Kamis, Oktober 20, 2011

Indonesia, Raksasa yang Terlalu Lama Tidur


Oleh: Qur’anul Hidayat Idris

Lantunan lagu-lagu kebangsaan menggema di dalam Gedung Prof. Sudarto, S.H. Ratusan orang mulai mengisi deretan kursi berwarna biru yang telah ditata rapi. Sebuah baliho berukuran besar dipajang di belakang panggung, di depannya terdapat empat buah kursi bermeja panjang, membentuk pemandangan khas acara seminar. Saat lagu kebangsaan “Bangun Pemudi-Pemuda” keluar dari speaker, lebih dari setengah kursi di dalam gedung sudah terisi.

Pukul 09.10 WIB (17/10/11) dua MC mulai bersuara, menandakan dimulainya Seminar Nasional (seminas) dan Diskusi Kebangsaan “Berdiri di Atas Kaki Sendiri: Menggagas Format Ekonomi yang Pro Rakyat”. Acara yang diadakan oleh HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Sejarah dan HMPSDIII (Himpunan Mahasiswa Program Studi Diploma III) Kearsipan FIB Undip ini menghadirkan Rizal Ramli, Ph.D, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiono, M.Hum, dan Prof. Dr. Purbayu Budi Santosa, M.S sebagai pembicara.


Ketua Jurusan Sejarah, Endang Susilowati dalam kata sambutannya menjawab pertanyaan kenapa seminas dengan tema permasalahan ekonomi diadakan oleh Mahasiswa Sejarah? Menurutnya, mahasiswa dengan prodi tertentu tidak harus hanya memikirkan permasalahan seputar keilmuannya, “Kenapa Sejarah? Karena ini masalah umum yang harus diperhatikan mahasiswa secara umum, sebagai agent of change harus berkontribusi.” Ucap dosen yang juga mengampu mata kuliah Bahasa Belanda ini dengan suara lembut.

Setelah sambutan dari Mujid Farihul Amin selaku PD III FIB Undip, ruangan disesaki lantunan suara akustik dari History Band yang membawakan dua buah lagu kebangsaan, “Tanah Air” dan “Berkibarlah Benderaku”. Dua lagu kebangsaan ini cukup menyegarkan kembali ingatan akan nasionalisme. Untuk menyeimbangkan suasana, diakhir tampilan dibawakan lagu “Kasih Tak Sampai” dari Padi.

Diskusi panel langsung menghadirkan tiga orang pembicara ke atas panggung. Singgih Tri Sulistiono bertindak sebagai pembicara pertama. Guru Besar prodi Sejarah ini, memfokuskan materi pada wilayah historis perekonomian Indonesia dari masa ke masa. Dalam slide yang ditampilkan, ia mempertanyakan apakah ekonomi pro rakyat sudah pernah diterapkan dalam sistem-sistem pemerintahan di Indonesia, baik dalam sistem tradisional maupun yang lebih modern dalam bentuk pemerintahan negara.

Sebelum menjelaskan lebih jauh, pria asli Blora ini menerangkan perspektif kata “rakyat” dari berbagai paham. Kolonialisme memahami rakyat sebagai wong cilk (orang kecil) dan para pemimpin sebagai wong gedhe (orang besar). Pemahaman inilah yang membuat kaum kolonial selalu memperlakukan inlander (rakyat pribumi) sebagai komoditas yang mendukung kesuksesan penjajahannya. Rakyat dimanfaatkan sebagai budak yang menjadi “sapi perah” memuluskan tujuan mereka.

“Hegemoni kultural membuat rasa minder tertanam pada masyarakat kita!” Singgih menyinggung masalah tekanan budaya yang diwariskan kaum kolonial. Rasa minder itu terwujud dari sikap mengangungkan pemimpin dan takut bersuara jika pemimpinnya melakukan tindakan semena-mena.
Kaum sosialis beda lagi, mereka membuat pendikotomian yang antagonistik. Para sosialis menginginkan penegakan keadilan sosial secara benar-benar dan dapat dinikmati hingga ke lapisan yang paling bawah. Untuk mencapainya, mereka melakukan dengan cara-cara yang antagonis atau terbilang keras. Bagi mereka, rakyat adalah subjek yang harus dilayani oleh negara secara penuh.

Setelah membahas bentuk pemerintahan dari masa sebelum datangnya agama Hindu sampai lahirnya reformasi, Singgih menyimpulkan kalau tidak ada pemerintahan yang benar-benar pro rakyat. Politik kepentingan pribadi maupun kelompok, lebih mendominasi dalam menjalankan roda pemerintahan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada juga raja-raja atau pemimpin pemerintahan tradisional yang menerapkan sistem ini sebelumnya.

Singgih menyudahi presentasinya setelah menghabiskan waktu 23 menit, lebih 3 menit dari waktu yang telah diberikan oleh moderator. Rizal Ramli bertindak sebagai pembicara kedua. Jika pembicara pertama tetap duduk di kursinya, Rizal Ramli memilih menaiki podium yang terdapat di atas panggung. “Tadi malam saya tidurnya jam tiga pagi karena membaca buku, jadi saya berdiri saja biar gak ngantuk!” tukasnya mengawali presentasi.

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian (Agustus 2000-Juni 2001) dibawah kepresidenan Abdurrahman Wahid ini, melanjutkan presentasi dengan menampilkan data perkembangan perekonomian beberapa negara Asia. Dengan suara lantang ia mengatakan bahwa pada abad ke-19 merupakan era Inggris dengan penguasaan ekonominya. Abad 20 merupakan eranya Amerika Serikat. Sekarang, abad 21 merupakan masanya negara Asia yang menguasai perekenomian dunia, ia menyebutnya dengan istilah Asian Centric.

Ungkapan itu beralasan, Rizal Ramli menyebutkan kalau raksasa Asia telah muncul ke permukaan dan bertransformasi menjadi penguasa ekonomi dunia. “Dalam waktu 15 tahun, China bisa bangkit dan Jepang bangkit dalam waktu 25 Tahun. “Pria yang lahir pada 10 Desember 1953 ini juga menyinggung Malaysia yang secara realistis dapat kita akui sebagai salah satu negara yang perkembangan ekonominya berlangsung pesat. Kemajuan perekonomian Malaysia menurutnya tidak lepas dari pengelolaan tangan dingin Perdana Menteri Mahadir Muhammad.

Lalu bagaimana posisi Indonesia di bidang perekonomian? Rizal Ramli menjawab tegas, “Indonesia sesungguhnya sudah menjadi raksasa, tapi raksasa yang terlalu lama tidur!” Pernyataan ini mempunyai efek yang besar. Peserta seminas lantas bersorak dan bertepuk tangan mendengar ironisasi negaranya yang tak mampu memperbaiki perekonomiannya setelah lebih dari setengah abad merdeka.

Keakraban dengan paham ekonomi neoliberal telah membuat kekayaan yang melimpah tak bisa dinikmati rakyat secara langsug. Paham yang berlandaskan pasar bebas itu telah membuat Freeport, dan banyak ladang minyak dikeruk oleh pihak asing yang menyisakan sebagian sangat kecil saja untuk negara. Bahkan, rakyat di sekitar industri tidak dapat menikmati untuk – setidaknya - menjadi pekerja di sana. Belum lagi korupsi birokrasi telah membuat pihak-pihak luar lewat Bank Dunia dan IMF tak segan memberi syarat peminjaman sejumlah uang dengan penggantian beberapa UU penting, tentu saja berkaitan regulasi yang memuluskan jalan masuk penguasaan perekonomian Indonesia.

“Jika terus seperti ini, Indonesia tidak akan jadi next China, Jepang, ataupun Korea, tapi akan jadi next Filipina!” Peserta yang bertepuk tangan langsung terhenti ketika ia melanjutkan ucapannya. “Jangan malah bangga, Filipina itu negara yang telah menjadi sampel neoliberalisme yang berhasil.” Sebelum menutup presentasi sebuah kalimat ampuh meluncur dari mulutnya. “Mahasiswa tidak hanya belajar sejarah, tapi harus menciptakan sejarah!” Ia menuju tempat duduknya diiringi tepuk tangan.

Presentasi dilanjutkan, kini giliran Purbayu Budi Santosa yang tetap duduk di tempatnya. Dosen FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) Undip ini mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah menjadi sasaran empuk bagi negara adikuasa. “Caranya, dikasih utang, lalu diminta alamnya!” jelas pria yang sewaktu mahasiswa membuat skripsi setebal 600 halaman itu, disambut perasaan kesal di wajah peserta.

Krisis kepemimpinan di Indonesia sudah berlangsung lama, sampai sekarang Indonesia belum menemukan pemimpin yang tidak hanya bisa menjalankan negara, tapi memiliki visi yang dapat merubah fakta-fakta yang masih buruk. Budaya paternalistik juga berpengaruh terhadap kemandirian masyarakat Indonesia. Karena terlalu bergantung dengan pemimpinnya, berakibat matinya kreatifitas untuk berkembang.

Saat ditemui setelah acara seminas berakhir, Akmal Saputra, mahasiswa Prodi Sejarah yang bertindak sebagai ketua panitia mengatakan, salah satu tujuan dari seminas adalah ajang unjuk gigi mahasiswa Prodi Sejarah, bahwa mereka mampu menyelenggarakan acara besar. “HMJ Sejarah sudah lama tidur. Kami dan Kearsipan ingin bangkit, diadakanlah acara seminar nasional ini!”

Baca berita terkait lainnya:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silakan sampaikan komentar anda. ini adalah forum bebas tapi bertanggungjawab. komentar tidak dimoderasi, namun jika ada komentar yang "spam" akan dihapus kemudian. terima kasih.