Kamis, September 11, 2014

Menunggu Dekan Baru





Oleh: Iqbal Firmansyah
Reporter: Farida Sukma D. & Elly R.

Beberapa bulan lagi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (Undip) akan memiliki dekan baru. Hingga Saat ini, proses pemilihan calon dekan sudah memasuki tahap sosialisasi tata tertib pemilihan calon dekan kepada bakal calon dekan. Berdasarkan Time Schedule Pemilihan Calon Dekan, pada tanggal 21 Agustus yang lalu telah diadakan pertemuan antara Panitia Pemilihan Dekan (PPD) dengan Bakal Calon (Balon) Dekan FIB. Panitia mengundang para bakal calon dekan untuk menerima penjelasan mengenai tata tertib, tahapan-tahapan, serta jadwal rangkaian proses pemilihan calon Dekan FIB.
“Maksudnya kita jelaskan tata tertib rangkaian proses pemilihan calon dekan di FIB ini, termasuk tahapan-tahapannya dan jadwalnya,” ujar Yeti Rochwulaningsih selaku Ketua PPD FIB Undip, saat ditemui tim Hayamwuruk  di ruang PSA (Pusat Studi Asia) FIB Undip, Selasa (2/9/2014).
Pertemuan yang  digelar di ruang sidang FIB pada Kamis (21/8/2014) yang lalu , dihadiri oleh seluruh bakal calon dekan, kecuali Muh. Abdullah. Ia berhalangan hadir lantaran sedang melaksanakan tugas kelembagaan. Namun sebelumnya ia telah terlebih dahulu menyampaikan permohonan izin untuk tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut.
Selain dijelaskan mengenai tata tertib, dalam forum tersebut, bakal calon dekan juga menyampaikan beberapa hal yang menyangkut mekanisme pemilihan calon dekan. Salah satunya adalah desakan agar Panitia Pemilihan Dekan segera melakukan sosialisasi. Mereka meminta pihak panitia segera melakukan sosialisasi mengingat BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FIB sudah mengekspose di website. “Kan BEM FIB sudah mengekspose, kok PPD belum gitu, waktu itu belum mengekspose di website-nya FIB secara detail, padahal BEM FIB kan sudah melakukan e-vote.” Ujar Yeti,  mengulang komentar salah satu bakal calon.
Namun Yeti menyampaikan, hal itu dikarenakan para bakal calon dekan belum menyerahkan file foto, sehingga panitia tidak bisa segera mengekspose. ”Itu semua, waktu itu ada kendala juga untuk tidak segera mengekspose, karena foto. Kita minta filenya itu belum dikirim dari para kandidat”,  tutur Yeti menjelaskan.
Terlepas dari itu semua, apa yang disampaikan para bakal calon hanya sekadar masukan kepada panitia, karena segala aturan mengenai pemilihan calon dekan telah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Senat Fakultas. “Soal tata cara itu sudah baku, artinya mereka (bakal calon dekan) tinggal menerima informasi itu, tapi PPD juga terbuka untuk mendapat masukan-masukan.” kata Yeti.
Di forum itu juga disampaikan tentang rencana sosialisasi tahap berikutnya yang melibatkan mahasiswa, dosen serta tenaga kependidikan FIB. Para calon diminta menyiapkan materi yang nantinya akan dipaparkan di hadapan warga FIB. Secara teknis Yeti menjelaskan, penyampaian program akan dipisah antara mahasiswa dengan dosen dan tenaga kependidikan. Sosialisasi di hadapan dosen dan tenaga kependidikan akan dilaksanakan di ruang tertutup, yaitu ruang A.3.11 dengan alokasi waktu selama dua jam.
Sementara sosialisasi untuk mahasiswa akan dilaksanakan di tempat terbuka dan dengan alokasi waktu yang lebih lama, yaitu selama tiga jam, yang nantinya akan lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya-jawab. “Nanti di ruang terbuka situ, iya crop circle itu, di luar, karena jumlahnya kita pengennya banyak, supaya para calon juga tahu nanti apa yang dipikirkan para mahasiswa, apa yang diinginkan gitu, kita berikan waktu dengan mahasiswa itu tiga jam.”  jelas Yeti.
Lebih lanjut, Yeti menceritakan bahwa beberapa saat yang lalu dia baru saja menerima surat edaran dari rektor Undip. Di dalamnya berisi himbauan, agar pemilihan dekan fakultas di lingkungan Undip, dilaksanakan setelah pemilihan rektor. Seperti diketahui bahwa pemilihan Rektor Undip akan dilaksakan pada 29 September 2014, sedangkan pemilihan Dekan FIB akan dilaksanakan sehari sesudahnya, yaitu 30 September 2014. Hal itu tidak menjadi masalah mengingat pelaksanaan pemilihan Dekan di FIB sudah sesuai dengan himbauan dari rektor tersebut.
Namun dia memiliki kekhawatiran apabila pemilihan rektor mengalami kemunduran. Jika terjadi pengunduran jadwal pemilihan rektor, maka bukan tidak mungkin pemilihan Dekan FIB  juga mundur. “Kalau ini sesuai jadwal nggak masalah, kita kan setelah pemilihan rektor. Tapi kalau sampai nanti pemilihan rektornya mundur, kita ya mundur, karena memang kronologisnya begitu.” Ungkap Yeti.
Untuk mengantisipasi mundurnya jadwal pemilihan rektor, Yeti selaku Ketua PPD FIB, harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Senat Fakultas. Hal itu dikarenakan PPD tidak memiliki kewenangan untuk memajukan atau memundurkan jadwal pemilihan dekan. “Kita harus mengantisipasi begitu, soalnya kan segala sesuatu bisa terjadi, yang penting setelah pemilihan rektor. Kalau pemilihan rektor nggak berubah, kita nggak berubah. Kan bukan kewenangan PPD untuk memajukan atau memundurkan, tapi itu kewenangan senat, jadi PPD nanti melaporkan ke senat.” Ungkapnya.
Ia juga menyatakan, dalam waktu dekat, akan segera mengadakan rapat dengan pihak Senat Fakultas terkait terbitnya surat edaran dari rektor tersebut.
Wanita yang akrab disapa Bu Yeti ini berharap, pelaksanaan pemilihan calon dekan kali ini dapat menghasilkan dekan yang baik dan dapat memuaskan semua pihak. Dalam menjalankan tugasnya, PPD selalu memiliki prinsip untuk menyelenggarakan pemilihan calon dekan secara damai, penuh kekeluargaan, dan dapat menggembirakan semua pihak. “Jadi kita berusaha menghindari situasi faksional apalagi konflik, untuk apa. Kalau ada masalah kita selesaikan secara baik-baik.” Harapnya.
Sementara itu, Ketua BEM FIB Undip, Dinar Fitra Maghiszha menghimbau kepada segenap mahasiswa FIB agar turut berperan aktif dalam memberikan masukan kepada Panitia Pemilihan Dekan maupun Senat Fakultas, meskipun mahasiswa tidak terlibat langsung dalam pemilihan dekan. “Kita, walaupun bukan, walaupun nggak dapet suara, walaupun kita hanya bisa bicara, walaupun kita memang, apa namanya hanya bisa menonton dari bawah saja, kita harus bergerak, bergemericik. Elemen paling bawah itu harus bergemericik untuk bisa memberi semacam kejutan bagi yang di atas.” Ujarnya bersemangat.
Mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2011 itu memiliki harapan tersendiri terhadap Dekan FIB yang baru nantinya. Ia berharap dekan yang baru dapat lebih mendekatkan diri terhadap semua elemen yang ada di FIB,  tidak hanya mahasiswa, namun juga dosen, karyawan bahkan para alumni. Ia juga menekankan akan pentingnya komunikasi. “Siapapun aja dekan terpilihnya, aku rasa, sosok itulah yang memang harus lebih dekat dengan semua elemen, bukan mahasiswa saja elemen itu, mahasiswa, karyawan, dosen/pengajar setingkat, dan para alumni juga. Keterkaitan dengan alumni, kedekatan komunikasi yang paling baik. Lalu memusyawarahkan dan mentransparansikan semua agenda-agenda yang ada di fakultas. Ke semua elemen itu tadi.” Katanya.***

Baca Selengkapnya......

Selasa, September 09, 2014

Sayembara Menulis Hayamwuruk



Mengundang seluruh mahasiswa angkatan 2014/2015 untuk mengirimkan karya tulis terbaik kalian dengan tema Mahasiswa Ideal.
Tulisan berupa opini, diketik dengan font Times New Roman ukuran 12 serta spasi 1,5. Panjang tulisan +1000 kata.

Sayembara ini berlaku sejak tanggal 6 September 2014 hingga 12 September 2014. Karya dapat dikirim melalui surel (lpmhayamwuruk@gmail.com) atau diserahkan langsung ke kantor Redaksi Hayamwuruk gedung  A lantai 3 FIB Tembalang.

Tiga tulisan terbaik akan dimuat di buletin dan laman Hayamwuruk, serta
Pemenang pertama akan mendapatkan Rp 50.000,00 + bingkisan
Pemenang kedua akan mendapatkan bingkisan
Pemenang ketiga akan mendapatkan bingkisan

Baca Selengkapnya......

Saatnya Undip Memilih








Oleh: Ayu Mumpuni
Reporter: Rizkha Ayu Agustin

                Ada yang datang dan ada yang pergi, sepertinya begitulah yang sedang terjadi di rumah kita, Undip. Rektor kita, Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph. D,  rektor Undip saat ini akan mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 18 Desember 2014 mendatang. Serangkaian kegiatan untuk pemilihan Rektor sudah mulai dilaksanakan sejak bulan Juli lalu. Hal itu sesuai dengan ketentuan dalam peraturan Menteri Pendidikan, Kemendikbud no.33 th 2012 yang mengharuskan pemilihan Rektor sudah harus dijalankan lima bulan  sebelum masa jabatan Rektor yang sedang menjabat habis dengan melakukan penjaringan dan penyaringan.
                Dari Penjaringan yang dilakukan, sudah terdapat empat bakal calon yang akan bersaing memperebutkan kursi jabatan Rektor. Keempat calon tersebut adalah dosen-dosen Undip yang menyerahkan berkas untuk mendaftar menjadi bakal calon Rektor. Untuk mendaftar menjadi bakal calon rektor harus memenuhi beberapa syarat yang sudah diajukan, yaitu usia maksimum 60 tahun, memiliki gelar Profesor dan minimal pernah menjadi ketua jurusan.
                Setelah memiliki keempat kandidat tersebut, akan disaring lagi menjadi tiga calon. Penyaringan tersebut dilakukan dengan mengkaji kekuatan visi dan misi dari setiap kandidat. Pemaparan visi dan misi yang akan digelar pada tanggal 10 September nantinya akan bertempat di Aula Gedung Prof. Sudharto mulai pukul 08.00 sampai 12.00. Dalam pemaparan tersebut akan dihadiri seluruh anggota Senat Universitas aktif, alumni, dosen, staf, dan karyawan, beserta seluruh mahasiswa Undip. Diperkirakan akan ada 700 orang yang akan memenuhi ruangan tersebut untuk menjadi saksi atas program kerja yang dirancang bakal calon Rektor tersebut apabila terpilih menjadi orang nomor satu di Undip. Kemudian akan dilanjutkan oleh rapat Senat tertutup yang akan memutuskan siapa ketiga calon yang lolos ke tahap berikutnya.
                Dalam memilih satu orang dari ketiga calon yang sudah ada untuk menempati jabatan Rektor periode 2014-2018 memang tidak ada campur tangan mahasiswa. Rektor dipilih oleh 130 orang Senat Universitas yang memiliki hak suara sebesar 65% dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki hak suara sebesar 35%. Walaupun begitu, mahasiswa tetap bisa mengawal jalannya pemilihan Rektor yang sedang berlangsung ini.
                Salah satu wadah yang mengajak setiap mahasiswa di Undip untuk ikut terus mengawal jalannya pemilihan Rektor ini adalah Kementrian Dalam Negeri atau yang biasa disebut Dagri BEM KM Undip. “Ddi akhir sebelum liburan kita sebar kuesioner dan sudah kembali banyak begitu ya, Alhamdulillah dan sudah akan kita sampaikan kepada panitia dan Rektor termasuk nanti di hari Senin insya Allah tanggal 8 gitu ya akan menggelar temu langsung pascka konferensi pers .” jelas lelaki bernama lengkap Andicha Surya A, selaku .
                Kuisioner-kuisioner yang sudah diperoleh tersebut kemudian disampaikan kepada Senat Universitas sebagai masukan bagi calon rektor yang akan terpilih nantinya. Dalam obrolan di siang hari bersama Sekretaris Senat Universitas, Prof. Dr. Ir. Soenarso, MS  “Ya kami sampaikan ke rapat senat tertutup itu kita sampaikan dan ini masukan ini, ini dan mereka kan para anggota senat kan menyaksikan presentasi berarti pada calon rektor itu jadi tahu mana yang baik mana yang kurang baik mungkin ya begitu.” Jelas Prof Soenarso yang juga menjadi  Ketua Panitia dalam pemilihan Rektor kali ini.
                Selain itu mahasiswa jurusan Informatika yang menjabat sebagai Menteri Dagri BEM KM Undip menjelaskan usaha-usahanya bersama teman-teman Dagri, Sospol dan perwakilan tiap BEM fakultas seperti berikut “Ddalam waktu dekat ini kita akan sawangi satu-satu untuk menggali lebih jauh pada bakal calon rektor begitu, karena banyak nih informasi-informasi ya, udah panas itu udah banyak informasi yang ada di kita. Makanya kita akan sawangi satu-satu ya untuk lebih jauh, lebih dalam mendalami mereka.”
                Dalam hal ini Senat Universitas memfasilitasi mahasiswa untuk tetap mengawal jalannya pemilihan seperti penjelasan Prof. Dr. Sutedjo Kuwat Widodo, M.Si yang merupakan anggota Senat Universitas berikut “Itu kan nanti di satu ruangan kemudian ada TV monitor karena mungkin sangat terbatas ya ruangan itu sehingga yang lain itu bisa melihat dari TV monitor kan kalo di bawah ruang senat itu kan terbatas kalo auditorium itu kan luas sehingga TV monitornya itu di auditorium.” Dengan begitu mahasiswa atau karyawan serta dosen dapat melihat langsung kondisi di dalam ruangan saat pemilihan berlangsung.
                Memilih pemimpin baru sama saja memilih masa depan Undip mau dibawa ke mana, apalagi dengan status Undip sebagai PTN BLU (Berbadan Layanan Umum) sedang dalam proses menjadi PTN BH (Berbadan Hukum). “Undip akan setara  dengan UI, UGM,. ITB, UNAIR..” jelas sekeretaris Senat Universitas yang berasal dari Fakultas Peternakan dan Pertanian ini. Hal ini tentu menjadikan Pemilihan Rektor kali ini merupakan ajang milik semua elemen di dalam kampus dengan lambang Pangeran Diponegoro bukan hanya milik Senat Universitas.
                Walaupun rangking Undip di antara jajaran Universitas di dunia meningkat, akan tetapi masih banyak yang perlu diperbaiki dari sistem kepemimpinan Rektor Undip saat ini. Mulai dari keterbukaan informasi, pembangunan yang tidak merata, kurangnya tenaga kerja dosen, pendanaan untuk setiap kegiatan mahasiswa yang masih sangat minim, serta apresiasi terhadap mahasiswa berprestasi yang masih sangat kurang.
                Oleh sebab itu, banyak harapan yang muncul untuk Rektor Undip terpilih nantinya. Salah satunya dari Prof. Sutedjo yang juga merupakan salah satu dosen dari jurusan Sejarah berharap Rektor Undip yang nantinya terpilih mempunyai visi dan misi yang jauh ke depan dan harus mempunyai keberanian. Keberanian tersebut diharapkan bisa menterjemahkan peraturan-peraturan yang ada demi kemajuan Undip ke depannya. Rektor terpilih pun juga dituntut menanamkan Kejujuran pun diharapkan bagi Rektor terpilih nantinya, karena bagi dosen yang juga merupakan calon Dekan FIB ini berani tanpa memiliki kejujuran tidak akan membawa Undip pada sebuah perubahan.

Baca Selengkapnya......

Sabtu, September 06, 2014

FIB Undip Ajak Mahasiswa Baru Bangga Berbudaya

Susana Pentas Apresiasi Seni Mahasiswa Ilmu Budaya 2014


Tembalang- Hari terakhir Pendidikan Karakter, FIB Undip gelar acara bertajuk “Pentas Apresiasi Seni Mahasiswa Baru FIB Undip 2014”. Acara ini merupakan serangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru FIB.  Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, acara kali ini dilaksanakan di luar ruang kelas, tepatnya di area Parkir Timur FIB.

Selain acara pentas seni, digelar pula lomba-lomba permainan tradisional, seperti transfer air, transfer refleks, gobak sodor, balap karung, dan permainan-permainan lainnya. Tujuannya menurut Dinar adalah untuk menguatkan rasa solidaritas antara mahasiswa baru tiap jurusan dan juga merupakan salah satu upaya untuk lebih mengenal jurusan-jurusan lain di FIB.

Di samping acara pentas seni dan lomba permainan tradisional, dibuka pula stan yang diisi oleh Lembaga Kegiatan Mahasiswa FIB yang terdiri dari HMJ, UKM, HMPSD, BEM dan Senat Mahasiswa. “Tahun ini memang diadakan stan, supaya UKM-HM itu bisa lebih dekat lagi secara tatap mata, tidak lewat dunia maya”, ujar Dinar Fitra Maghisa selaku Presiden BEM FIB, Sabtu (6/9/2014) kepada tim Hayamwuruk. Lebih lanjut, Mahasiswa Ilmu Sejarah 2011 ini menjelaskan diadakannya stan ini baru tahun pertama dan merupakann inisiatif dari BEM dan LKM untuk memanfaatkan celah-celah kosong. “Kita ada celah kosong, dari pada kosong dan hanya nyayi-nyanyi biasa, kita ada stan-stan para UKM-HMJ seperti itu” katanya
Dini mahasiswa baru Sastra Inggris mengaku bahwa acara pentas seni ini menarik, terlebih dengan penampilan-penampilan budaya yang dibawakan oleh mahasiswa baru. Namun ia juga mengeluhkan perihal lokasi yang ada di luar kelas. “Acaranya sih udah keren. Tapi lokasinya panas banget, jadi kita sebagai penonton kurang semangat gitu kalau kepanasan.”

Pembantu Dekan III FIB, Mujid Farihul Amin,  menjelaskan bahwa konsep pentas seni dipilih untuk menampilkan karakter dari FIB sendiri sebagai Kampus Budaya. “Karena kita kan namanya juga Fakultas Ilmu Buadaya. Jadi selain kita harus melestarikan kebudayaan yang meliputi bukan hanya budaya dalam artian kesenian, kita juga ada permainan tradisional. Setelah permainan tradisional juga ada kesenian yang dari berbagai daerah dan juga ada seni yang lain”, ujarnya.

Lelaki berkacamata ini juga menuturkan bahwa acara ini lebih meriah dari tahun sebelumnya. Namun dia juga menyayangkan kendala teknis yaitu padamnya listrik dan cuaca yang kurang mendukung, sehingga sempat mengganggu jalannya acara. Meski demikian acara tetap berjalan lancar karena antusiasme yang tinggi dari mahasiswa baru.   


Acara pentas seni dimulai dari mulai pukul 10.00-16.00 WIB. Dan di akhir acara nanti juga akan diadakan Closing Ceremony

Baca Selengkapnya......

Selasa, Juli 08, 2014

FIB Memilih Dekan

Oleh : Nurul M.W. Zain
Reporter : Reza Mustafa, Deviana K.,





















Bila waktu adalah rangkaian titik, inilah saat yang menjadi titik-titik akhir masa kepemimpinan Birokrasi setiap fakultas di Universitas Diponegoro (Undip), sebelum akhirnya dilakukan pergantian. Hal ini merujuk pada Surat Keputusan (SK) Rektor No. I Tahun 2010 tentang tata cara pemilihan pimpinan Undip dan Pimpinan fakultas di Undip, yakni pada Pasal 15 yang berbunyi “Pengusulan pengangkatan Dekan didasarkan pada hasil pemilihan dan pemberian pertimbangan Senat Fakultas.” didukung Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi “Pemilihan dan pemberian pertimbangan serta penetapan nama calon Dekan dilakukan melalui rapat Senat Fakultas yang khusus untuk maksud tersebut selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum masa tugas Dekan berakhir.”

“Dalam kepanitiaan Pildek ada ketua, sekretaris, dan lima Orang anggota, Saya sebagai ketua, dan Bu Yaning sebagai Sekrataris”, Papar Yety Rochwulaningsih saat ditemui tengah bersama Sukarni Suryaningsih di ruang Pusat Studi Asia (PSA) Gedung B FIB. Lebih lanjut wanita berambut pendek ini menjelaskan bahwa lima orang yang menjadi anggota adalah Prof. Iriyanto Widisuseno, M. Hum., Drs. Muhammad Muzakka, M. Hum., Dra. Rukiyah, M. Hum., Dr. Alamsyah, S.S., M. Hum., dan dari Kepala Tata Usaha ada Tri Wardoyo.”
Saat kami konfirmasi mengenai persiapan Pildek beliau menjawab persiapannya baru sampai pada tahap pemilihan anggota, rencananya bulan Juli minggu pertama akan diselenggarakan rapat panitia guna menentukan hal-hal yang terkait Pildek. Yety juga menuturkan persyaratan menjadi calon dekan yang paling utama adalah sudah mempunyai pengalaman struktural sebagai Ketua atau Sekretaris Jurusan/Prodi, kemudian jabatan fungsional minimal Lektor Kepala, pada saat mendaftar menjadi Balon (Bakal Calon) Dekan, usianya belum mencapai 60 tahun, masalah pendidikan pihak Universitas belum mensahkan, tetapi dalam statuta perguruan tinggi sudah ada rencana pendidikan minimal Strata 3. Ketika ditanya harapan ke depannya, Yety dan Yaning berharap dekan yang kelak terpilih dapat membawa fakultas ke jenjang yang lebih baik, dan punya rasa keberpihakan terhadap yang dipimpin.
Iriyanto Widisuseno,  Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Bahasa Jepang menyampaikan penjelasannya mengenai mekanisme pemilihan Dekan FIB saat Tim magang Hayamwuruk (Hawe) temui di kantornya. Iriyanto menuturkan mekanisme Pemilihan Dekan (Pildek) mengacu pada tradisi Universitas dan fakultas, yakni yang pertama dilakukan adalah penyusunan Tim panitia pemilihan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjaringan siapa yang mau mencalonkan. Iriyanto juga menambahkan kriteria Dekan harus mencakup dua aspek, yaitu aspek akademis dan aspek non akademis. Aspek akademis sendiri dilihat dari standar minimal jenjang pendidikan, sedangkan aspek non akademis ditinjau dari integritas moral.

Rukiyah, Salah satu anggota panitia memaparkan, Pildek dilaksanakan setiap bulan Agustus, anggotanya berjumlah minimal lima orang, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan selebihnya menjadi anggota. Ketua dan Sekretarisnya harus berasal dari Senat Fakultas, sedangkan anggotanya diambil dari Senat Fakultas, Dosen, dan tenaga pendidikan. Rukiyah menambahkan setelah Balon dekan mencalonkan diri dan dipilih oleh Senat Fakultas, lalu yang terpilih mensosialisasikan visi dan misinya.

Mekanisme Pildek yang diselenggarakan FIB tak jauh berbeda dengan Fakultas lain. “Karena memakai Undang-Undang (UU) yang sama, maka setiap fakultas sistemnya sama.” Demikian menurut Ngadiwiyana selaku Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Sains dan Matematika (FSM). Beliau mengungkapkan Dekan merupakan Idol yang pasti bisa mengembangkan fakultas, selain itu juga harus sejalan dengan Visi dan Misi Undip, sehingga sinkron dengan Universitas. Ngadiwiyana berharap untuk Dekan yang terpilih kelak bisa menjadi Top Leader di masing-masing fakultas, dan tidak sekadar menjadi pimpinan, tetapi benar-benar bisa mengoptimalkan sumber daya dan mengembangkan semua yang bisa dikembangkan. Dosen, Karyawan dan Mahasiswanya diberi ruang untuk berkembang. Beliau juga berpendapat, bahwa Mahasiswa tidak perlu turut serta dalam Pildek maksudnya disini yang penting bukan fisiknya yang langsung memilih, tetapi bagaimana  aspirasi Mahasiswa bisa masuk ke sana, karena dalam aturan Mahasiswa tidak bisa.

Suharyo, selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia berpendapat, mengenai mekanisme Pildek di FIB sudah merujuk terhadap aturan yang sudah ada. Tetapi, ketika beliau ditanya mengenai peranan mahasiswa dalam Pildek, Lelaki berkumis ini menuturkan, secara normatif mahasiswa belum bisa memilih secara langsung, karena dalam aturan yang sudah ada tadi, dekan hanya dipilih oleh anggota senat fakultas. Walaupun begitu, pihaknya cenderung senang jika melibatkan Civitas akademika, karena tingkat legitimasinya akan semakin kuat dibanding jika hanya dari anggota senat fakultas.

Belum semua mahasiswa FIB mengetahui perihal Pildek yang akan dilaksanakan akhir tahun ini, Andre findy misalnya, Mahasiswa S1 Sastra Indonesia 2013. “Kurang paham, saya kurang mengetahui tentang permasalahan ini, tapi saya berharap dekan yang akan terpilih nanti lebih bisa transparan terhadap lingkungan kampus, dan dapat merangkul mahasiswa, itu saja sudah cukup.”, ungkap Andre. Dirinya juga berharap mahasiswa bisa terlibat dalam mekanisme Pildek kelak.

Jika menilik ulang makna yang terkandung dalam SK Rektor di atas, mahasiswa memang tidak dapat terlibat secara langsung dalam Pildek. Namun mahasiswa diharapkan untuk tidak berpangku tangan menunggu keputusan saja. Mahasiswa harus terus menyuarakan aspirasinya agar sampai ke telinga pemegang birokrasi kampus. Bukanlah suatu kemustahilan jika aspirasi mahasiswa dapat berpengaruh dan mempunyai andil yang besar dalam Pildek kali ini.***

Baca Selengkapnya......

Kamis, Juni 26, 2014

Sabung Ayam; Tradisi atau Judi?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Elly R., Kaesthi






Kota Lama, Semarang (27/4),Suasana terik tak membuat kami gentar untuk menyusuri Kota Lama yang terkenal dengan banyak sejarah. Gedung-gedung putih yang tak terurus dan merupakan peninggalan Belanda itu menyisakan banyak cerita dan budaya. Salah satunya di sudut jalan dekat Gereja Blenduk tampak ramai dengan lalu lalang orang yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki.
Awalnya kami ragu-ragu untuk mendatangi kerumunan itu. Namun setelah bertemu dengan Muhyan (50) seorang petugas parkir, keragu-raguan kami menghilang.Ternyata keramaian di sana dikarenakan orang-orang yang tengah melestarikan budaya Ciung Wanara (sabung ayam).
Budaya Ciung Wanara ini bermula dari sebuah legenda di Kerajaan Galuh. Walaupun kebudayaan ini bukan berasal dari Semarang namun tradisi ini masih berlangsung hingga kini.  Muhyan (50) memaparkan bahwa adu ayam ini selain untuk melestarikan budaya juga merupakan hobi yang bisa menyegarkan pikiran setelah penat bekerja seminggu penuh. Maka tak heran jika setiap hari Minggu adalah hari yang paling ramai dikunjungi pemain dan juga penonton serta penjual, dimulai dari pagi hari hingga jam lima sore. Biasanya waktu paling ramai adalah ketika jam sebelas siang. Penonton tidak  hanya dari Kota Semarang saja tapi juga banyak dari kota lain di Jawa Tengah.
Untuk kriteria ayam yang sering diadu, Kristianto (34), seorang penjual ayam mengatakan bahwa ayam jago adalah ayam yang paling digemari oleh pemain. Harga ayam berkisar antara Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000. Harga ayam akan lebih tinggi jika ayam tersebut selalu menang. Kristianto menjelaskan bahwa ia bisa menjual 20-25 ekor ayam dalam sehari. Ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap sabung ayam relatif tinggi.
Haryono (61) penonton, mengatakan bahwa  dia ikut menonton sabung ayam ini dikarenakan hobi. Banyak orang mengira bahwa Ciung Wanara ini seperti judi dan dipandang sebelah mata. Menurutnya ayam ditandingkan di sini hanya untuk percobaan saja dan untuk menyalurkan hobi, bukan untuk judi.
Ketika kami mencari informasi lebih lanjut, banyak narasumber yang enggan memberikan informasi. Bahkan saat kami mewawancarai Kristianto, Lelaki be berkata “Ini nggak diekspos kan?” berbeda dengan pemaparan yang diuraikan Muhyan (50), “Sekarang ini banyak kebudayaan kita yang dianggap seperti gimana, padahal budaya itu harus dilestarikan, kayak di Jawa Barat adu domba. Itu mereka dilindungi, jadi itu tergantung lingkungan. Karena disini tidak mengganggu maka tidak pernah ada polisi yang datang”.
Dari dua pemaparan  mengenai sabung ayam ini maka kami kembalikan lagi pada pembaca. Apakah sabung ayam ini benar-benar sebuah tradisi turun-temurun atau menjadi sebuah ajang perjudian?***





Baca Selengkapnya......

KOSTI; Bernostalgia dengan Onthel


Oleh : Deviana K.
Reporter : Shofiana, Rohmad








Semarang, Minggu (27/4),Waktu menunjukkan pukul 09.45 pagi ketika kami, peserta magang madya Hayamwuruk sampai di Kota Lama. Kemudian kami mengunjungi taman yang terletak di sebelah gereja Blenduk. Suasana di sana terlihat sangat ramai dengan adanya Pasar Klithikan yang menjual barang-barang antik di samping timur.
Sesampainya di taman, perhatian kami langsung tertuju pada kumpulan orang yang mengenakan pakaian zaman dulu seperti pada masa penjajahan. Ada yang memakai seragam kompeni, tentara Jepang, bahkan pakaian ala pribumi seperti kebaya. Saat kami menghampiri dan menemui salah satu dari mereka, ternyata mereka adalah Komunitas Sepeda Onthel Semarang.
Kami berkesempatan menemui ketua komunitas, Fauzi, yang saat itu mengenakan kostum tentara Sekutu. Komunitas yang kami temui ini berada di bawah naungan KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). “Kalau yang di Jakarta itu KOSTI Pusat, kalau yang ada di Jawa Tengah atau Jawa Timur itu KOSTI Provinsi. Kalau KOSTI yang di Semarang itu KOSTI Perwil Semarang yang menaungi tujuh sampai delapan komunitas sepeda onthel di Semarang,” ungkapnya.
Komunitas ini dibentuk dengan tujuan melestarikan eksistensi sepeda onthel sekaligus mengenang masa-masa perjuangan yang diwujudkan dalam bentuk komunitas onthel. Kegiatan ini diharap mampu  menghidupkan kembali kecintaan terhadap sepeda onthel khususnya di daerah Semarang.
KOSTI Semarang didirikan tahun 2010, tepatnya pada saat Festival Kota Lama I. Walau tergolong baru, pada tahun keemapatnya komunitas tersebut telah memiliki 300-400 anggota. Anggotanya terdiri dari pelbagai kalangan baik muda maupun tua. “Kami tidak berasal dari kalangan tertentu, tidak membedakan tua atau muda apalagi kasta-kastaan. Lihat saja di sana ada yang masih muda dan bahkan tua sekalipun,” kata Fauzi sembari menunjuk ke arah anggota-anggotanya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KOSTI Semarang meliputi kegiatan touring seminggu sekali yang dimulai dari kawasan Simpang Lima. Selain itu, ada juga event yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali dengan touring ke berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Purwodadi, Grobogan, dsb. Komunitas ini juga sering berpartisipasi dalam berbagai acara di kota Semarang,  seperti dalam Festival Kota Lama yang diselenggarakan oleh Oen Foundation. KOSTI juga sempat diundang pada salah satu acara  AIESEC  UNDIP.
Dalam melakukan kegiatan, mereka selalu memakai pakaian zaman perjuangan dulu. Menurut penuturan Fauzi, hal itu merupakan  sebuah kebanggaan terhadap warisan budaya, Meskipun terbilang mahal, mereka tetap mengenakan pakaian tersebut. “Kostum yang kayak gini aja delapan ratus ribu lho.” tutur beliau sambil menunjuk kostum yang dikenakan.
Siapapun boleh bergabung dengan komunitas ini  tetapi dengan syarat harus memiliki sepeda onthel terlebih dahulu. Jika sudah memiliki sepeda maka dapat bergabug dalam event-event KOSTI yang diadakan rutin seminggu sekali, di tempat-tempat yang telah disepakati. Bagi yang ingin bergabung dapat mendatangi kantor sekretariat KOSTI di daerah Suyudono, Semarang.
Selain Fauzi, terdapat wisatawan lain yang berkunjung ke Kota Lama. Supardi, wisatawan asal Tlogosari berkomentar mengenai keberadaan KOSTI Semarang. Ia mendukung adanya komunitas ini karena bisa melestarikan warisan masa lampau. “Ya, bisa nostalgia dan mengenang kembali zaman-zaman perjuangan.” Ia juga mengaku memiliki sepeda tapi bukan onthel. “Saya punya sepeda, tapi bukan onthel melainkan sepeda biasa,” ungkapnya sambil tertawa.
Lain lagi dengan Novi, wisatawan asal Pedurungan. Ia tidak begitu tahu tentang KOSTI tapi ia mendukung pula keberadaan komunitas ini. “Mereka disini, ya, ngumpul-ngumpul sesama penyuka barang antik. Saya mendukung komunitas ini karena saya sendiri juga suka barang-barang klasik,” tuturnya. ***

Baca Selengkapnya......

Minggu, Juni 22, 2014

Gandeng Pol-Tracking Institut, Sospol BEM KM Selenggarakan “Bedah Visi-Misi Capres-Cawapres 2014”

Oleh : Hendra Friana









Rabu pagi (18/6) halaman parkir gedung Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum (LPPU) Undip terlihat ramai oleh kendaraan. Beberapa mahasiswa terlihat mengantri di pintu masuk aula utama gedung LPPU Undip, untuk mengikuti acara bedah visi-misi dan rekam jejak Capres dan Cawapres 2014. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Sosial-Politik (Sospol) BEM KM Undip, bekerja sama dengan Political-Tracking Institute.  Meskipun sempat tertunda selama dua hari karena kendala teknis, acara tersebut tidak kehilangan antusiasme dari kalangan mahasiswa Universitas Diponegoro. Terlihat dari hampir penuhnya bangku-bangku yang disediakan oleh panitia.

Acara yang mengangkat tema “Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan Yang Bersih, dan Kepastian Hukum” ini dimoderatori oleh Hanta Yuda A.R selaku Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute dan menghadirkan perwakilan tim pemenangan dari masing-masing Capres-Cawapres 2014. Dari kubu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yaitu Tanto Wiyahya sedangkan dari kubu Joko Widodo dan Jusuf kalla yaitu Ferry Mursidan Baldan. Selain itu, hadir pula ketiga panelis, yang akan menguji pendalaman visi-misi masing-masing kubu, yaitu: Drs. Warsito, Pembantu Rektor III; Prof. Suteki, Guru Besar Fakultas Hukum Undip; dan Taufik Aulia Rahmat, Presiden BEM KM Undip.

Dalam sambutannya Hanta Yuda mengatakan, Berdasarkan survei yang dilakukan Pol-Tracking Institute, informasi yang paling penting dibutuhkan masyarakat yang pertama adalah visi, misi dan program kerja kedua pasangan Capres dan Cawapres secara detail dengan persentase 36%, disusul dengan rekam jejak kedua pasangan Capres dan Cawapres sebesar 35%, dan yang lainnya seperti latar belakang keluarga dan partai pengusung dibawah 20%. Oleh karena itu, Poltracking Institute bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia mengadakan acara bedah visi-misi dan rekam jejak Capres dan Cawapres 2014. Ia juga berpendapat jika debat capres dan cawapres diselenggarakan di perguruan-perguruan tinggi Indonesia dan diuji oleh pakar-pakar, guru besar dan mahasiswa yang ada maka jalannya debat mungkin dinamikanya akan jauh lebih menarik ketimbang yang ada sekarang ini.
Acara ini dibagi menjadi lima sesi. Pertama, penyampaian visi dan misi oleh kedua perwakilan timses; kedua, pendalaman materi dari moderator kepada kedua perwakilan timses; ketiga, pertanyaan panelis terhadapa kedua perwakilan timses; keempat, sesi tanya jawab antar perwakilan timses; dan kelima tanya jawab antar peserta acara dengan perwakilan timses.

Hanta Yuda selaku moderator melontarkan pertanyaan untuk mengupas lebih dalam visi dan misi dari masing-masing kubu untuk memilihi mana yang lebih utama antara demokrasi dengan kesejahteraan.
Ferry dari kubu Jokowi dengan tegas mengatakan kesejahteraan yang lebih utama. “Kesejahteraan! sejahtera menimbulkan sikap yang demokratis, toleran, peduli dan suka menolong orang lain” ujarnya.
“Definisi dari sejahtera adalah rakyat ketika kebutuhan sandang, pangan dan papan terpenuhi plus ada tabungan sehingga mereka bisa berpergian, berkreasi dan berekreasi. Indonesia melalui prabowo hatta ingin menggunakan demokrasi untuk mencapai kesejahteraan, dan yang kami inginkan adalah rakyat sejahtera dan hatinya bahagia tidak ada tekanan, tidak ada hak-hak yang diambil”, timpal Tantowi Yahya.
Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh ketiga panelis terkait pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih dan kepastian hukum pada sesi kedua. Di sela pemaparannya tentang Politik transaksional dan kedaulatan ekonomi kontrak kerja dan bagi hasil, Tantowi menjelaskan tentang masalah renegosiasi terhadap kontrak bagi hasil dengan perusahan-perusahaan pertambangan yang telah disepakati namun kurang menguntungkan bagi masyarakat. Ia mengatakan bahwa kontrak atau agreement bukanlah Al-Quran yang tidak dapat diubah. Karena kontrak merupakan kesepakatan antara dua pihak, kalau pihak yang melakukan kontrak dengan kita berpikir bahwa setuju untuk melakukan renegosiasi demi menjaga hubungan baik, maka tidak ada yang salah dengan itu. Itulah yang akan dilakukan prabowo-hatta dalam rangka memperkuat kedaulatan ekonomi jika terpilih pada 9 juli mendatang.

Sedangkan dari kubu Jokowi-JK, Ferry memaparkan bahwa revolusi mental adalah kebutuhan kita pada saat ini, karena hanya dengan revolusi mental kita bisa mengatasi problema kita yang makin lama makin akut yaitu korupsi. Dan hal tersebut telah dimulai oleh Jokowi saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta yaitu dengan sistem “lelang jabatan”. Menurutnya, hal ini merupakan langkah awal yang telah dilakukan oleh pak Jokowi dalam mencegah politik transaksional.

Taufik Aulia Rahmat ketua BEM KM Undip yang juga menjadi salah satu panelis memanfaatkan kesempatan pada sesi ini untuk menantang perwakilan dari kedua kandidat berjanji jika nanti salah satu kandidat telah terpilih menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia untuk mau berdiskusi dengan mahasiswa dalam masa pemerintahan. Tantangan tersebut kemudian dijjawab tegas oleh kedua kubu. “Siap” kata Tantowi dan “no problem, kami memang membutukan itu” ujar Ferry. Tentunya hal ini disambut dengan gegap-gempita oleh tepuk tangan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut.

Di sesi Tanya Jawab antara peserta dengan perwakilan timses, pertanyaan terkait isu investasi asing yang memasuki pemilu di Indonesia digulirkan oleh salah satu mahasiswi Ilmu Pemerintahan Undip. Ferry menjelaskan bahwa mungkin saja itu terjadi. Tapi menurutnya dengan Nasionalisme pada kubu masing-masing Capres dan Cawapres  hal-hal seperti itu dapat ditangkal. Sedangkan Tantowi mengutip ungkapan bungkarno “yang tidak dicintai oleh Negara asing karena dia akan menyelamatkanmu, jangan pilih presiden yang disukai asing karena justru dia yang akan memperdayaimu”. Menurutnya adanya upaya-upaya yang dilakukan pihak asing melalui lembaga-lembaga survey dan LSM-LSM asing terntentu untuk menurunkan dan menghalangi elektabilitas Prabowo karena mereka takut jika Indonesia dipimpin oleh Pemimpin yang kuat, tegas, berwawasan luas merekas sulit untuk berkreasi dalam mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia.

“Apakah anda sekalian tidak berpikir, Amerika dan Kanada yang mempunyai investasi besar Freeport dan New moon gugup jika yang menjadi presiden nanti Prabowo Subianto. Kita bukan sedang sekedar memilih kepala daerah yang cangkupan wilayahnya hanya 600km² tapi kita mencari presiden RI dengan penduduk 240 juta jiwa yang luas wilayahnya dan sumber daya alamnya luar biasa melimpah. oleh karena itu kita membutuhkan pemimpin negara yang kuat, interkreatif, berwawasan luas dan mengerti persolalan baik dalam maupun luar negeri”, Imbuhnya.

Di akhir acara para panelis mengingatkan perwakilan dari masing-masing timses untuk tetap memegang teguh komitmen yang telah mereka buat ketika salah satu capres dan cawapres yang mereka usung terpilih pada tanggal 9 Juli mendatang. Taufik Aulia Rahmat juga kembali mengingatkan kedua kubu untuk tidak mengekang gerakan mahasiswa dan janji mereka untuk mau duduk berdiskusi dengan mahasiswa jika salah satunya nanti telah terpilih menjadi presiden RI. “Siapapun yang akan terpilih nanti pada 9 juli mendatang, jangan pernah mengekang gerakan mahasiswa, karena semakin dikekang, semakin kuatlah kita. dan jangan lupa janji bapak-bapak ini untuk mau head to head berdiskusi dengan mahasiswa jika nanti terpilih disaksikan oleh ribuan pasang masa yang hadir di sini. Jangan sampai kepemimpinan bapak-bapak sekalian akan kami gulingkan kembali seperti yang terjadi tahun 1998”, ujarnya.

Yuda, salah satu peserta yang merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang mengaku tidak menyesal datang pada pagi itu dari Gunung Pati ke Tembalang. “Acaranya sangat bagus untuk mahasiswa, karena kan sekarang ini media-media suka tidak objekitf dalam menyiarkan berita, jadi acara seperti ini sangat penting untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kedua kandidat capres dan cawapres daplam memahami persoalan Negara. Dan benar kata mas Yuda tadi, kalau saja debat capres cawapres diadakan di kampus-kampus pasti akan lebih seru” imbuhnya.***

Baca Selengkapnya......

Senin, Juni 16, 2014

Penerus Bangsa: Korban Kekerasan Seksual, Pantaskah?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Listi Athifatul U.











Gedung  Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum (LPPU) yang biasanya tampak lengang itu terlihat  berbeda pada Kamis (12/06/2014) sekitar pukul 12.00 WIB. Banyak motor mahasiswa berjajar rapi di tempat parkir. Apabila diperhatikan lebih seksama di salah satu pohon yang tumbuh di dekat  tempat parkir terdapat tanda panah yang menunjukkan jalan agar para mahasiswa mengambil jalan lurus. Setelah berjalan kira-kira tiga ratus meter terdapat tanda panah yang kedua. Berbeda dengan penunjuk arah yang pertama, yang kedua ini mengarahkan para mahasiswa untuk berbelok ke arah kiri dan di ujung tangga  terdapat kertas bertuliskan diskusi panel di lantai tiga. Di lantai tiga sayap kiri gedung LPPU tengah berlangsung acara diskusi panel. Acara ini diawali dengan persembahan tari jawa yang kemudian dilanjutkan dengan tari saman dari daerah Nanggroe Aceh Darusalam. Kedua tari ini dibawakan para mahasiswa Sastra Indonesia, mengingat diskusi ini adalah salah satu kegiatan yang diadakan HMJ Sastra Indonesia atau KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia). Untuk tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah “Pemanfaatan Sastra Anak sebagai Media Untuk Penanggulangan Kekerasan Seksualitas Terhadap Anak.”

Dian Wahyu selaku ketua panitia menjelaskan bahwa acara ini  diselenggarakan bertepatan dengan peringatan hari Anak Nasional tanggal 1 Juni lalu. Ninik salah satu pembicara dari Seruni (Badan perlindungan Anak dan Wanita) menyampaikan bahwa definisi anak menurut hukum positif di Indonesia itu berbeda-beda. Jika bicara mengenai perkawinan, maka mengacu pada undang-undang no 1  tahun 74. Di mana perempuan dapat menikah pada umur enam belas tahun, dan laki-laki berumur sembilan belas tahun. Ketika mengacu pada UU pemilu, maka warga negara yang bisa menggunakan haknya untuk memilih adalah pada umur tujuh belas tahun. Namun jika membahas tentang hak anak maka akan mengacu pada undang-undang  perlindungan anak no 23 tahun 2002 yang dimaksud anak adalah anak-anak di bawah umur delapan belas tahun.

Dian wahyu juga menambahkan bahwa kekerasan seksual yang akhir-akhir ini marak terjadi tidak hanya menimpa anak-anak yang berada di kota Semarang.  Persoalan ini hampir menjadi kriminalitas nasional karena nyaris terjadi  di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja masalah JIS (Jakarta Internasial School), dan juga Emon yang memperkosa 100 anak-anak sebagai korbannya, kata Dian Wahyu menambahkan.

Untuk di daerah Semarang sendiri hal itu dibenarkan oleh Ninik bahwa dalam bulan Januari sampai bulan Juni terdapat 18 pengaduan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Empat di antaranya dilakukan oleh ayah tiri, satu anak dilakukan oleh ayah kandung, satu anak oleh tukang ojek, dan yang lainnya oleh kerabat dekat si anak.

Dini Ratrie Desi Ningrum salah satu dosen dari fakultas Psikologi yang juga menjadi pembicara menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena banyak anak-anak tidak memiliki pengetahuan tentang  anggota tubuh mereka sendiri. Selain itu pihak orang tua masih menganggap bahwa pengetahuan seksual, dalam kasus ini anggota tubuh anak mereka merupakan  hal yang tabu untuk dibicarakan. “Karena masih tabu, kenapa kita nggak manfaatin sastra saja untuk memberikan pengertian tersebut di benak anak-anak?” Kata Dian Wahyu lagi menyampaikan alasan kenapa diskusi panel ini diadakan.

U'Um Qomariyah pembicara yang ketiga dan merupakan dosen Sastra Indonesia Universitas Semarang juga menjelaskan bahwa, dengan sastra kita tidak perlu membayar mahal untuk mengetahui sesuatu. Contoh konkritnya adalah, untuk tahu bagaimana rasanya menjadi koban kekerasan seksual pada anak-anak, kita tidak perlu menjadi korbannya. Hanya dengan mengkonsumsi sastra, maka kita akan tahu. Sastra yang dimaksud di sini bukan hanya buku-buku yang harus dibaca melainkan juga video yang bisa dilihat. Maka hal ini bisa menjadi cara yang efektif untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang bagaimana menjaga diri. “Sastra itu kan menarik dan bermanfaat. Arti bermanfaat itu sangat luas, salah satunya ketika kita kaitkan dengan anak untuk mengatasi krisis moral dan untuk meningkatkan karakter anak, maka sastra bisa menjadi alternatif yang saya kira mempan” tambah U'um menambahkan.

Siti Metylasmita mahasiswa jurusan Pendidikan dan Sastra Indonesia, Universitas Semarang yang menghadiri acara diskusi panel ini mengatakan  “Tema yang diangkat ini fresh. Baru.  Apa ya? Saya juga perlu tahulah kan dulu saya juga pernah belajar sastra anak. Di diskusi ini saya pengen tahu selain kan kalau dulu sastra anak itu pasti lebih menjurus ke sastranya. Sastra yang diajarkan kepada anak-anak. Sastra yang boleh diajarkan kepada anak-anak itu yang bagaimana. Kalau di sini kan lebih luas lagi bahannya. Tentang pertumbuhan anaknya, psikologi anaknya. Apalagi kemarin kan ada kasus yang ada di JIS.  Jadinya kan keren banget temanya kalau kayak gini.”***

Baca Selengkapnya......

Minggu, Mei 11, 2014

SAYEMBARA TTS HAWE APRIL 2014

Baca Selengkapnya......