Selamat datang di Website resmi LPM Hayamwuruk

Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Pelantikan Dekan FIB Undip 2015

Selamat atas dilantiknya Dr. Redyanto Noor, M. Hum. (15/01) sebagai Dekan FIB yang baru. Semoga bisa membawa FIB lebih baik.

Workshop Magang Dasar 2015

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (11/01) sebagai pintu masuk menjadi anggota magang LPM Hayamwuruk.

Proses Penghitungan Suara Pemira FIB Undip 2014

Proses penghitungan suara (30/12) puncak dari serangkaian kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) FIB.

Mahasiswa

Karya Toni Malakian, dalam Majalah LPM Hayamwuruk "Wajah Bias Mahasiswa".

Dari sini cerita dimulai

LPM Hayamwuruk berdiri pada tanggal 16 Maret 1983 dengan nama MUTASI. Tahun 1985 berganti nama Hayamwuruk. Ditulis dirangkai untuk membedakan dengan nama jalan Hayam Wuruk.

Jumat, Desember 04, 2015

PTUN Menangkan Gugatan Masyarakat Kendeng



Oleh: Resza Mustafa
Reporter: Risma Widyaningsih dan Hendra Friana

“Bumi Lestari! Bumi Lestari! Kendeng Lestari!”, teriak salah seorang ibu setelah dibacakan hasil putusan sidang oleh majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Jawa Tengah, sore waktu setempat.

Selasa (17/11), sidang terkait permasalahan konflik antarawargaKabupaten Pati, yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK) dengan Pemerintah Kabupaten Pati resmi diputuskan. Putusan sidang perkara yang ditangani oleh pihak mejelis hakim dengan hakim ketua Adi Budi Sulistyo dari Universitas Negeri semarang (Unnes) berlangsung hampir 8 jam. Masyarakat sebenarnya telah melakukan penolakan berkali-kali terhadap rencana pendirian pabrik semen dengan alasan pembangunan pabrik semen berpotensi menghilangkan lahan pertanian seluas 180 hektar. Lahan yang akan digunakan untuk kebutuhan pembangunan pabrik tersebut merupakan lahan pertanian yang sangat produktif.
Putusan akhir memenangkan gugatan dari masyarakat Kendeng dan memerintahkan pembatalan Surat Keputusan Bupati Pati Nomor 660.1/4767 tentang izin lingkungan pembangunan pabrik semen dan penambangan. Lebih lanjut dalam putusannya, pihak majelis hakim mengutarakan kemenangan mutlak yang diraih oleh masyarakat Kendeng tidak lepas dari pertimbangan hasil penemuan data mengenai penerbitan izin lingkungan.Izin lingkungan tersebut bertentangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Kabupaten Pati dan azas umum dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik.Selain itu, ditemukannyapenemuan kasus dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang diajukan dari pihak penggugat, membuat majelis hakim semakin memantapkan pilihannya. “Ini menjadi pertimbangan majelis hakim untuk mengabulkan permohonan penggugat,” kata Adi, Selasa (17/11) petang seusai sidang.
Jalannya sidang terasa semakin haru ketika salah seorang warga yang memakai caping bertuliskan “Tolak Semen” masuk ke ruang sidang di tengah-tengah pembacaan kasus gugatan sedang berlangsung. Dengan memohon sambil berteriak dan mengangis, orang itu meminta majelis hakim untuk memenangkan gugatan masyarakat. Sementara suasana di luar juga begitu ramai karena adanya aksi demontrasi dan orasi massa besar-besaran dari masyarakat Kendeng (Pati, Blora, Rembang, Grobogan), teman-teman aktivis dan mahasiswa se-Jawa Tengah. Aksi demonstrasi ini dilakukan secara serentak dan terkoordinir setelah melaksanakan konsolidasi pada malam harinya.
Tidak ingin menerima kekalahan dan berlalu begitu saja, pada bulan Februari tahun 2016, pihak pemerintah Kabupaten Pati bersama dengan PT. Sahabat Mulia Sakti berencana mengajukan gugatan banding. Perkara perebutan atas hak milik tanah Kendeng, akan terus berlangsung panas dan alot karena masing-masing pihak saling bersikukuh pada pendiriannya.Terlepas dari itu semua, tanah Kendeng yang merupakan kawasan karst bebatuan kapur tengah membutuhkan penanganan pelestarian. Hal ini tercermin dari kondisi yang ada, di mana kawasan Kendeng menjadi satu-satunya harapan sumber mata air alami bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar. “Satu-satunya harapan air dari gunung yang sumbernya banyak sekarang, ya di Kendeng. Kalau buat tandur sawah ya airnya dari situ. Ronggoboyo saja sekarang sudah tidak ada air, asat. Di Muria sekarang dibuat Aqua”. Ungkap salah seorang warga Kendeng yang mengaharapkan kelestarian lingkungannya tersebut.***

Sukemi dan Sedulurnya Menjemput Keadilan



Oleh: Resza Mustafa
Reporter: Risma Widyaningsih dan Hendra Friana

Hari masih gelap gulita kala itu. Hawa dingin pun tak menyurutkan tekad segerombolan orang berpakaian Jawa serba hitam yang berjalan seperti perajurit perang. Dengan nafas terengah-engah mereka teenelusuri jalan pantura Kudus, Senin (16/11).Dengan menggendong tas dari kerdus yang berisikan perbekalan seadanya dan bendera Indonesia di sisi kanan kiri tas, mereka menuju Semarang. Samar-samar pada tas tertulis “Kendeng Menjemput Keadilan”.
            Kurang pirang kilo?”, tanya seorang wanita bernama Sukemi memecah suasana senyap rombongan yang ada di depannya. Wanita paruh baya itu tertinggal 20 meter di belakang rombongan. Sukemimerasa lelah yang begitu luar biasasetelah menempuh hampir 70 Kilometer di hari kedua long march. Kaki kanannya terlihat mengalami memar dengan koyo yang menempel nyaris terlepas. Sukemi terus melakukan perjalanan mengikuti rombongannya untuk sampai di Semarang yang jaraknya 52 kilometer lagi.
dok Inet.
Yu Kemi, begitu orang-orang sekitarnya biasa memanggil, merupakan salah satu warga yang bertempat tinggal di lereng Gunung Kendeng. Selain dia, anaknya juga telah membangun rumah di kawasan tersebut. “Rumah anak saya itu, enggak ada setengah kilo dari gunung. Di lereng”, ungkapnya. Sukemi khawatir akan kelangsungan hidup sanak keluarganya kelak, mengingat di daerah tersebut nantinya akan dibangun pabrik semen yang dianggap akan merusak lingkungan sekitar.
Kawasan pegunungan Kendeng utara memang dikenal sebagai lokasi yang strategis jika mau digunakan sebagai proyek penambangan bahan material bangunan. Memiliki sumber daya alam berupa bebatuan kapur, pegunungan Kendeng utara dinilai sebagai kawasan karst yang sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber bahan keuntungan kapital. Sayangnya, tidak semua keuntungan kapital bisa juga memberi keuntungan bagi sistem kehidupan. Justru sebaliknya, terkandang bisa merugikan bahkan merusak. Kekhawatiran mengenai hal merugikan dan merusak semacam itulah yang akhirnya, membuat Sukemi beserta warga lainnya menolak pembangunan pabrik semen.
Dalam aksi yang diikuti 40 orang ini tidak hanya berlatarbelakang sebagai masyarakat sekitar lereng saja, akan tetapi juga diikuti oleh beberapa rombongan saat tiba di daerah Demak.Sesampainya di Sayung, senin malamwaktu setempat,rombongan long marchsudah tidak mampu melanjutkan perjalanan. Selain terkendala masalah fisik yang kelelahan, hujan deras juga membuat rombongan sedulur long march Kendeng 122 kilometer akhirnya diangkut melalui truk menuju Museum Ronggowarsito, Semarang.
Sukemi menyeka keringat di dahi, leher dan tangannya ketika tiba di tempat transit, Ronggowarsito.Dia duduk di atas karpet yang disediakan oleh kawan-kawan aktivis.Hujan telah reda, namun gerimis masih membawa suasana temaram. Tim Hayamwuruk menghampiri dengan peralatan liputan seadanya, bersiap melakukan perbincangan. “Tadi malam, jalan. Siang jalan lagi, kakinya tu bengkak engga bisa jalan. Engga saya rasakan, berjuang demi gunung”, tandasnya ketika kami wawancara pasca melakukan aksi jalan.
Sukemi mengaku senang bisa ikut berpartispasi dalam aksi long march, meski belum mengetahui hasil putusan gugatan di PTUN. Gugatan tersebut baru akan mendapatkan hasil esok hari. Bagi Sukemi, dapat berkontribusi dan bergerak bersama dengan sedulur-sedulurnya demi memperjuangkan kelestarian tanah kelahiran leluhur saja sudah membuatnya puas. Harapan Sukemi, besok rakyat akan memenangkan gugatan. Jika tidak, maka dia dan sedulur-sedulurnya akan terus melakukan aksi perjuangan lanjutan.
Sukemi masih terduduk, sambil mengurut betis dan memijat kecil sebagian telapak kaki yang kapalan. Kura-kura kakinya terlihat membengkak agak besar. Meski demikian, semangatnya terlihat terus berkobar. Senyum menghiasi wajahnya saat pihak kami menyatakan maksud berpamitan. “Kalau nanti kalian jadi orang yang berandil dalam memutuskan suatu permasalahan, dan itu menyangkut rakyat, menangkanlah rakyat.”, ujarnya di sela perbincangan akhir. Setelah berbincang dengan Tim Hayamwuruk, Sukemi pun menyiapkan tempat untuknya tidur seperti sedulur-sedulurnya yang lebih dulu terlelap.
            Aksi long march 122 Kilometer ini dilakukan setelah warga empat desa di Kabupaten Pati mengajukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Semarang. Tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK), masyarakat mengajukan gugatansejak awal Maret lalu kepadaBupatiPati. Gugatan initerkait SK BupatiPatiNomor 660.1/4767 tahun 2014 tertanggal 8 Desember 2014 tentangizinlingkunganpendirianpabrik semen sertapenambangan di kawasan Karst PegununganKendeng Utara kepada PT.SahabatMuliaSakti (SMS). Perusahaan tersebut diketahui merpakananakperusahaan PT.Indocement Tunggal Prakarsa.Aksi jalan kaki dari pati menuju Semarang ini sebagai bentuk perjuangan dari gabungan masyarakat Kendeng (Pati, Blora, Rembang, Grobogan), teman-teman aktivis, dan mahasiswa untuk bergerak bersama dalam rangka menjemput hasil putusan gugatan di gedung PTUN Semarang.***