakni kemenangan poster yang meraih tiga emas dan satu perunggu. “Tahun ini saya nggak bisa intensif mendampingi mereka (kontingen Undip –red-)”, lanjutnya yang memang sering mendampingi kontingen Undip dalam menghadapi Pimnas.
Hal senada juga diakui oleh Umi Ardiningsih, kontingen Undip yang berjuang dalam bidang PKM-M (Pengabdian kepada Masyarakat). “Mereka lebih fokus menyiapkan Pimnas secara umum. Jadi kita kayak belum dijemput, kayak ditelantarin gitu. Tapi, over all semuanya bagus sih”, terang mahasiswa semester lima Fakultas Kesehatan Masyarakat ini. PKMnya yang berjudul “Produksi Handsang (Hand Sanitizer Berbahan Utama Pelepah Pisang) Sebagai Program Percontohan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kelurahan Rowosari Kec. Tembalang Kota Semarang” meraih emas untuk kategori poster.
Pimnas 27 di Undip memang telah berlalu, segala kritik dan kesan sudah didapat oleh para kontingen dari berbagi perguruan tinggi yang menjadi peserta Pimnas 27. Seperti yang diungkapkan oleh  Putra Astaman, mahasiswa asal Universitas Sriwijaya, “Fantastis. Luar biasa karena budayanya juga sudah sesuai dengan temanya ‘Berinovasi dan Berkreasi Dalam Kebhinekaan’. Apalagi saat opening ceremony, dan hal ini terlihat dari settingnya, dalam berbagai budaya dikolaborasikan menjadi satu kesatuan.” Terlepas dari segala gemerlap dan hingar-bingar Pimnas 27 di Undip, kini Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) memasuki babak baru. Tanggal 18 September 2014 menjadi batas akhir pengajuan proposal untuk didanai Dikti dan menjalani seleksi Pimnas tahun depan.
Di akhir pertemuannya dengan Tim Hayamwuruk, Bambang berpesan kepada mahasiswa Undip secara umum yang berkeinginan untuk mengikuti Pimnas ke-28. Bahwa banyak peraturan yang akan berubah di tahun depan dan tidak ada toleransi lagi untuk kesalahan-kesalahan yang sering terjadi, misalnya kesalahan format dan administrasi. Lebih lanjut pria berkaca mata ini menjelaskan bahwa masih banyak mahasiswa yang teledor dalam menyiapkan PKM, seperti kurangnya kosnsistensi mahasiswa dalam pengetikan format (misal pilihan jenis huruf), scanning tanda tangan, ketidaksesuaian isi dengan kop di atas, tanggal yang tidak sesuai antara proposal dan laporan kemajuan, laporan akhir masih menyebutkan ‘akan’ bukan ‘telah’, dan cropping tanda tangan. Kebiasaan mahasiswa yang menggunakan trik last minute pun disesali Bambang karena sering terjadi kendala teknis ketika mendekati batas akhir. “Jangan menggunakan last minute, mengerjakan pada detik terakhir. Kalau mau strategis dari awal buat surat lembar pengesahan untuk proposal, laporan kemajuan, dan sebagainya.” pesannya.
Menurutnya, butuh komitmen lembaga serta individu dan partisipasi pembimbing untuk mengontrol. Bagi mahasiswa yang PKM-nya didanai, Bambang berharap agar mahasiswa bekerja dengan sungguh-sungguh ketika monev (monitoring dan evaluasi). “Tahun ini masih berupa teguran, tahun depan disuruh untuk mengembalikan dana sepenuhnya”, tegasnya.***

Baca Selengkapnya......

Kamis, September 11, 2014

Menunggu Dekan Baru





Oleh: Iqbal Firmansyah
Reporter: Farida Sukma D. & Elly R.

Beberapa bulan lagi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (Undip) akan memiliki dekan baru. Hingga Saat ini, proses pemilihan calon dekan sudah memasuki tahap sosialisasi tata tertib pemilihan calon dekan kepada bakal calon dekan. Berdasarkan Time Schedule Pemilihan Calon Dekan, pada tanggal 21 Agustus yang lalu telah diadakan pertemuan antara Panitia Pemilihan Dekan (PPD) dengan Bakal Calon (Balon) Dekan FIB. Panitia mengundang para bakal calon dekan untuk menerima penjelasan mengenai tata tertib, tahapan-tahapan, serta jadwal rangkaian proses pemilihan calon Dekan FIB.
“Maksudnya kita jelaskan tata tertib rangkaian proses pemilihan calon dekan di FIB ini, termasuk tahapan-tahapannya dan jadwalnya,” ujar Yeti Rochwulaningsih selaku Ketua PPD FIB Undip, saat ditemui tim Hayamwuruk  di ruang PSA (Pusat Studi Asia) FIB Undip, Selasa (2/9/2014).
Pertemuan yang  digelar di ruang sidang FIB pada Kamis (21/8/2014) yang lalu , dihadiri oleh seluruh bakal calon dekan, kecuali Muh. Abdullah. Ia berhalangan hadir lantaran sedang melaksanakan tugas kelembagaan. Namun sebelumnya ia telah terlebih dahulu menyampaikan permohonan izin untuk tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut.
Selain dijelaskan mengenai tata tertib, dalam forum tersebut, bakal calon dekan juga menyampaikan beberapa hal yang menyangkut mekanisme pemilihan calon dekan. Salah satunya adalah desakan agar Panitia Pemilihan Dekan segera melakukan sosialisasi. Mereka meminta pihak panitia segera melakukan sosialisasi mengingat BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FIB sudah mengekspose di website. “Kan BEM FIB sudah mengekspose, kok PPD belum gitu, waktu itu belum mengekspose di website-nya FIB secara detail, padahal BEM FIB kan sudah melakukan e-vote.” Ujar Yeti,  mengulang komentar salah satu bakal calon.
Namun Yeti menyampaikan, hal itu dikarenakan para bakal calon dekan belum menyerahkan file foto, sehingga panitia tidak bisa segera mengekspose. ”Itu semua, waktu itu ada kendala juga untuk tidak segera mengekspose, karena foto. Kita minta filenya itu belum dikirim dari para kandidat”,  tutur Yeti menjelaskan.
Terlepas dari itu semua, apa yang disampaikan para bakal calon hanya sekadar masukan kepada panitia, karena segala aturan mengenai pemilihan calon dekan telah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Senat Fakultas. “Soal tata cara itu sudah baku, artinya mereka (bakal calon dekan) tinggal menerima informasi itu, tapi PPD juga terbuka untuk mendapat masukan-masukan.” kata Yeti.
Di forum itu juga disampaikan tentang rencana sosialisasi tahap berikutnya yang melibatkan mahasiswa, dosen serta tenaga kependidikan FIB. Para calon diminta menyiapkan materi yang nantinya akan dipaparkan di hadapan warga FIB. Secara teknis Yeti menjelaskan, penyampaian program akan dipisah antara mahasiswa dengan dosen dan tenaga kependidikan. Sosialisasi di hadapan dosen dan tenaga kependidikan akan dilaksanakan di ruang tertutup, yaitu ruang A.3.11 dengan alokasi waktu selama dua jam.
Sementara sosialisasi untuk mahasiswa akan dilaksanakan di tempat terbuka dan dengan alokasi waktu yang lebih lama, yaitu selama tiga jam, yang nantinya akan lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya-jawab. “Nanti di ruang terbuka situ, iya crop circle itu, di luar, karena jumlahnya kita pengennya banyak, supaya para calon juga tahu nanti apa yang dipikirkan para mahasiswa, apa yang diinginkan gitu, kita berikan waktu dengan mahasiswa itu tiga jam.”  jelas Yeti.
Lebih lanjut, Yeti menceritakan bahwa beberapa saat yang lalu dia baru saja menerima surat edaran dari rektor Undip. Di dalamnya berisi himbauan, agar pemilihan dekan fakultas di lingkungan Undip, dilaksanakan setelah pemilihan rektor. Seperti diketahui bahwa pemilihan Rektor Undip akan dilaksakan pada 29 September 2014, sedangkan pemilihan Dekan FIB akan dilaksanakan sehari sesudahnya, yaitu 30 September 2014. Hal itu tidak menjadi masalah mengingat pelaksanaan pemilihan Dekan di FIB sudah sesuai dengan himbauan dari rektor tersebut.
Namun dia memiliki kekhawatiran apabila pemilihan rektor mengalami kemunduran. Jika terjadi pengunduran jadwal pemilihan rektor, maka bukan tidak mungkin pemilihan Dekan FIB  juga mundur. “Kalau ini sesuai jadwal nggak masalah, kita kan setelah pemilihan rektor. Tapi kalau sampai nanti pemilihan rektornya mundur, kita ya mundur, karena memang kronologisnya begitu.” Ungkap Yeti.
Untuk mengantisipasi mundurnya jadwal pemilihan rektor, Yeti selaku Ketua PPD FIB, harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Senat Fakultas. Hal itu dikarenakan PPD tidak memiliki kewenangan untuk memajukan atau memundurkan jadwal pemilihan dekan. “Kita harus mengantisipasi begitu, soalnya kan segala sesuatu bisa terjadi, yang penting setelah pemilihan rektor. Kalau pemilihan rektor nggak berubah, kita nggak berubah. Kan bukan kewenangan PPD untuk memajukan atau memundurkan, tapi itu kewenangan senat, jadi PPD nanti melaporkan ke senat.” Ungkapnya.
Ia juga menyatakan, dalam waktu dekat, akan segera mengadakan rapat dengan pihak Senat Fakultas terkait terbitnya surat edaran dari rektor tersebut.
Wanita yang akrab disapa Bu Yeti ini berharap, pelaksanaan pemilihan calon dekan kali ini dapat menghasilkan dekan yang baik dan dapat memuaskan semua pihak. Dalam menjalankan tugasnya, PPD selalu memiliki prinsip untuk menyelenggarakan pemilihan calon dekan secara damai, penuh kekeluargaan, dan dapat menggembirakan semua pihak. “Jadi kita berusaha menghindari situasi faksional apalagi konflik, untuk apa. Kalau ada masalah kita selesaikan secara baik-baik.” Harapnya.
Sementara itu, Ketua BEM FIB Undip, Dinar Fitra Maghiszha menghimbau kepada segenap mahasiswa FIB agar turut berperan aktif dalam memberikan masukan kepada Panitia Pemilihan Dekan maupun Senat Fakultas, meskipun mahasiswa tidak terlibat langsung dalam pemilihan dekan. “Kita, walaupun bukan, walaupun nggak dapet suara, walaupun kita hanya bisa bicara, walaupun kita memang, apa namanya hanya bisa menonton dari bawah saja, kita harus bergerak, bergemericik. Elemen paling bawah itu harus bergemericik untuk bisa memberi semacam kejutan bagi yang di atas.” Ujarnya bersemangat.
Mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2011 itu memiliki harapan tersendiri terhadap Dekan FIB yang baru nantinya. Ia berharap dekan yang baru dapat lebih mendekatkan diri terhadap semua elemen yang ada di FIB,  tidak hanya mahasiswa, namun juga dosen, karyawan bahkan para alumni. Ia juga menekankan akan pentingnya komunikasi. “Siapapun aja dekan terpilihnya, aku rasa, sosok itulah yang memang harus lebih dekat dengan semua elemen, bukan mahasiswa saja elemen itu, mahasiswa, karyawan, dosen/pengajar setingkat, dan para alumni juga. Keterkaitan dengan alumni, kedekatan komunikasi yang paling baik. Lalu memusyawarahkan dan mentransparansikan semua agenda-agenda yang ada di fakultas. Ke semua elemen itu tadi.” Katanya.***

Baca Selengkapnya......

Selasa, September 09, 2014

Sayembara Menulis Hayamwuruk



Mengundang seluruh mahasiswa angkatan 2014/2015 untuk mengirimkan karya tulis terbaik kalian dengan tema Mahasiswa Ideal.
Tulisan berupa opini, diketik dengan font Times New Roman ukuran 12 serta spasi 1,5. Panjang tulisan +1000 kata.

Sayembara ini berlaku sejak tanggal 6 September 2014 hingga 12 September 2014. Karya dapat dikirim melalui surel (lpmhayamwuruk@gmail.com) atau diserahkan langsung ke kantor Redaksi Hayamwuruk gedung  A lantai 3 FIB Tembalang.

Tiga tulisan terbaik akan dimuat di buletin dan laman Hayamwuruk, serta
Pemenang pertama akan mendapatkan Rp 50.000,00 + bingkisan
Pemenang kedua akan mendapatkan bingkisan
Pemenang ketiga akan mendapatkan bingkisan

Baca Selengkapnya......

Saatnya Undip Memilih








Oleh: Ayu Mumpuni
Reporter: Rizkha Ayu Agustin

                Ada yang datang dan ada yang pergi, sepertinya begitulah yang sedang terjadi di rumah kita, Undip. Rektor kita, Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph. D,  rektor Undip saat ini akan mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 18 Desember 2014 mendatang. Serangkaian kegiatan untuk pemilihan Rektor sudah mulai dilaksanakan sejak bulan Juli lalu. Hal itu sesuai dengan ketentuan dalam peraturan Menteri Pendidikan, Kemendikbud no.33 th 2012 yang mengharuskan pemilihan Rektor sudah harus dijalankan lima bulan  sebelum masa jabatan Rektor yang sedang menjabat habis dengan melakukan penjaringan dan penyaringan.
                Dari Penjaringan yang dilakukan, sudah terdapat empat bakal calon yang akan bersaing memperebutkan kursi jabatan Rektor. Keempat calon tersebut adalah dosen-dosen Undip yang menyerahkan berkas untuk mendaftar menjadi bakal calon Rektor. Untuk mendaftar menjadi bakal calon rektor harus memenuhi beberapa syarat yang sudah diajukan, yaitu usia maksimum 60 tahun, memiliki gelar Profesor dan minimal pernah menjadi ketua jurusan.
                Setelah memiliki keempat kandidat tersebut, akan disaring lagi menjadi tiga calon. Penyaringan tersebut dilakukan dengan mengkaji kekuatan visi dan misi dari setiap kandidat. Pemaparan visi dan misi yang akan digelar pada tanggal 10 September nantinya akan bertempat di Aula Gedung Prof. Sudharto mulai pukul 08.00 sampai 12.00. Dalam pemaparan tersebut akan dihadiri seluruh anggota Senat Universitas aktif, alumni, dosen, staf, dan karyawan, beserta seluruh mahasiswa Undip. Diperkirakan akan ada 700 orang yang akan memenuhi ruangan tersebut untuk menjadi saksi atas program kerja yang dirancang bakal calon Rektor tersebut apabila terpilih menjadi orang nomor satu di Undip. Kemudian akan dilanjutkan oleh rapat Senat tertutup yang akan memutuskan siapa ketiga calon yang lolos ke tahap berikutnya.
                Dalam memilih satu orang dari ketiga calon yang sudah ada untuk menempati jabatan Rektor periode 2014-2018 memang tidak ada campur tangan mahasiswa. Rektor dipilih oleh 130 orang Senat Universitas yang memiliki hak suara sebesar 65% dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki hak suara sebesar 35%. Walaupun begitu, mahasiswa tetap bisa mengawal jalannya pemilihan Rektor yang sedang berlangsung ini.
                Salah satu wadah yang mengajak setiap mahasiswa di Undip untuk ikut terus mengawal jalannya pemilihan Rektor ini adalah Kementrian Dalam Negeri atau yang biasa disebut Dagri BEM KM Undip. “Ddi akhir sebelum liburan kita sebar kuesioner dan sudah kembali banyak begitu ya, Alhamdulillah dan sudah akan kita sampaikan kepada panitia dan Rektor termasuk nanti di hari Senin insya Allah tanggal 8 gitu ya akan menggelar temu langsung pascka konferensi pers .” jelas lelaki bernama lengkap Andicha Surya A, selaku .
                Kuisioner-kuisioner yang sudah diperoleh tersebut kemudian disampaikan kepada Senat Universitas sebagai masukan bagi calon rektor yang akan terpilih nantinya. Dalam obrolan di siang hari bersama Sekretaris Senat Universitas, Prof. Dr. Ir. Soenarso, MS  “Ya kami sampaikan ke rapat senat tertutup itu kita sampaikan dan ini masukan ini, ini dan mereka kan para anggota senat kan menyaksikan presentasi berarti pada calon rektor itu jadi tahu mana yang baik mana yang kurang baik mungkin ya begitu.” Jelas Prof Soenarso yang juga menjadi  Ketua Panitia dalam pemilihan Rektor kali ini.
                Selain itu mahasiswa jurusan Informatika yang menjabat sebagai Menteri Dagri BEM KM Undip menjelaskan usaha-usahanya bersama teman-teman Dagri, Sospol dan perwakilan tiap BEM fakultas seperti berikut “Ddalam waktu dekat ini kita akan sawangi satu-satu untuk menggali lebih jauh pada bakal calon rektor begitu, karena banyak nih informasi-informasi ya, udah panas itu udah banyak informasi yang ada di kita. Makanya kita akan sawangi satu-satu ya untuk lebih jauh, lebih dalam mendalami mereka.”
                Dalam hal ini Senat Universitas memfasilitasi mahasiswa untuk tetap mengawal jalannya pemilihan seperti penjelasan Prof. Dr. Sutedjo Kuwat Widodo, M.Si yang merupakan anggota Senat Universitas berikut “Itu kan nanti di satu ruangan kemudian ada TV monitor karena mungkin sangat terbatas ya ruangan itu sehingga yang lain itu bisa melihat dari TV monitor kan kalo di bawah ruang senat itu kan terbatas kalo auditorium itu kan luas sehingga TV monitornya itu di auditorium.” Dengan begitu mahasiswa atau karyawan serta dosen dapat melihat langsung kondisi di dalam ruangan saat pemilihan berlangsung.
                Memilih pemimpin baru sama saja memilih masa depan Undip mau dibawa ke mana, apalagi dengan status Undip sebagai PTN BLU (Berbadan Layanan Umum) sedang dalam proses menjadi PTN BH (Berbadan Hukum). “Undip akan setara  dengan UI, UGM,. ITB, UNAIR..” jelas sekeretaris Senat Universitas yang berasal dari Fakultas Peternakan dan Pertanian ini. Hal ini tentu menjadikan Pemilihan Rektor kali ini merupakan ajang milik semua elemen di dalam kampus dengan lambang Pangeran Diponegoro bukan hanya milik Senat Universitas.
                Walaupun rangking Undip di antara jajaran Universitas di dunia meningkat, akan tetapi masih banyak yang perlu diperbaiki dari sistem kepemimpinan Rektor Undip saat ini. Mulai dari keterbukaan informasi, pembangunan yang tidak merata, kurangnya tenaga kerja dosen, pendanaan untuk setiap kegiatan mahasiswa yang masih sangat minim, serta apresiasi terhadap mahasiswa berprestasi yang masih sangat kurang.
                Oleh sebab itu, banyak harapan yang muncul untuk Rektor Undip terpilih nantinya. Salah satunya dari Prof. Sutedjo yang juga merupakan salah satu dosen dari jurusan Sejarah berharap Rektor Undip yang nantinya terpilih mempunyai visi dan misi yang jauh ke depan dan harus mempunyai keberanian. Keberanian tersebut diharapkan bisa menterjemahkan peraturan-peraturan yang ada demi kemajuan Undip ke depannya. Rektor terpilih pun juga dituntut menanamkan Kejujuran pun diharapkan bagi Rektor terpilih nantinya, karena bagi dosen yang juga merupakan calon Dekan FIB ini berani tanpa memiliki kejujuran tidak akan membawa Undip pada sebuah perubahan.

Baca Selengkapnya......

Sabtu, September 06, 2014

FIB Undip Ajak Mahasiswa Baru Bangga Berbudaya

Susana Pentas Apresiasi Seni Mahasiswa Ilmu Budaya 2014


Tembalang- Hari terakhir Pendidikan Karakter, FIB Undip gelar acara bertajuk “Pentas Apresiasi Seni Mahasiswa Baru FIB Undip 2014”. Acara ini merupakan serangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru FIB.  Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, acara kali ini dilaksanakan di luar ruang kelas, tepatnya di area Parkir Timur FIB.

Selain acara pentas seni, digelar pula lomba-lomba permainan tradisional, seperti transfer air, transfer refleks, gobak sodor, balap karung, dan permainan-permainan lainnya. Tujuannya menurut Dinar adalah untuk menguatkan rasa solidaritas antara mahasiswa baru tiap jurusan dan juga merupakan salah satu upaya untuk lebih mengenal jurusan-jurusan lain di FIB.

Di samping acara pentas seni dan lomba permainan tradisional, dibuka pula stan yang diisi oleh Lembaga Kegiatan Mahasiswa FIB yang terdiri dari HMJ, UKM, HMPSD, BEM dan Senat Mahasiswa. “Tahun ini memang diadakan stan, supaya UKM-HM itu bisa lebih dekat lagi secara tatap mata, tidak lewat dunia maya”, ujar Dinar Fitra Maghisa selaku Presiden BEM FIB, Sabtu (6/9/2014) kepada tim Hayamwuruk. Lebih lanjut, Mahasiswa Ilmu Sejarah 2011 ini menjelaskan diadakannya stan ini baru tahun pertama dan merupakann inisiatif dari BEM dan LKM untuk memanfaatkan celah-celah kosong. “Kita ada celah kosong, dari pada kosong dan hanya nyayi-nyanyi biasa, kita ada stan-stan para UKM-HMJ seperti itu” katanya
Dini mahasiswa baru Sastra Inggris mengaku bahwa acara pentas seni ini menarik, terlebih dengan penampilan-penampilan budaya yang dibawakan oleh mahasiswa baru. Namun ia juga mengeluhkan perihal lokasi yang ada di luar kelas. “Acaranya sih udah keren. Tapi lokasinya panas banget, jadi kita sebagai penonton kurang semangat gitu kalau kepanasan.”

Pembantu Dekan III FIB, Mujid Farihul Amin,  menjelaskan bahwa konsep pentas seni dipilih untuk menampilkan karakter dari FIB sendiri sebagai Kampus Budaya. “Karena kita kan namanya juga Fakultas Ilmu Buadaya. Jadi selain kita harus melestarikan kebudayaan yang meliputi bukan hanya budaya dalam artian kesenian, kita juga ada permainan tradisional. Setelah permainan tradisional juga ada kesenian yang dari berbagai daerah dan juga ada seni yang lain”, ujarnya.

Lelaki berkacamata ini juga menuturkan bahwa acara ini lebih meriah dari tahun sebelumnya. Namun dia juga menyayangkan kendala teknis yaitu padamnya listrik dan cuaca yang kurang mendukung, sehingga sempat mengganggu jalannya acara. Meski demikian acara tetap berjalan lancar karena antusiasme yang tinggi dari mahasiswa baru.   


Acara pentas seni dimulai dari mulai pukul 10.00-16.00 WIB. Dan di akhir acara nanti juga akan diadakan Closing Ceremony

Baca Selengkapnya......

Selasa, Juli 08, 2014

FIB Memilih Dekan

Oleh : Nurul M.W. Zain
Reporter : Reza Mustafa, Deviana K.,





















Bila waktu adalah rangkaian titik, inilah saat yang menjadi titik-titik akhir masa kepemimpinan Birokrasi setiap fakultas di Universitas Diponegoro (Undip), sebelum akhirnya dilakukan pergantian. Hal ini merujuk pada Surat Keputusan (SK) Rektor No. I Tahun 2010 tentang tata cara pemilihan pimpinan Undip dan Pimpinan fakultas di Undip, yakni pada Pasal 15 yang berbunyi “Pengusulan pengangkatan Dekan didasarkan pada hasil pemilihan dan pemberian pertimbangan Senat Fakultas.” didukung Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi “Pemilihan dan pemberian pertimbangan serta penetapan nama calon Dekan dilakukan melalui rapat Senat Fakultas yang khusus untuk maksud tersebut selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum masa tugas Dekan berakhir.”

“Dalam kepanitiaan Pildek ada ketua, sekretaris, dan lima Orang anggota, Saya sebagai ketua, dan Bu Yaning sebagai Sekrataris”, Papar Yety Rochwulaningsih saat ditemui tengah bersama Sukarni Suryaningsih di ruang Pusat Studi Asia (PSA) Gedung B FIB. Lebih lanjut wanita berambut pendek ini menjelaskan bahwa lima orang yang menjadi anggota adalah Prof. Iriyanto Widisuseno, M. Hum., Drs. Muhammad Muzakka, M. Hum., Dra. Rukiyah, M. Hum., Dr. Alamsyah, S.S., M. Hum., dan dari Kepala Tata Usaha ada Tri Wardoyo.”
Saat kami konfirmasi mengenai persiapan Pildek beliau menjawab persiapannya baru sampai pada tahap pemilihan anggota, rencananya bulan Juli minggu pertama akan diselenggarakan rapat panitia guna menentukan hal-hal yang terkait Pildek. Yety juga menuturkan persyaratan menjadi calon dekan yang paling utama adalah sudah mempunyai pengalaman struktural sebagai Ketua atau Sekretaris Jurusan/Prodi, kemudian jabatan fungsional minimal Lektor Kepala, pada saat mendaftar menjadi Balon (Bakal Calon) Dekan, usianya belum mencapai 60 tahun, masalah pendidikan pihak Universitas belum mensahkan, tetapi dalam statuta perguruan tinggi sudah ada rencana pendidikan minimal Strata 3. Ketika ditanya harapan ke depannya, Yety dan Yaning berharap dekan yang kelak terpilih dapat membawa fakultas ke jenjang yang lebih baik, dan punya rasa keberpihakan terhadap yang dipimpin.
Iriyanto Widisuseno,  Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Bahasa Jepang menyampaikan penjelasannya mengenai mekanisme pemilihan Dekan FIB saat Tim magang Hayamwuruk (Hawe) temui di kantornya. Iriyanto menuturkan mekanisme Pemilihan Dekan (Pildek) mengacu pada tradisi Universitas dan fakultas, yakni yang pertama dilakukan adalah penyusunan Tim panitia pemilihan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjaringan siapa yang mau mencalonkan. Iriyanto juga menambahkan kriteria Dekan harus mencakup dua aspek, yaitu aspek akademis dan aspek non akademis. Aspek akademis sendiri dilihat dari standar minimal jenjang pendidikan, sedangkan aspek non akademis ditinjau dari integritas moral.

Rukiyah, Salah satu anggota panitia memaparkan, Pildek dilaksanakan setiap bulan Agustus, anggotanya berjumlah minimal lima orang, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan selebihnya menjadi anggota. Ketua dan Sekretarisnya harus berasal dari Senat Fakultas, sedangkan anggotanya diambil dari Senat Fakultas, Dosen, dan tenaga pendidikan. Rukiyah menambahkan setelah Balon dekan mencalonkan diri dan dipilih oleh Senat Fakultas, lalu yang terpilih mensosialisasikan visi dan misinya.

Mekanisme Pildek yang diselenggarakan FIB tak jauh berbeda dengan Fakultas lain. “Karena memakai Undang-Undang (UU) yang sama, maka setiap fakultas sistemnya sama.” Demikian menurut Ngadiwiyana selaku Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Sains dan Matematika (FSM). Beliau mengungkapkan Dekan merupakan Idol yang pasti bisa mengembangkan fakultas, selain itu juga harus sejalan dengan Visi dan Misi Undip, sehingga sinkron dengan Universitas. Ngadiwiyana berharap untuk Dekan yang terpilih kelak bisa menjadi Top Leader di masing-masing fakultas, dan tidak sekadar menjadi pimpinan, tetapi benar-benar bisa mengoptimalkan sumber daya dan mengembangkan semua yang bisa dikembangkan. Dosen, Karyawan dan Mahasiswanya diberi ruang untuk berkembang. Beliau juga berpendapat, bahwa Mahasiswa tidak perlu turut serta dalam Pildek maksudnya disini yang penting bukan fisiknya yang langsung memilih, tetapi bagaimana  aspirasi Mahasiswa bisa masuk ke sana, karena dalam aturan Mahasiswa tidak bisa.

Suharyo, selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia berpendapat, mengenai mekanisme Pildek di FIB sudah merujuk terhadap aturan yang sudah ada. Tetapi, ketika beliau ditanya mengenai peranan mahasiswa dalam Pildek, Lelaki berkumis ini menuturkan, secara normatif mahasiswa belum bisa memilih secara langsung, karena dalam aturan yang sudah ada tadi, dekan hanya dipilih oleh anggota senat fakultas. Walaupun begitu, pihaknya cenderung senang jika melibatkan Civitas akademika, karena tingkat legitimasinya akan semakin kuat dibanding jika hanya dari anggota senat fakultas.

Belum semua mahasiswa FIB mengetahui perihal Pildek yang akan dilaksanakan akhir tahun ini, Andre findy misalnya, Mahasiswa S1 Sastra Indonesia 2013. “Kurang paham, saya kurang mengetahui tentang permasalahan ini, tapi saya berharap dekan yang akan terpilih nanti lebih bisa transparan terhadap lingkungan kampus, dan dapat merangkul mahasiswa, itu saja sudah cukup.”, ungkap Andre. Dirinya juga berharap mahasiswa bisa terlibat dalam mekanisme Pildek kelak.

Jika menilik ulang makna yang terkandung dalam SK Rektor di atas, mahasiswa memang tidak dapat terlibat secara langsung dalam Pildek. Namun mahasiswa diharapkan untuk tidak berpangku tangan menunggu keputusan saja. Mahasiswa harus terus menyuarakan aspirasinya agar sampai ke telinga pemegang birokrasi kampus. Bukanlah suatu kemustahilan jika aspirasi mahasiswa dapat berpengaruh dan mempunyai andil yang besar dalam Pildek kali ini.***

Baca Selengkapnya......

Kamis, Juni 26, 2014

Sabung Ayam; Tradisi atau Judi?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Elly R., Kaesthi






Kota Lama, Semarang (27/4),Suasana terik tak membuat kami gentar untuk menyusuri Kota Lama yang terkenal dengan banyak sejarah. Gedung-gedung putih yang tak terurus dan merupakan peninggalan Belanda itu menyisakan banyak cerita dan budaya. Salah satunya di sudut jalan dekat Gereja Blenduk tampak ramai dengan lalu lalang orang yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki.
Awalnya kami ragu-ragu untuk mendatangi kerumunan itu. Namun setelah bertemu dengan Muhyan (50) seorang petugas parkir, keragu-raguan kami menghilang.Ternyata keramaian di sana dikarenakan orang-orang yang tengah melestarikan budaya Ciung Wanara (sabung ayam).
Budaya Ciung Wanara ini bermula dari sebuah legenda di Kerajaan Galuh. Walaupun kebudayaan ini bukan berasal dari Semarang namun tradisi ini masih berlangsung hingga kini.  Muhyan (50) memaparkan bahwa adu ayam ini selain untuk melestarikan budaya juga merupakan hobi yang bisa menyegarkan pikiran setelah penat bekerja seminggu penuh. Maka tak heran jika setiap hari Minggu adalah hari yang paling ramai dikunjungi pemain dan juga penonton serta penjual, dimulai dari pagi hari hingga jam lima sore. Biasanya waktu paling ramai adalah ketika jam sebelas siang. Penonton tidak  hanya dari Kota Semarang saja tapi juga banyak dari kota lain di Jawa Tengah.
Untuk kriteria ayam yang sering diadu, Kristianto (34), seorang penjual ayam mengatakan bahwa ayam jago adalah ayam yang paling digemari oleh pemain. Harga ayam berkisar antara Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000. Harga ayam akan lebih tinggi jika ayam tersebut selalu menang. Kristianto menjelaskan bahwa ia bisa menjual 20-25 ekor ayam dalam sehari. Ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap sabung ayam relatif tinggi.
Haryono (61) penonton, mengatakan bahwa  dia ikut menonton sabung ayam ini dikarenakan hobi. Banyak orang mengira bahwa Ciung Wanara ini seperti judi dan dipandang sebelah mata. Menurutnya ayam ditandingkan di sini hanya untuk percobaan saja dan untuk menyalurkan hobi, bukan untuk judi.
Ketika kami mencari informasi lebih lanjut, banyak narasumber yang enggan memberikan informasi. Bahkan saat kami mewawancarai Kristianto, Lelaki be berkata “Ini nggak diekspos kan?” berbeda dengan pemaparan yang diuraikan Muhyan (50), “Sekarang ini banyak kebudayaan kita yang dianggap seperti gimana, padahal budaya itu harus dilestarikan, kayak di Jawa Barat adu domba. Itu mereka dilindungi, jadi itu tergantung lingkungan. Karena disini tidak mengganggu maka tidak pernah ada polisi yang datang”.
Dari dua pemaparan  mengenai sabung ayam ini maka kami kembalikan lagi pada pembaca. Apakah sabung ayam ini benar-benar sebuah tradisi turun-temurun atau menjadi sebuah ajang perjudian?***





Baca Selengkapnya......